RUU APP Menginjak-injak Martabat Perempuan

Minggu, 15 Oktober 2006

Seminar Nasional Perempuan
RUU APP Menginjak-injak Martabat Perempuan

Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang mengundang pro kontra sebaiknya diurungkan pengesahannya daripada terus-menerus diperdebatkan dan menciptakan ketegangan antarkelompok masyarakat. Negara tidak seharusnya mengatur moral warganya karena masalah moral sudah menjadi perhatian dari institusi agama dan institusi pendidikan. Masih banyak masalah sosial yang perlu dipikirkan negara daripada mengurusi soal cara berpakaian kaum perempuan.
Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional bertajuk Geliat Membela Martabat Perempuan yang digelar oleh Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang pada Sabtu-Minggu (7-8/10) lalu di Gedung Serbaguna Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya.


“Harusnya negara memikirkan soal kemiskinan dan pengangguran yang semakin banyak, atau ancaman bahaya nuklir daripada memikirkan soal bagaimana seharusnya perempuan berpakaian dan berekspresi atas dirinya sendiri,” kata Gadis Arivia, filsuf perempuan dan dosen filsafat di Universitas Indonesia, yang dihadirkan sebagai salah satu pembicara.
Sementara itu, romo Dr. FX. Eko Armada Riyanto, CM. yang juga sebagai ketua dan dosen filsafat STFT Widya Sasana, menegaskan bahwa RUU APP jelas-jelas menginjak-injak martabat perempuan. Paradigma pembuat RUU ini adalah bahwa sumber segala kemaksiatan, dekadensi (kemorosotan) moral dan kejahatan seksual adalah perempuan. Laki-laki tetap dianggap sebagai mahluk superior, lebih tinggi martabatnya dari pe-rempuan dan tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah moral di masyarakat.
“Selain itu, RUU APP ini mengandung banyak kerancuan. Misalnya soal larangan telanjang di muka umum (pasal 26) dengan denda dua milyar (pasal 80). Bukankah kalau kita menjumpai orang telanjang di pasar, kita cenderung menyangka dia sakit jiwa daripada melanggar etika?” ujar romo Armada. “Contoh lain, ada larangan cium bibir di muka umum (pasal 27) dengan denda “lebih murah”, lima ratus ribu (pasal 81). Apa urusan negara dengan ciuman bibir?. Negara tampil sangat munafik dengan melarang pornografi tapi membiarkan adegan kekerasan dan pembunuhan di televisi yang juga di-tonton anak-anak.” ujarnya lagi.
Seminar yang meru-pakan tradisi Hari Studi bagi STFT ini juga menghadirkan Dra. Agustine Murniati M.A. (teolog feminis Katolik dan konselor Women Crisis Center), Dr. Anita Lie (pakar pendidikan Jatim dan aktivis perempuan Katolik) serta Prof. Dr. Hotman Siahaan (sosiolog dan direktur Pascasarjana Unair) dan romo Dr. Paskalis Edwin I Nyoman Paska, SVD. (dosen Kitab Suci STFT Widya Sasana).
Dra. Agustine yang tampil di hari terakhir mengungkapkan bahwa perjalanan gerakan keadilan merubah posisi perempuan dalam Gereja Katolik masih panjang. Dukungan Gereja Katolik Indonesia sudah cukup kuat, namun kesetaraan gender dalam Gereja perlu dukungan banyak pihak. “Di KWI sudah ada Jaringan Mitra Perempuan (JMP) yang concern pada isu kesetaraan gender. KWI juga sudah menyatakan sikapnya soal gender dengan menerbitkan Surat Gembala tentang “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki Sebagai Citra Allah”, Desember 2004 lalu. Namun ini tetap merupakan pekerjaan rumah yang panjang,” ujarnya. Di ujung pemaparannya, Dra. Agustine sempat terlibat debat ilmiah dengan romo Dr. Paskalis, SVD. tentang feminisme sebagai ideologi para aktivis perempuan di Indonesia. Seminar yang dihadiri sekitar 70 orang ini juga membagikan buku berjudul sama dengan tema seminar.
Kodrat dan gender adalah dua hal yang berbeda dan persis di situlah kita sering keliru.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: