Bunuh Diri Dan Dimensi Waktu Agama

Minggu, 25 Maret 2007

Bunuh Diri Dan Dimensi Waktu Agama

Kisah pilu tentang ibu yang bunuh diri bersama empat anaknya di Malang di awal bulan ini sungguh membuat kita miris. Tekanan beban hidup yang sangat berat karena jauh dari suami dan rutinitas mengasuh empat anak serta ditambah beban ekonomi yang tinggi membuat Ny Junania Mercy memilih jalan pintas mengakhiri hidup secara tragis. Diberitakan di berbagai media massa, kondisi kesehatan putra ketiganya, Hendrison terus membebani pikirannya. Anak itu menderita kelainan darah sehingga harus menjalani perawatan rutin di rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit.


Kisah ini menjadi lebih dramatis saat beberapa barang bukti seperti kapsul, potas, surat wasiat dan pesan singkat (SMS) untuk sang suami ditemukan. Juga respon orang-tua, kerabat dan tetangga yang tidak menduga kejadian ini. Berbagai respon lantas bermunculan, seperti juga esai ini hendak “membaca” kasus ini dari sudut yang berbeda.
Sepenggal drama kehidu-pan ini memaksa kita berkubang dalam banyak pemikiran. Mengapa bunuh diri menjadi pilihan terakhir bagi korban untuk keluar dari masalah?. Jika keputusan ini melewati proses yang panjang dalam suasana depresi yang mahadahsyat, dimana peran orangtua, kerabat dan para tetangga dalam proses itu? Jika ini adalah sebuah fenomena hidup, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan masyarakat kita? Lalu, apa kaitan antara kasus ini dan dimensi waktu agama?

Dimensi Waktu Agama
Setiap agama selalu mempunyai dimensi waktu yang panjang, jauh melewati waktu manusiawi yang dibatasi oleh kematian. Titik akhir dari dimensi waktu itu adalah harapan. Dengan beragama berarti manusia berharap akan sesuatu. Kita mengenalnya dengan istilah “kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah”
Sementara dimensi waktu manusia beragam. Ada yang orientasi hidupnya pendek (sehingga muncul idiom carpe diem “rebutlah atau cecapilah hari ini”), namun ada juga yang terlalu utopis sehingga sering merasa kesepian di tengah “hiruk-pikuk masyarakat”.
Sifat pertama dari dimensi waktu agama yang panjang itu adalah optimis terhadap hidup. Seberat apapun beban hidup kita, agama menjanjikan ada “secercah cahaya di ujung sana” yang membuat segala sesuatu indah pada akhirnya.
Panjangnya dimensi waktu itu memungkinkan agama sangat percaya pada proses, bukan pada hasil. Hal itu (seharusnya) bisa membuat manusia menjadi “lebih sabar, tidak tergesa-gesa” dan tidak pragmatis. Jaminan agama adalah janji eskatologisnya. Maka, optimisme agama seharusnya bisa menjadi pendorong (dan pelengkap) setiap usaha manusia dalam menjawab tantangan jaman.
Disinilah peran agama yang aktif menjadi penting. Sifat aktif agama (selain berupa ajaran dan doktrin) bisa berupa pengarahan dan petunjuk-petunjuk yang membuat manusia semakin matang dan berani menatap masa depan. Sebaliknya, agama yang pasif cenderung reaktif dan akhirnya malah membuat banyak hukuman, larangan dan bahkan ancaman yang justru menjerumuskan manusia pada orientasi hidup yang pendek.
Agama di era globalisasi adalah agama yang “sedang ditantang” untuk mem-buktikan bahwa ia dicipta-kan untuk melakukan peru-bahan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Agama juga ditantang untuk membuktikan bahwa ia diciptakan untuk membantu manusia memecahkan masalah-masalahnya.
Agama jaman sekarang harus up to date, kontekstual dengan masalah kongkret di masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, wabah penyakit, kejahatan dan lain sebagainya. Agama yang tidak up to date hanya akan menyeret umatnya pada ilusi-ilusi dan janji-janji surgawi yang pada akhirnya membuat manusia tercerabut dari hidup sosialnya.
Masa prapaskah (masa puasa, pantang dan mati-raga) kiranya menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan kembali perspektif waktu yang kita miliki serta sikap beragama yang perlu dikembangkan.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: