Homili Uskup Semarang Melek Gender Dan Paham Neoliberalisme

Minggu, 17 September 2006

Homili Uskup Semarang
Melek Gender Dan Paham Neoliberalisme

Selain arsitektur gedung Gereja yang mewah dan indah serta suasana misa yang sakral dan khusyuk, upacara tahbisan dua belas imam baru Keuskupan Surabaya yang berlangsung di Gereja St. Yakobus pada Rabu 31 Agustus 2006 lalu juga menampilkan sosok Uskup Semarang dengan homili yang menawan.


Bersama selebran lainnya yaitu Administrator Keuskupan Surabaya Rm Julius Haryanto, CM dan Provinsialat CM Surabaya Rm Sad Budi, CM, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. memimpin upacara tahbisan yang diikuti ribuan umat dengan sebuah homili yang pantas direnungkan.
Sapaan Uskup Haryo selama homili itu bukan sapaan yang biasa, “ibu-ibu dan bapak-bapak, saudari-saudari dan saudara-saudara”. Sapaan yang diulang beberapa kali itu memunculkan persepsi khusus.
Dengan menyebut kaum perempuan terlebih dahulu, sapaan itu menegaskan sikap penghargaan terhadap kesetaraan gender yang akhir-akhir ini semakin menjadi wacana banyak kalangan. Setelah kuota 30 persen untuk perempuan di parlemen terwujud dalam pemilu 2004 lalu, “kemenangan” para aktivis perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender bertambah dengan ditetapkannya UU Antikekerasan Dalam Rumah Tangga (biasa disingkat KDRT) oleh Presiden Megawati di akhir jabatannya tahun 2004. Sejak saat itu kesetaraan gender adalah topik pembicaraan yang serius diperbincangkan di mana-mana.
Tidak hanya itu, homili itu juga memberi pesan tentang bahaya globalisasi yang “diboncengi” oleh ideologi neoliberalisme dengan menyebut tiga oknum pelaku “kejahatan terselubung” yaitu IMF (International Monetary Fund/Lembaga Moneter Internasional), World Bank (Bank Dunia) dan WTO (World Trade Organization/Organisasi Perdagangan Dunia).
Meski dengan intonasi suara yang kalem dan pembawaan yang santun, homili itu sungguh tajam dan mencerminkan pribadi yang terus-menerus belajar mengenali tanda-tanda jaman.
Seorang Uskup yang menunjukkan keberpihakannya lewat sapaan dalam homili tentulah Uskup yang istimewa. Uskup Agung Semarang yang menjadi Uskup pertama di Indonesia yang menjadi guru besar bidang teologi ini memang pantas disebut istimewa.
Sejak 1981, Uskup Agung Suharyo yang juga Sekjend KWI ini telah menulis 50 buku plus buku-buku lain yang ditulis bersama sebagai buku bunga rampai. Ia juga telah melakukan 11 penelitian, membuat 12 diktat, ratusan artikel di media massa, dan 44 makalah, seba-gian besar tentang Kitab Suci, teologi, dan spiritualitas. Uskup Agung Suharyo menerima gelar doktor bidang teologi dari Universitas Urbanianum di Roma, Italia, tahun 1982 dan kemudian mengajar di Univer-sitas Sanata Dharma, bahkan setelah diangkat menjadi Uskup Agung Semarang tahun 1997. Ia juga mengajar program pascasarjana di kampus yang sama.
Homili Yang Baik
Konsili Vatikan II dalam “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” (Sacrosanctum Concilium) melihat perlunya diadakan pembaharuan dalam Misa, khususnya dalam bidang yang sekarang dikenal sebagai “Liturgi Sabda”. Para Bapa Konsili mengajarkan, “Agar santapan Sabda Allah di-hidangkan secara lebih melimpah kepada umat beriman, hendaklah khazanah harta Alkitab dibuka lebih lebar” (No 51).
Bagian dari “membuka lebih lebar” Sabda Allah berhubungan dengan homili.
Dalam homili, imam mempunyai kesempatan untuk menerangkan misteri-misteri iman dan hubungannya dengan kehidupan pada masa sekarang. Suatu homili yang baik haruslah meliputi penjelasan Kitab Suci, katekese doktrin Kristiani dan anjuran untuk mengamalkan iman. Sebab itu, imam hendaknya tidak menghindarkan diri dari kewajiban mendorong umatnya untuk memeluk Sabda Allah dan mengamalkan kaidah-kaidah hidup Kristiani (bdk No. 52). Homili, karenanya, merupakan bagian integral dari Liturgi Sabda dalam Misa. (Patut diperhatikan, istilah “khotbah” menunjuk pada ceramah mengenai suatu subyek religius, sementara “homili” menunjuk secara khusus pada penjelasan dan aplikasi Kitab Suci.).
Dan akhirnya, misa tahbisan sore itu bukan hanya berisi haru-biru sukacita sanak keluarga dan kerabat imam-imam baru tapi juga pencerahan dari seorang Uskup Agung yang istimewa.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: