40 Tahun Meninggalnya Pater Driyarkara Pemikir Besar Ke-Indonesia-an

Minggu, 28 Januari 2007

40 Tahun Meninggalnya Pater Driyarkara
Pemikir Besar Ke-Indonesia-an

Lewat tulisan, pidato, ceramah, dan kuliah, Driyarkara memberikan pencerahan proses pencarian jati diri bangsa. Misalnya, ketika gerakan mahasiswa marak pada tahun 1966, dialah pembela pertama hak mahasiswa dan pelajar untuk demonstrasi. Di tengah keadaan kritis dan buntu-mentok, dia tampil dengan gagasan menerobos lewat pemberian makna.
Driyarkara pemberi makna atas perjalanan kehidupan bangsa Indonesia.
St. Sularto, KOMPAS 1 Desember 2006


Minggu lalu, tepatnya Senin 15 Januari 2007 digelar Bedah Buku Karya Lengkap Driyarkara di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ki Supriyoko dan Drs. Nyoman Naya Sujana. Selain menelaah teks dalam buku yang tebalnya 1501 halaman, diskusi itu secara khusus juga menyorot tentang perjalanan hidup Driyarkara yang patut menjadi suri teladan bagi para negarawan, elit politik dan penyelenggara negara.
Lahir di Purworejo 13 Juni 1913, pastor Jesuit ini dikenal sebagai pribadi yang hidup lu-rus, bersih, sederhana, ramah, dan penuh keprihatinan atas persoalan yang dihadapi bangsanya.
Driyarkara kecil (usia SD) terbiasa berjalan kaki setiap hari sejauh 5 kilometer untuk pergi sekolah dan 8 kilometer ketika ia bersekolah setingkat SMP di Purworejo. Di rumah, ia biasa membantu orangtuanya menyirami sirih, yang waktu itu merupakan tanaman pokok di daerahnya.
Sejak kecil Driyarkara biasa hidup sederhana, bekerja keras dan sadar kewajiban. Selama studinya ia juga mengamati kehidupan sosial di Tanah Air sehingga mampu menulis tentang kehidupan rakyat kecil secara ringan, tetapi menyentuh.
Dalam masa studi Driyarkara sebagai calon imam ia sudah dianggap layak mengajar filsafat di Seminari Tinggi, mulai 1943, meski sebagai Jesuit ia sendiri masih dalam tahap pendidikan. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 1947 dengan persiapan yang sebagian besar berupa studi pribadi dalam bidang teologi. Dalam tahun itu pula ia harus berangkat ke negeri Belanda untuk menyelesaikan studi teologinya. Pada 1950-1952 ia melanjutkan studi filsafat program doktoral pada Universitas Gregoriana, Roma. Di situ ia meraih gelar doktor dengan predikat magna cum laude.
Kebesaran Driyarkara ialah bahwa ia tak pernah menjadi seorang filsuf belaka, melainkan orang arif pandai yang ramah, rendah hati, dan tetap sederhana sampai akhir hayatnya. Maka, meneladani Driyarkara bisa dalam hal berkarya dan dalam cara hidup serta bersikap.
Homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya. Kalimat itu dikenal luas sebagai ajaran pokok Driyarkara yang meninggal pada 11 Februari 1967 dalam usia 54 tahun.
Sebenarnya, sampai tahun 1951 nama Driyarkara belum dikenal banyak orang. Hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk studi secara intensif. Sementara catatan harian yang ditulisnya sejak 1 Januari 1941 sampai awal tahun 1950 berupa esai-esai filsafat tercecer di berbagai media dengan tema-tema tulisan yang nyaris sama yaitu persoalan aktual-mendesak yang dihadapi manusia, khususnya rakyat Indonesia.
Lewat perenungan kehidupan bangsa-negara, Driyarkara terlibat dalam jatuh-bangunnya menjadi warga negara Indonesia sekaligus seorang imam Katolik. Dia mengamati, mempertanyakan, menggugat, memberi makna, dan menawarkan jalan keluar yang menerobos.
Driyarkara tidak mewariskan dalil-dalil filosofis yang memusingkan kepala orang awam, meski tidak diragukan kadar filosofis pemikirannya. Ia tidak terjebak dalam definisi tentang “apa” dan “siapa”, tetapi “bagaimana”. Karena itu, tulisannya selalu mencerahkan, dan menawarkan jalan keluar. Singkatnya, tulisannya bisa menjadi semacam peranti untuk bertindak praktis.
Meski berlatar belakang filsafat, tulisan pertamanya yang dipublikasikan luas tidak “berbau” filsafat sama sekali. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta. Disusul kemudian dengan mengasuh Rubrik Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Dari 5 Oktober 1982 sampai 5 Juli 1988, semua tulisannya muncul dalam 58 terbitan, dengan sekitar 147 judul kecil.
Terbitnya majalah BASIS (sampai sekarang masih eksis) di tahun 1951 membuka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat lewat tulisan-tulisannya yang dalam dan berbobot.
Dalam menyampaikan ide-idenya itu, Driyarkara lebih banyak menulis esai-esai filsafat daripada buku-buku filsafat panjang. Hingga karya-karyanya yang berharga itu pun tersebar di mana-mana. Ini mendorong tiga penerbit, Penerbit Buku Kompas, Kanisius, Grame- dia Pustaka Utama bersama Universitas Sanata Dharma bekerja sama menerbitkan karya-karya Driyarkara menjadi sebuah buku.
Karya Lengkap Driyarkara merupakan kumpulan dari 13 buku karangan Driyarkara. Setiap buku adalah kumpulan esai dan tulisan Driyarkara secara tematik yang dikumpulkan dari tulisan-tuli-an Driyarkara yang pernah keluar pada majalah, koran, makalah seminar, dan termasuk dari buku diktat. Ada dua bagian besar dalam buku tersebut, yakni pada bagian pertama berisi filsafat pendidikan, filsafat etika, filsafat budaya, filsafat Pancasila, dan filsafat manusia, serta filsafat sosial.
Seperti banyak pemikir besar Indonesia maupun di dunia lainnya, “warisan” berharga yang ditinggalkan Driyarkara adalah relevansi pemikirannya dulu dan sekarang. Berbagai kejadian, peristiwa dan fenomena yang dialaminya sebagai seorang Katolik di Indonesia dia sarikan dengan sebuah tulisan yang maknanya menembus ruang dan waktu. Gagasan orisinalnya masih bisa direnungkan di jaman sekarang. Ide-ide segarnya mampu mengisi kekosongan pemikiran di tengah krisis bangsa yang sudah akut ini. Warisan itulah yang kini paling dibutuhkan oleh bangsa Indonesia ketika hampir di semua aspek kehidupan kita terpuruk sedalam-dalamnya.
Sebelum meninggal, Driyarkara pernah mengusulkan kepada pimpinannya dalam tarekat Serikat Yesus bahwa perlu didirikan di Jakarta sebuah lembaga tempat pelajaran dan penelitian filsafat akademik. Pada tanggal 2 Februari 1969 Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara (STFD) didirikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Driyarkara, yang diprakarsai oleh tiga lembaga, yaitu tarekat Serikat Yesus, tarekat Fransiskan, dan Keuskupan Agung Jakarta. Driyarkara meninggal sebelum sempat melihat kuliah perdana STFD dalam keadaan serba sederhana di sebuah ruang tamu Susteran Ursulin di Jl. Gereja Theresia no.2, Jakarta.
Berkat Driyarkara dan didirikannya STFD, ilmu filsafat tidak lagi menjadi ilmu yang njilmet, berat dan kurang menarik. Ia mengajarkan fil-safat sebagai sarana untuk berpikir jelas, kritis, dan bisa dipertanggungjawabkan. Kini ilmu filsafat diajarkan di banyak perguruan tinggi sebagai alat analisis yang membantu mempertajam analisis para ilmuwan ilmu-ilmu pasti.
Mengenang Driyarkara adalah mengenang seorang yang sudah menjadi “seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia” (”identitas” yang dikenalkan oleh Uskup Soegijopranoto). Relevan atau tidaknya gagasan-gagasan Driyarkara harus dibuktikan dengan penguatan “identitas” kita hari ini.

Yudhit Ciphardian
Dari berbagai sumber

Pater Driyarkara adalah seorang yang sangat rendah hati. Pemikirannya jernih tanpa hiprokrisi. Segala-galanya diuraikannya secara objektif, jujur, tanpa pretensi.
(Prof. Dr. Arief Budiman. Budayawan, Guru Besar ilmu-ilmu sosial dan politik)

Ia bukan orang yang disegani karena kelihaiannya, ditakuti karena ketajamannya; ia adalah manusia yang sederhana, ramah, tidak mau membuat musuh; yang dikenal hanya sahabat dan teman; orang arif pandai yang tetap sederhana sampai akhir hayatnya.
(F. Danuwinata, SJ. Biarawan)

Tulisan Driyarkara selalu eksak, menembus ke inti permasalahan atau memunculkan segi penting yang belum diperhatikan. Apa pun yang ditulis masih tetap aktual, orisinal, dan mendalam.
(Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ Pastor, biarawan, filsuf)

Perjalanan hidup pemikir Dri-yarkara terus-menerus men-jelang, terus-menerus mem-belum, namun punya satu kepastian, yaitu meluluhkan diri dengan Tuhan Sumber Kebenaran.
(Prof. Dr. Fuad Hassan. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)

Driyarkara adalah seorang filsuf yang merintis filsafat di Indonesia.
(Dr. Kuntara Wirjamartana, SJ. Ahli bahasa dan sastra Jawa Kuno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: