Mari Hanya Tunduk Sujud Pada-Nya

Minggu, 07 Januari 2007

Mari Hanya Tunduk Sujud Pada-Nya

Di awal tahun baru ini air mata kita kembali terkuras seiring musibah karamnya KM Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat AdamAir yang menelan ratusan korban jiwa meninggal sia-sia.
Belum hilang duka mendalam kita atas penderitaan korban banjir di Aceh Timur dan korban lumpur Lapindo, petaka kembali mengisi hari-hari kita dalam kesedihan.
“Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat bahwa kita mesti banyak berbenah”, demikian lantun Ebiet G. Ade dalam lagunya “Untuk Kita Renungkan”.
Sebuah permenungan pantas kita hadirkan dalam lubuk hati kita, isyarat apa yang disampaikan kepada kita?. Mengapa bangsa ini menjadi rentan terhadap musibah dan bencana?. Di musim hujan kita kebanjiran dan tanah longsor. Di musim kemarau kita gagal panen dan kebakaran hutan. Transportasi massal kita juga begitu rapuh sehingga mudah terkena musibah. Di darat, laut dan udara kita sudah tidak tenang lagi bepergian.
Apakah ini buah dari kecerobohan, kelalaian atau ketidakdisiplinan kita? Ataukah ini semua buah dari ketidakpekaan kita terhadap lingkungan sekitar kita?.
Tentu akan banyak sekali orang yang tidak puas dengan sekadar penjelasan ilmiah kenapa musibah terus terjadi. Selalu ada banyak orang yang terobsesi untuk tahu lebih dalam tentang penyebab terjauh dari semua itu dengan melontarkan pelbagai ultimate questions (pertanyaan puncak). Kalau sudah berpikir soal penyebab terjauh, perbincangan tentulah sudah masuk ke ranah filsafat atau teologi. Lantas muncullah pertanyaan: sejauh apa peran Tuhan di dalam “menghajar” sedemikian banyak korban dalam rentetan bencana ini. Pada titik inilah spekulasi-spekulasi teologis berlangsung dengan begitu liarnya.
Tulisan ini dihadirkan sekedar untuk mengingatkan bahwa musibah sudah terjadi dan banyak keluarga yang larut dalam kesedihan ditinggal orang-orang yang dicintai. Tidak sepantasnya kita menjadi mati rasa dan terus-menerus mencari “kambing hitam” yang mengaitkan berbagai musibah ini dengan murka Tuhan atas besarnya dosa manusia.
Sesungguhnya yang pantas kita lakukan hanyalah tunduk sujud kepada Allah memohon kekuatan agar kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka yang tertimpa musibah.Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: