Tahun Baru Imlek 2558 Merayakan Keberagaman, Merayakan Kebersamaan

Minggu, 11 Februari 2007

Tahun Baru Imlek 2558
Merayakan Keberagaman, Merayakan Kebersamaan

Kita ditakdirkan hidup dalam masyarakat yang multietnis dengan kekayaan tradisi dan sejarah panjang kebudayaan yang patut disyukuri sebagai sebuah kekuatan. Salah satunya adalah tradisi etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek yang di tahun 2007 (tahun Babi Api) ini jatuh pada Minggu 18 Februari.


Setelah 30 tahun lebih budaya dan masyarakat Tionghoa “dibungkam” oleh rezim Orde Baru, Imlek (sebagai sebuah wujud eksistensi etnis) ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2003 setelah lima tahun sebelumnya, dibawah pemerintahan Gus Dur, etnis Tionghoa dan agama Khonghucu juga diakui keberadaannya secara legal.
Di tengah bangsa yang sangat kental dengan “politik identitas” plus superioritas agama atau etnis tertentu, penghapusan diskriminasi dan pengakuan atas sebuah etnis atau agama tertentu adalah “kemenangan” seluruh warga masyarakat. Sekat-sekat sosial yang sengaja diciptakan dengan maksud jahat (memecah-belah warga) akan runtuh dengan sendirinya ketika pengakuan itu diberikan secara legal oleh negara.
Era reformasi yang dinodai dengan Tragedi Mei 1998 berupa penjarahan, penganiayaan dan pemerkosaan etnis Tionghoa di berbagai kota sebagai puncak konflik sosial yang meletup karena rekayasa rezim rupanya juga menghembuskan sedikit angin segar perubahan berupa munculnya wacana universalitas (sebuah wacana dimana semua individu memiliki harga diri setara) dan wacana keberagaman (pengakuan terhadap keunikan setiap identitas).
Era reformasi sudah mencatatkan duka dan berkah tersendiri. Kita yang tidak ingin tragedi yang sama terulang lagi harus bisa memaknai tradisi Imlek sampai pada esensinya.
Tradisi Imlek ini sesungguhnya lebih merupakan perayaan tahun baru yang tak ada hubungannya dengan sejenis kepercayaan atau agama apapun. Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina. Perayaan berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi yang berarti dimulainya musim tanam.
Salah satu fungsi sosial hari-hari keagamaan adalah untuk merekatkan kebersamaan dalam masyarakat. Ini sama dengan tradisi silaturahmi ke orangtua, kerabat dan tetangga yang biasanya mewarnai Imlek. Perayaan Imlek biasanya juga diisi dengan sembahyangan sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak. Perayaan Imlek juga dirayakan dengan berbagai macam keramaian yang menyuguhkan atraksi barongsai, liong dan arak-arakan. Pesertanya membawa obor, lampion atau kembang api.
Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran,” “panjang umur,” “keselamatan,” atau “kebahagiaan,” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.
Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis
Hari raya Imlek merupakan Hari Raya Nasional, dimana semua rakyat Indonesia libur secara nasional. Dengan demikian Imlek bukan saja milik umat Khonghucu atau orang-orang Tionghoa, melainkan sudah menjadi milik bangsa Indonesia dan bahkan milik seluruh bangsa di dunia.
Tahun ini komunitas Tionghoa Indonesia akan merayakan Imlek Nasional untuk pertama kalinya dengan mempersiapkan festival kesenian dan pertunjukan budaya Tionghoa skala nasional. Festival akan digelar di Pekan Raya Jakarta pada 28 Februari mendatang. Acara ini juga rencananya akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Festival budaya yang turut didukung pusat kebudayaan dari Republik Rakyat Tiongkok ini mengambil tema “Indonesia Bersatu”.
Gong Xi Fa Cai. Selamat Imlek. Selamat merayakan keberagaman. Selamat menanam kerja keras dan kebaikan untuk memanen kebaikan.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: