Gereja Menyapa Lewat Warung Broto

Pasangan suami-istri Yusuf masing-masing berprofesi sebagai tukang pijat dan tukang becak tercatat memiliki tabungan 7 juta rupiah. Uang sebesar itu pasti sangat berarti keluarga mereka. Pasutri ini sudah dua tahun ini menjadi anggota Paguyuban Warung Broto.

Warung Broto yang dikelola Sie Sosial Paroki HKY ini didirikan 30 tahun lalu berkat ide romo Rekso Subroto, CM. yang kala itu pastor paroki. Di awal berdirinya, Warung Broto memang dikehendaki sebagai  warung makan khusus untuk kaum marginal (terpinggirkan) seperti tukang becak, pemulung, dll. dengan harga “miring”. Dalam perkembangannya, dibentuklah Paguyuban Warung Broto yang juga menyimpan uang tabungan para anggotanya.

Hingga kini tercatat 150 anggota dari kalangan kaum marginal dan 50 anggota dari karyawan Keuskupan dan Paroki HKY. Warung ini memakai pos satpam Wisma Pastoral jalan Majapahit 38 B setiap Senin, Rabu dan Jumat pukul 07.00 hingga pukul 09.00.

“Ke depan, tempat ini perlu dikembangkan karena yang dilayani Paguyuban semakin banyak. Dengan tempat yang kondusif, ibu-ibu Seksos mungkin bisa lebih sering ngobrol dengan anggota Paguyuban,” ujar Imelda Chrisianti koordinator Paguyuban Warung Broto dan koordinator Sie Sosial Paroki HKY.

Setiap hari Warung Broto menyediakan 160 porsi makan dan minum. Yang melayani para pengunjung adalah ibu-ibu Seksos dari 6 Wilayah di Paroki HKY. Beberapa komunitas ikut membantu melayani seperti Wanita Katolik RI (WKRI), Paguyuban Lansia dan Komunitas Bunda Kudus.

Harga jual dibedakan antara anggota dari kaum marginal dan anggota umum. Untuk kaum marginal, seporsi harganya 1000 rupiah dan langsung dipotong 250 rupiah untuk masuk tabungan mereka. Untuk anggota umum, harga seporsi 2000 rupiah. Setiap tahun menjelang hari raya Idul Fitri, uang tabungan akan diserahkan

kembali ke anggota lengkap dengan bunganya.

Sejak beberapa tahun terakhir ini ada tradisi unik. Anggota Paguyuban yang memiliki catatan khusus seperti keanggotaan terlama atau jumlah tabungan terbanyak akan diundang dalam acara Buka Bersama Ibu Sinta Nuriyah (istri alm. Gus Dur) yang rutin diadakan oleh Paroki HKY tiap tahun.

Pada Januari 2009, profil Warung Broto pernah ditampilkan di majalah Paroki HKY “Benedizione”. Saat itu tercatat anggota Paguyuban sebanyak 70 orang. Jumlah ini meningkat 100% lebih pada data keanggotaan terbaru bulan ini. Peningkatan dua kali lipat jumlah anggota yang dilayani ini tak lepas dari usaha dan upaya dari Tim Kerja Seksos Paroki HKY. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah membuka tabungan untuk anggota sejak Januari 2009.

“Saya mewakili Seksos Paroki HKY mengundang ibu-ibu umat paroki dan komunitas-komunitas lain untuk turut membantu pengelolaan Warung Broto ini. Kami juga terbuka untuk donatur yang mau menyumbang makanan atau relawan yang menyumbang tenaga,” lanjut Imelda.

Spiritualitas yang dihayati Imelda dalam mengkoordinir pengelolaan Warung Broto selama tiga tahun lebih ini adalah “mengasihi sesama”. Imelda lalu bercerita tentang seorang pemulung perempuan bernama ibu Munik yang sekarang ikut membantu sebagai tenaga cuci piring di Warung Broto. “Wujud lain dari mengasihi sesama itu adalah selalu murah senyum dalam melayani. Ini yang selalu saya ingatkan ke ibu-ibu Seksos yang membantu di sini,” kata Imelda mengakhiri obrolan pagi itu.

Sapaan kasih dan solidaritas Gereja dapat dirasakan dalam berbagai wujud. Warung Broto adalah salah satunya.

Oleh : Yudhit Ciphardian

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.