714 Tahun Surabaya – Kota Sibuk Yang Dijejali Mall

Minggu, 3 Juni 2007

714 Tahun Surabaya – Kota Sibuk Yang Dijejali Mall

Tanggal 31 Mei ini Surabaya merayakan hari jadinya ke 714 tahun. Surabaya secara resmi berdiri pada tahun 1293. Tanggal peristiwa yang diambil adalah kemenangan Raden Wijaya, raja pertama Mojopahit melawan pasukan Cina. Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan. Dalam prasati tersebut terungkap bahwa Surabaya (churabhaya) masih berupa desa di tepian sungai. Kata “Surabaya” juga sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, antara tanah dan air. Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa nama Surabaya muncul setelah terjadinya peperangan antara ikan Sura dan Buaya (Baya).


Berbagai kegiatan HUT berlangsung selama tiga bulan sejak akhir April yang diawali dengan Gelar Seni Budaya 2007 “Cahaya Surabayaku” yang menampilkan aneka bentuk kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Surabaya. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lomba-lomba, pameran seni, big sale, bakti sosial dan beragam kegiatan yang didukung total oleh Pemkot Surabaya.
Rangkaian kegiatan ini selain untuk menghibur warga kota juga dapat dipandang sebagai show of force (unjuk gigi) kepada publik bahwa Surabaya memang kota metropolis terbesar kedua setelah Jakarta. Dan, sebagaimana layaknya kota metropolis, pembangu-nan (fisik) selalu diutamakan.
Tapi, di balik gemerlap sebuah kota metropolis selalu tersimpan cerita-cerita sedih tentang warga kota yang tidak ikut merasakan hasil pembangunan. Cerita tentang mereka yang tersisih dari gemerlap kota dan mengais rejeki sisa-sisa dari kehidupan kota yang “tidak pernah tidur”. Mereka ini menjadi korban ketidakadilan ekonomi atas nama pembangunan. Salah satunya adalah para pelaku ekonomi mikro yang mulai tergusur oleh menjamurnya mall, supermarket dan trade center.
Dimanapun, pembangunan mempunyai hubungan dengan kemiskinan. Pembangunan yang tidak memperhitungkan kondisi masyarakat yang dibangun akan membawa dampak perubahan sosial yang ekstrem seperti ketertinggalan kaum miskin karena keterbatasan akses ekonomi, akses politik, sosial, dan sebagainya. Inilah yang dalam Ajaran Sosial Gereja disebut kemiskinan struktural.
Sepertinya, pembangunan yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya adalah pembangunan yang seperti tersebut di atas, sangat bercirikan kota metropolis yang terus berhias diri membangun gedung tapi lalai membangun manusia.
Di Jatim pada awal 2007 ada 12 juta warga miskin, padahal tahun lalu masih 7,5 juta. Di Surabaya, jika awal tahun 2006 tercatat ada 54.000 lebih keluarga miskin, pada awal Januari 2007 membengkak menjadi 93.000 lebih keluarga.
Indikasi ini menunjukkan bahwa pesatnya pembangunan fisik di Surabaya tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya.
Bisnis perumahan komersial di Surabaya juga sedang laris-larisnya. Rumah-rumah yang ditawarkan kepada publik selalu sold out. Seiring dengan itu, masyarakat kelas ekonomi ke bawah semakin terdesak, penggusuran terjadi di sana-sini, sementara pengembang dan pemerintah tidak kunjung mewujudkan tempat yang layak dan terjangkau bagi mereka.
Dua pemandangan yang sangat kontradiktif terjadi di Surabaya, yang dianggap sebagai barometer kegiatan perekonomian di Jawa Timur. Sedikit lahan yang tersisa di Surabaya begitu cepatnya di-sulap menjadi properti komersial, seperti mal, pusat perdagangan, rumah toko, dan perkantoran. Para pelaku bisnis raksasa tidak pernah rela melihat tanah di Surabaya teronggok tanpa bangunan. Kini sedikitnya 20 mall ter-sebar mulai dari wilayah barat, pusat, selatan, timur, dan utara Surabaya. Beberapa di antaranya masih dalam tahap pembangunan.
Pembangunan fisik me-mang penting selama tidak menciptakan gap (jarak) status sosial yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin. Jika itu yang terjadi maka kota ini ibarat menyimpan “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa meledak dalam bentuk benturan sosial akibat ketidakadilan sosial yang muncul tanpa disadari.
Atau memang kota ini bukan untuk orang miskin? Entahlah. Bagaimanapun, Selamat HUT Surabaya.
Yudhit Ciphardian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: