Reposisi terhadap Dialog Antar-agama

Reposisi terhadap Dialog Antar-agama

Said Aqil Siradj

KERJA SAMA antar-agama dimungkinkan lewat dialog sebagai disiplin ketat, jauh dari retorika kosong mengenai persaudaraan dan toleransi. Tujuan dialog bukan untuk mengubah keyakinan pihak lain, juga bukan untuk membuktikan agama seseorang salah. Setiap dialog harus didasarkan norma-norma dan nilai-nilai bersama. Sebab, setiap agama memiliki esensi atau substansi yang terlepas dari aksiden sejarah.
SETIAP agama dimulai dengan pencerahannya sendiri yang disebut pewahyuan. Ia serupa dengan pemahaman manusia dan kesempurnaan alam, yaitu kesamaan antara wahyu, akal, dan alam. Komponen agama lainnya, seperti dogma, ritual, institusi, hukum, sejarah, dan simbol adalah konsep sekunder.
Konsep esensial vs sekunder


Setiap agama memiliki dua kecenderungan. Pertama, bersifat tradisional, dogmatis, ritualistik, institusional dan legal, sebagai hasil sejarah, hasil interaksi sosial dan manusia. Versi ini melambangkan konsep-konsep agama yang sekunder. Kedua, bersifat liberal, spiritual, moral, internal, individual dan humanis, hasil dari pengalaman religius mendalam yang datang dari kedalaman batin manusia. Versi ini melambangkan konsep-konsep agama yang esensial.
Kredo adalah konsep sekunder dalam agama. Kredo awalnya sebuah pandangan dunia, sebuah gagasan atau motivasi untuk bertindak. Kemudian ia diubah menjadi sebuah benda. Sebuah dogma bukan kebenaran per se, sebuah teori yang memiliki standar keabsahan dalam dirinya sendiri, tetapi sebuah alat sederhana untuk bertindak, sebuah motivasi untuk perilaku manusia. Dialog antar-agama yang didasarkan sistem kepercayaan seperti itu tidak mungkin terjadi karena tidak ada ruang untuk pemahaman bersama.
Ritual juga merupakan konsep sekunder. Ritual adalah gerakan sederhana, eksternal, dan simbolik. Ia tidak mengungkap esensi agama. Ia dapat dilakukan dengan bentuk murni tanpa isi. Ia dapat dilakukan untuk menutupi motivasi-motivasi tersembunyi, seperti dalam kasus kemunafikan. Ritual bersifat eksternal, kesalehan bersifat internal.
Hukum dalam agama merupakan konsep sekunder. Hukum agama bukan hukuman yang dipaksakan oleh kehendak Ilahi kepada manusia. Ia adalah hukum moral sederhana yang mengekspresikan sifat dasar manusia yang tertuju pada kesempurnaan. Hukum pidana yang keras atau lembut tidak dapat dipahami karena tujuan agama bukan untuk menghukum. Hukum agama adalah hukum alam yang didasarkan penegasan nilai-nilai manusia yang universal, seperti kehidupan, akal, kebenaran, dan kehormatan. Hukum mengikat, sedangkan alam membebaskan. Jadi, agama sebagai hukum adalah konsep sekunder dan agama sebagai kandungan sosial lebih bertaut dengan konsep esensial yang mengizinkan dialog terbuka.
Tiap agama didasarkan pada konsep kesucian. Ini hanya simbol, indikator, atau tanda eskatologis. Sebagai manusia, nabi tidak suci. Ia alat untuk menyampaikan firman Tuhan. Kesucian tidak datang dari luar, tetapi dari diri. Kaum beriman memproyeksikan harapan dan keinginan untuk penyelamatan di masa depan. Sementara hidup suci tidak ada yang memusnahkan. Suci adalah konsep sekunder dalam agama.
Institusi dalam agama merupakan konstruksi buatan manusia. Ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan esensi agama. Sebaliknya, ia bisa mengkhianati esensi agama setiap saat. Institusi memiliki fungsi kekuasaan untuk mengatur komunitas kaum beriman untuk memiliki kendali atas kehidupan umat beragama. Karena itu, institusi bersifat sekunder dan tidak esensial bagi dialog antar-agama.
Sebaliknya, ada konsep-konsep esensial yang dapat berfungsi sebagai acuan yang baik dalam dialog antar-agama. Daripada dogma, ada transendensi yang secara etimologis berarti selalu melampaui, selalu mencari puncaknya, selalu tertuju pada yang tak terbatas. Transendensi membebaskan pikiran manusia dari dogmatisme, fiksasi, pendewaan, dan materialisme. Dengan transendensi, sebuah dialog menjadi mungkin karena semua pihak setara. Mereka mempunyai tujuan sama. Tanpa roh transendensi, pihak-pihak yang ada akan bertikai. Tiap pihak akan berbuat seolah-olah sebagai pemegang kebenaran.
Di balik ritual yang bersifat sekunder, ada perbuatan baik yang bersifat esensial. Berdoa bisa berbeda dalam bentuk, tetapi sama dalam kesalehan. Puasa bisa berbeda dalam kuantitas, tetapi sama dalam kualitas. Perbuatan baik adalah satu yang disepakati semua makhluk rasional, memberi makan kepada yang lapar, membantu yang miskin atau melindungi yang lemah. Mengabdi adalah perbuatan baik yang tinggi nilainya. Memberi tanpa menerima, memprakarsai bahkan tanpa menunggu balasan, mengorbankan diri demi kebaikan semua adalah bentuk tertinggi dari perbuatan baik.
Apabila dogma adalah misteri yang melampaui akal manusia, bila simbol digunakan secara liberal, maka akal manusia sebagai konsep esensial memungkinkan dialog antar-keyakinan. Akal manusia yang membuat manusia mampu berkomunikasi satu sama lain. Akal diberikan secara alamiah, sebuah cahaya alamiah manusia. Argumen akal lebih komunikatif daripada argumen otoritas, baik teks maupun tradisi. Tidak ada yang misterius dalam agama. Akal bisa memahami apa yang diberikan kepadanya sebagai obyek refleksi, bahkan Tuhan sebagai tindakan kognisi. Kitab suci tunduk pada aneka penafsiran, sementara akal berdasar pada bukti dan menyediakan kepastian.

Kebebasan manusia
Berlawanan dengan institusi, kebebasan manusia tampil sebagai konsep esensial. Individu adalah keseluruhan institusi, bebas, dan otonom. Dalam Islam, kebebasan kehendak adalah prinsip individuasi yang memungkinkan pemahaman, ada sesuatu yang lain, yang berbeda dari Tuhan dan di luarnya. Akal manusia mampu membuktikan Tuhan ada dengan semua pembuktian Tuhan sebagai ontologis, kosmologis, atau teologis.
Kesadaran dalam Islam bersifat praktis, didasarkan pada kebebasan manusia, bukan kognisi manusia. Itu adalah pendekatan Barat bersifat teoretis, sementara Islam bersifat praktis. Kebebasan manusia adalah prasyarat tanggung jawab individual, prasyarat bagi penilaian yang adil pada hari akhir. Manusia dilahirkan bebas, bertanggung jawab secara individual atas perbuatan sendiri. Ia dapat menyelamatkan diri dengan kekuatan kognisinya guna membedakan antara yang benar dan salah dan dengan kebebasannya untuk memilih yang benar yang salah.
Akhirnya, bila sejarah adalah konsep sekunder, komunitas adalah konsep esensial. Individu bukanlah seorang pengembara yang hidup sendirian, tetapi merupakan anggota sebuah komunitas. Dimensi komunitarian ini dalam individu memerlukan penerapan keadilan sosial melalui solidaritas sosial dan kohesi sosial, baik dari inisiatif individu dan komitmen sosial. Kesejahteraan umum lebih tinggi dari kepentingan individu. Solidaritas manusia adalah sebuah nilai positif, yang tak dapat ditolak oleh makhluk rasional. Tuhan menciptakan manusia setara. Perbedaannya hanya dalam kebajikan dan kemuliaan perbuatan.
Kemiskinan adalah fenomena buatan manusia. Ia dapat diatasi melalui solidaritas manusia. Kepemilikan lebih bersifat publik daripada pribadi. Manusia datang dan pergi dari dunia ini, hanya membawa perbuatan baik, bukan kekayaan. Kerja sama antar-keyakinan bukan hanya masalah saling memahami, menghormati, dan mengakui, tetapi juga persoalan proyek bersama untuk keberlangsungan manusia dan kesejahteraan umum, berjuang melawan kelaparan, kemiskinan, penyakit, kebodohan dan keterbelakangan. Inilah konsep esensial bagi dialog antar-agama yang bersifat efisien dan produktif, jauh dari sekadar saling menerima yang bersifat persaudaraan dan pertukaran diplomatik.

Said Aqil Siradj

Rais Syuriah PBNU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: