9 Tahun Reformasi Berjuang Melawan Lupa

Minggu, 27 Mei 2007

9 Tahun Reformasi
Berjuang Melawan Lupa

Lembaran sejarah Indonesia mencatat peristiwa mengenaskan 9 tahun lalu tatkala terjadi kerusuhan msaal di Jakarta pada tanggal 13 – 15 Mei 1998.
Seluruh media massa internasional merekam peristiwa itu dalam gambar-gambar dan narasi yang mencekam, dramatis dan mengharukan. Rakyat turun ke jalan membakar toko, rumah dan supermarket untuk menjarah isinya. Mereka memblokir jalan dan merusak apa saja yang mereka temui. Jakarta mencekam. Api dan mayat dijumpai di ratusan titik di penjuru kota.
Anehnya, Jakarta seperti tidak punya polisi. Kerusuhan ini terjadi selama 3 hari ber-turut-turut tanpa ada seorangpun yang menghalangi dan berakhir setelah semuanya habis, tidak ada lagi yang bisa dibakar.


Kerusuhan ini dipicu oleh tragedi Trisakti, sehari sebelumnya (12 Mei 1998) yang menewaskan 4 mahasiswa Trisakti saat berlangsung aksi demonstrasi menuntut mundurnya presiden Soeharto.
Ribuan mahasiswa yang berunjuk rasa di dalam komplek kampus Trisakti ditembaki secara membabi-buta oleh aparat. Seketika itu juga puluhan mahasiswa tergeletak berlumuran darah. Warga yang menyaksikan kejadian itu baik secara langsung maupun lewat televisi, tersulut amarahnya. Mereka melampiaskan marah kepada aparat keamanan dengan cara seperti yang diceritakan di awal tulisan ini.
Ternyata kerusuhan itu menyisakan kejadian yang lebih mengerikan. Relawan ISJ (Institut Sosial Jakarta) yang dipimpin Rm. Sandyawan, SJ melaporkan telah terjadi pelecehan dan pemerkosaan terhadap ratusan perempuan tionghoa. Sebagian besar dari perempuan-perempuan itu dibunuh setelah diperkosa massal. Laporan yang disertai bukti dan testimoni dari beberapa korban itu sudah dipublikasikan oleh ISJ, namun hingga kini negara (baca : pemerintah) tetap menganggap berita itu hanya isapan jempol belaka. Terbukti dengan tidak adanya usaha yang serius dari negara untuk mengusut tuntas kasus ini dan menangkap pelakunya
ISJ juga melaporkan hasil investigasi di lapangan bahwa pada saat kerusuhan berlangsung, beberapa saksi mata menceritakan adanya “kerja yang terkoordinir untuk memprovokasi massa”. Provokasi dilakukan oleh beberapa orang dengan ciri-ciri berkaos gelap, berambut cepak dan berbadan tegap yang turun dari truk untuk mengajak massa bertindak anarkis.
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah melaporkan bahwa “Kelompok inilah yang menggerakkan massa, dengan memancing keributan, memberikan tanda-tanda tertentu pada sasaran, melakukan pengrusakan awal, pembakaran, mendorong penjarahan. Kelompok ini datang dari luar tidak berasal dari penduduk setempat, dalam kelompok kecil (lebih kurang belasan orang), terlatih (yang mempunyai kemampuan terbiasa menggunakan alat kekerasan), bergerak dengan mobilitas tinggi, menggunakan sarana transport (sepeda motor, mobil/ Jeep) dan sarana komunikasi (HT/HP). Kelompok ini juga menyiapkan alat-alat perusak seperti batu, bom molotov, cairan pembakar, linggis dan lain-lain. Pada umumnya kelompok ini sulit dikenal, walaupun di beberapa kasus dilakukan oleh kelompok dari organisasi pemuda (contoh di Medan ditemukan keterlibatan langsung Pemuda Pancasila). Diketemukan fakta keterlibatan anggota aparat keamanan, seperti di Jakarta, Medan, dan Solo.
Kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 terjadi di dalam rumah, di jalan dan di tempat usaha. Mayoritas kekerasan seksual terjadi di dalam rumah/bangunan. TGPF juga menemukan bahwa sebagian besar kasus perkosaan adalah gang rape, di mana korban diperkosa oleh sejumlah orang secara bergantian pada waktu yang sama dan di tempat yang sama. Kebanyakan kasus perkosaan juga dilakukan di hadapan orang lain. Meskipun korban kekerasan seksual tidak semuanya berasal dari etnis Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei l998 lalu diderita oleh perempuan dari etnis Cina. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial.”
Amarah rakyat yang tidak terbendung itu ternyata berdampak politis. Seminggu setelah kerusuhan (21 Mei 1998), Soeharto yang telah berkuasa selama 3 dekade menyatakan mundur dari jabatannya dan Habibie menggantikannya. Setelah itu reformasi seakan macet karena dibajak oleh elit politik yang haus kekuasaan.
Adalah mungkin jika sejarah kelam itu kita maafkan sebagai sebuah cacat sejarah, namun kita tidak boleh melupakannya.
Jika kita ingin generasi mendatang menjadi lebih baik, maka berjuang melawan lupa adalah tugas kita, demi kehidupan bersama yang lebih baik.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: