Budaya Alternatif dan Habitus Baru

Minggu, 29 Oktober 2006

Budaya Alternatif dan Habitus Baru

Kaum yang pesimis menyebut krisis multidimensi bangsa ini sulit diatasi sebelum bangsa ini “diruwat” sambil menunggu datangnya “ratu adil”. Menurut mereka, rentetan bencana dan perilaku korupsi serta kekerasan yang merebak di masyarakat terjadi karena dosa turunan yang sulit diampuni.
Bagi kaum optimis, krisis bangsa ini memiliki akar masalah yang selalu bisa diurai dan dibidik tepat sasaran untuk mencari solusi bersama. Bagi mereka, krisis bangsa ini bukan perkara mistis atau klenik, melainkan soal budaya.


Dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005, Gereja Katolik menegaskan posisinya di kelompok kedua. Menurut gereja, problem bangsa ini adalah masalah budaya yang terkait dengan mentalitas orang dan sikap hidup masyarakat. Untuk itu diperlukan mentalitas dan sikap yang baru (lihat Nota Pastoral KWI 2004). Gereja berpesan untuk “mengembangkan pemikiran, tindakan kreatif serta cara hidup alternatif”. Dalam istilah gereja adalah budaya alternatif dalam habitus baru.
Mari kita ulas dua kosakata “baru” ini.
Salah satu sumber kekuatan untuk membangun budaya alternatif dapat kita temukan dalam diri Yesus sendiri. Yesus memanggil murid-muridNya, terutama kelompok duabelas murid, untuk menghayati pola hidup alternatif seperti terungkap dalam Sabda Bahagia dan Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) : dimana ada nafsu untuk memiliki dan ketakutan untuk memberi serta berkorban, Yesus menyerukan semangat kemiskinan di hadapan Allah; di mana ada kecenderungan untuk menggunakan kekerasan dan kekuatan apabila hak-hak dilanggar, Yesus menawarkan kelembutan dalam perjuangan dan pengharapan pada Allah yang memperhatikan jeritan penderitaan orang-orang lemah ; di mana ada ketakutan menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang, Yesus menjamin kebahagiaan bagi orang yang tidak takut dicela dan dianiaya dalam memperjuangkan kebenaran (Mat 5:3, 5, 10-12); di saat agama dilaksanakan secara lahiriah dan setengah-setengah, Yesus menantang kita un-tuk mengembangkan komitmen iman yang radikal (Mat 5:17-48).
Sebuah budaya (kultur) masyarakat harus dibangun dari sikap, mental dan watak orang per orang. Karena itu gereja menawarkan kosakata kedua yaitu habitus baru.
Habitus adalah istilah dalam bahasa Latin.yang bisa diartikan ”kebiasaan”; ”tata pembawaan”; atau ”penampilan diri”. Bentuknya berupa kecenderungan atau pembawaan diri yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, pembadanan dari kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau berinteraksi dalam kondisi suatu masyarakat.
Habitus biasanya bersifat spontan dan tidak sangat disadari pelakunya, tidak pula disadari apakah kebiasaan itu terpuji atau tercela
Persisnya, habitus adalah proses pengambilan keputusan dalam bertindak yang hampir secara otomatis; sebuah “prosedur tetap” dan rutin. Orang dengan habitus biasanya bertindak tanpa (banyak) pertimbangan. Habitus lebih kuat pada refleks, bukan refleksi. Habitus jelas bersifat lebih personal, tapi habitus juga bisa berupa kumpulan kebiasaan yang remeh-temeh; yang menjadi landasan dan tempat terciptanya keadaban publik.
Contohnya, saat berlalu-lintas, kebiasaan menerobos lampu merah (yang remeh-temeh) akan menciptakan budaya melanggar peraturan dengan sadar.
Rumusan resmi Habitus yang dikeluarkan Gereja adalah “gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok”.
Soal kinerja habitus dalam membuat perubahan sosial akan kita perdalam di lain kesempatan.
Jika “gereja adalah kita”, maka apalagi yang ditunggu?
Terlambat dianggap biasa, tanya kenapa?

Yudhit Ciphardian
Sumber : Nota Pastoral KWI 2004 & Buku Tanya Jawab SAGKI 2005 Keuskupan Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: