Nota Pastoral KWI, November 2006 Melawan Ketidakadilan Ekonomi

Minggu, 14 Januari 2007

Nota Pastoral KWI, November 2006
Melawan Ketidakadilan Ekonomi

Belum lama berselang, tepatnya dua bulan lalu Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menerbitkan Nota Pastoral 2006 berjudul “HABITUS BARU: EKONOMI YANG BERKEADILAN – Keadilan Bagi Semua: Pendekatan Sosio-Ekonomi”. Nota Pastoral ini disusun sebagai kelanjutan Nota Pastoral 2003 yang berjudul “Keadilan Sosial bagi Semua” dan Nota Pastoral 2004 yang berjudul “Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa. Keadilan Sosial bagi Semua: Pendekatan Sosio-Budaya”.
Selain merupakan rangkaian dari dua Nota Pastoral (NP) sebelumnya, NP 2006 ini juga merupakan gagasan lanjutan dari Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) November 2005. Banyak kalangan menilai perhatian, keprihatinan dan sikap Gereja Katolik Indonesia terhadap tiga permasalahan besar bangsa ini, yaitu politik, sosial-budaya dan ekonomi sudah cukup banyak terwakili dengan diluncurkannya tiga NP yang saling terkait.
Istilah ‘ekonomi’, yang berasal dari bahasa Yunani oikos dan nomos, pada hakikatnya berarti ‘tata pengelolaan rumahtangga’. Tata-kelola itu diperlukan agar kesejahteraan setiap rumahtangga tercapai. Sebagai tata-kelola, istilah ‘ekonomi’ menunjuk pada proses atau usaha pengadaan barang dan jasa untuk kebutuhan hidup. Karena sumberdaya selalu terbatas, padahal kebutuhan hidup sangat banyak, istilah ‘ekonomi’ menyangkut seni-memilih secara bijak antara banyaknya kebutuhan di satu pihak dan terbatasnya sumber daya atau sarana di lain pihak. Tujuan ‘ekonomi’ adalah kesejahteraan bersama. Dalam perkembangannya, tatkala lingkup ‘rumahtangga’ diperluas menjadi ‘negara-bangsa’ , ekonomi kemudian juga berarti seni-mengelola sumberdaya yang dimiliki negara-bangsa untuk tujuan kesejahteraan bersama. (NP #5)
Indonesia adalah “rumah-tangga” kita. Kita sebagai bangsa menghuni wilayah yang sangat luas, dengan keadaan geografis yang strategis dan kekayaan alam yang berlimpah-ruah. Tetapi sangat ironis, negeri kita yang kaya-raya akan sumberdaya alam ini masih memiliki banyak penduduk yang hidup dalam kemiskinan. Ironi itu tidak hanya menunjukkan bahwa kesejahteraan bersama masih jauh dari kenyataan, tetapi juga bahwa ‘ekonomi’ sebagai seni-mengelola kesejahteraan bersama masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masalah ini menjadi tantangan besar bagi kita. NP 2006 mengajak seluruh umat untuk mencermati gejala kesenjangan itu dalam rangka mencari jalan bagai-mana kegiatan ekonomi dapat membantu mewujudkan kesejahteraan bersama bagi seluruh bangsa Indonesia. (NP #6).
Sesungguhnya, potret besar ekonomi bangsa kita adalah kemiskinan, sayangnya, pemerintah masih lebih suka mengukur tingkat kesejahteraan rakyatnya dengan indikasi-indikasi makro yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari rakyatnya (baca Newsletter HKY edisi 31 Desember 2006). Wajah kemiskinan yang begitu telanjang itu hadir berdampingan dengan penumpukan kekayaan sekelompok orang yang mema-merkannya tanpa kepedulian. Sementara sebagian besar rakyat masih serba berkekurangan sekelompok orang hidup da-lam suasana kelimpahan dan kemewahan. Kesenjangan itu merupakan potret nyata sebuah bangsa yang telah kehilangan kepedulian pada cita-cita kesejahteraan bersama.
Dalam keadaan itu, kalangan legislatif, eksekutif, maupun yudikatif malah mengingkari mandat yang diterimanya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Dengan kondisi seperti itu ekonomi akhirnya kehilangan artinya sebagai seni mengelola kesejahteraan bersama.
Kesejahteraan bersama merupakan salah satu asas terpenting dalam cara berpikir dan cara bertindak Gereja. Gereja berkehendak setia dan mengusahakan pelaksanaan asas itu secara sadar dan sengaja, karena Gereja yakin bahwa kesejahteraan bersama tidak dapat diserahkan kepada proses otomatis kinerja mekanisme pasar (NP#17).
Meski NP 2006 ini kerap hanya diidentikkan dengan karya Gereja membentuk Credit Union, namun pesan penting NP 2006 ini sungguh tegas : ketidakadilan ekonomi harus dilawan!

Yudhit Ciphardian

Advertisements

One Response to “Nota Pastoral KWI, November 2006 Melawan Ketidakadilan Ekonomi”

  1. Masfu Says:

    follow blogku yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: