Pendidikan Antikorupsi Seumur Hidup!

Minggu, 10 September 2006

Pendidikan Antikorupsi Seumur Hidup!

Akar segala kejahatan ialah cinta uang (1 Tim 6:10).

Pemberantasan korupsi bakal tidak hanya mengandalkan pendekatan hukum. Sosialisasi melalui jalur pendidikan juga ditempuh. Bahkan, pendidikan antikorupsi akan menjadi materi yang harus diajarkan di sekolah. Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan bahwa pendidikan antikorupsi bakal masuk kurikulum khusus dan sampai saat ini materi sudah 99 persen selesai. Masalah ini juga diatur dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas.


Menurut Menteri Diknas, materi antikorupsi akan mulai diajarkan pada kelas 5 SD. Alasan-nya, pada umur sekitar 11 tahun, siswa bisa memahami konsep sedikit rumit, seperti korupsi. Tujuannya adalah mengatur mindset (cara pandang) anak Indonesia bahwa korupsi merupakan perbuatan jahat yang luar biasa merusak bagi kehidupan bangsa Indonesia.
Rencananya, pendidikan anti-korupsi mulai diajarkan tahun depan. Tetapi, jika memungkinkan bisa mulai dilakukan semester depan. (Jawa Pos, 01/09).
Lain Depdiknas, lain pula KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Menurut wakil ketuanya Syahruddin Rosul bangsa ini perlu pendidikan antikorupsi seumur hidup. Pendidikan antikorupsi seumur hidup tersebut memiliki efek jangka panjang dan langsung tertanam dalam mental generasi muda.
Dalam pemberantasan korupsi, KPK kerap disorot masyarakat sebagai lembaga yang menangkap koruptor dan menyelidiki kasus korupsi. Padahal, tugas KPK bukan sekadar menangkapi koruptor, tetapi juga memiliki fungsi preventif atau mencegah timbulnya perilaku korup di masyarakat Indonesia.
Rektor Unika Soegijapranata Bagus Wismanto yang kampus-nya bekerjasama dengan KPK dalam membuat kurikulum anti-korupsi menyatakan, pendidikan antikorupsi sudah seharusnya dilaksanakan orangtua terhadap anak-anaknya sejak usia dini. Pendidikan antikorupsi yang digagas sejumlah dosen Unika Soegijapranata berangkat dari keinginan kalangan akademisi di perguruan tinggi swasta itu untuk berkontribusi dalam mengurangi perilaku korup di masyarakat. (Kompas, 12/08).
Bagi umat Katolik, gerakan antikorupsi bukan barang asing lagi. Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Surabaya 2006 mengangkat tema “Budaya Bebas Korupsi” untuk didalami dan disosialisasikan ke umat.
Dalam buku resmi yang dikeluarkan oleh Panitia APP 2006 dicantumkan berbagai jenis bentuk korupsi yang mungkin tidak banyak diketahui oleh umat seperti discretionary corruption, mercernary corruption, atau ideological corruption. Dari buku yang sama kita juga bisa mengetahui akar budaya korupsi yang membuat bangsa ini bangkrut.
Menurut Ketua Panitia APP 2006 Keuskupan Surabaya Rm Otong Setyawan, Pr. tema ini ingin mengajak setiap pribadi yang beriman turut terlibat di dalam menata kehidupan ber-sesama, sehingga setiap pribadi memiliki tempat yang semestinya dalam penghargaan kehidupan bersama dan sadar bahwa budaya korupsi itu bisa mengkhianati kebersamaan hidup bersesama. Harapan lain yang senada adalah agar semua orang dapat mengalami kebahagiaan karena kesetaraan sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sadar bahwa tindak dan perilaku korupsi telah mendodosi kecitraan ini sebagai perbuatan tidak solider serta mau mengesampingkan sesamanya demi kepentingan diri sendiri.
Gerakan gereja ini akan menjadi masif jika kita turut partisipasi di dalamnya.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: