Jerat Konsumerisme

Minggu, 22 Oktober 2006

Jerat Konsumerisme

Menjelang hari besar keagamaan besar seperti Idul Fitri, Natal atau Imlek, tidak hanya nikmatnya libur panjang yang menggoda kita, tapi juga asyiknya memanjakan naluri belanja kita yang terus dirayu oleh iklan dan tradisi.


Bagi para pekerja, hari raya itu identik dengan tunjangan gaji yang berarti banyaknya uang di genggaman tangan. Para produsen barang dan jasa jeli menangkap peluang itu dengan membombardir iklan produk/jasanya ke media massa.
Sebuah supermarket raksasa di Jakarta memasang iklan satu halaman penuh untuk menginformasikan bahwa supermarketnya buka mulai pukul 08.00 pagi sampai 02.00 dini hari dan begitu seterusnya selama 2 minggu dengan potongan harga besar-besaran. Nafsu belanja warga kota terus dirangsang dan disediakan tempat penyalurannya.
Atau lihatlah fenomena lain yang berdampak panjang berikut ini. Di Surabaya semakin menjamur mall, plasa dan pusat perbelanja-an berbagai jenis dengan fasilitas bangunan mewah, megah dan nyaman. Semuanya itu disediakan semata-mata agar kita terus mengeluarkan uang (bila perlu berutang dengan kartu kredit yang semakin gampang didapat) dan membeli produk atau menggunakan jasa sepanjang waktu, di banyak tempat.
Derajat seseorang dinilai berdasarkan apa yang Anda miliki atau yang apa yang Anda pakai. Untuk menunjukkan jati dirinya orang cenderung berbelanja berlebihan.
Prinsip ini berbeda benar dengan upaya membangun karakter bangsa yang menekankan pada kekuatan jati diri, mulai dari kematangan berpikir, kerendahhatian, pendidikan dan kepedulian sosialnya.
Di seluruh dunia, “penyakit” ini sudah sangat meresahkan sampai-sampai muncul peringatan Hari Tanpa Belanja (26 November) di Barat. Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.
Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh Adbuster, sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen. Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.
Tujuannya adalah bahwa sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.
Akar dari konsumerisme adalah budaya konsumtif alias membelajakan uang tidak untuk produksi atau investasi melainkan untuk konsumsi.
Jerat konsumerisme membuat kita linglung membedakan apa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. What we need and what we want. Bisakah kita meredamnya?

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: