Fatalisme sebagai Tantangan Terbesar Bangsa

Fatalisme sebagai Tantangan Terbesar Bangsa

Kristi Poerwandari

Manusia Indonesia tengah dicengkeram fatalisme dan tidak menyadari betapa fatalisme demikian mudah menyedot kita ke pusaran kehancuran. Begitu banyak dari kita hidup fatalistik dalam berbagai bentuknya yang berbeda.
Pengendara motor asal-asalan mengenakan helm, pengemudi mobil berpura- pura saja memasang sabuk pengaman di depan polisi, dan orang kebut-kebutan zig-zag menyalip dari bahu jalan tol.
Bila ditanya, enteng jawabannya, “Tenang saja. Cerewet amat, sih. Kalau sudah masanya, lagi tidur di kamar juga bisa mati.”


Manusia-manusia makmur dan terpelajar tanpa malu melempar sampah di jalanan dan terus membangun gedung yang lebih besar, alasannya, “Sudah terlanjur. Semua orang juga begitu kan?”
Bukan aneh menyaksikan lingkungan kita mengkritik kanan kiri secara sangat vokal, jebul mereka sendiri ternyata selingkuh, main uang, atau membuat laporan fiktif. Pembenarannya, “Kalau semua orang begitu dan kita tidak, ya kitanya yang mati.”
Manusia Indonesia kehilangan kerangka referensi untuk hidup tenteram lantaran demikian banyaknya masalah sosial-ekonomi-politik yang setiap harinya dijejalkan faktanya di depan kita.
Lumpur panas Sidoarjo, bencana banjir, penembakan-penembakan oleh polisi pada orang terdekatnya, korupsi dan intrik politik pejabat-pejabat tertinggi, kriminalitas dan sebutlah apa saja yang setiap hari ramai diberitakan dalam media.
Cikal bakal fatalisme sudah terasa bila kepekaan, kepedulian, dan rasa ikut bertanggung jawab sudah tidak ada.
Fatalisme erat terkait dengan rasa putus asa dan tidak berdaya. Secara sederhana fatalisme dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa manusia tidak mampu mengubah apa yang telah terjadi atau tergariskan. Keyakinan bahwa segala sesuatu pasti terjadi, menurut caranya sendiri, tanpa memedulikan usaha kita untuk menghindari atau mencegahnya.
Hegel meyakini bahwa individu semata-mata adalah alat bagi “Roh Mutlak” sehingga kita jadi mengerti bahwa primordialisme dan pengotak-ngotakan kelompok adalah juga bentuk fatalisme.
Orang muak, putus asa, dan marah melihat kebejatan moral dan kekacauan dalam masyarakat, lalu secara simplistis melemparkan kesalahan pada kelompok “yang lain”.
Dari cara berpikir ini, manusia tidak memiliki kehendak bebas, dan untuk bisa keluar dari kehancuran, yang harus dilakukan adalah memerangi “yang lain” tersebut melalui keyakinan tentang apa yang dikehendaki oleh “Roh Mutlak”.
Pengeboman dan penghancuran pihak lain dengan alasan apa pun, pembunuhan dalam rumah yang sekarang cukup sering diberitakan, adalah bentuk fatalisme. Bunuh diri jelas didasari fatalisme. Tetapi, keengganan berpikir juga merupakan bentuk fatalisme, setidaknya merupakan cara ampuh untuk ’memanfaatkan’ fatalisme.

Kasus IPDN
Fatalisme (atau pemanfaatan fatalisme?) tampil jelas dari uraian mantan Rektor IPDN menanggapi pembekuan (sementara) kegiatan IPDN oleh Presiden. Seusai ikrar ’Anti Kekerasan’ para praja yang demikian terasa rekayasanya, lebih kurang katanya, “Saya larang para praja menanggapi keputusan presiden. Kita tidak akan menanggapi. Kita ini (abdi negara, pegawai negeri) hanya melaksanakan.”
Pegawai negeri = abdi negara = hanya melaksanakan = tidak berpikir? Dari frase sangat singkat dan sederhana hanya melaksanakan ini, orang bisa melakukan apa saja: korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan sebut tindakan-tindakan negatif lainnya tanpa harus (merasa) bertanggung jawab atas tindakannya.
Kita ingat Eichmann penjahat perang Nazi, yang membiarkan terjadinya pembunuhan pada ribuan orang Yahudi dan menjelaskan dengan enteng tindakannya sebagai ’sekadar melaksanakan perintah’.
Bila kita memahami psikologi manusia Indonesia, fatalisme sangat laku dijual dan memang sekarang menjadi lahan peruntungan sangat empuk bagi media. Apalagi penjelasannya bila sinetron-sinetron hidayah ramai menjamur, menawarkan solusi dari masalah hidup yang amat kompleks dalam bentuk yang sangat simplistis?
Sebagian manusia Indonesia yang sudah disedot keputusasaan seperti melihat dirinya sendiri di sana: sangat teraniaya, tak mampu berbuat apa-apa. Gambaran ekstrem tentang pelaku kejahatan yang dihukum sadis dengan berdarah-darah, jenazah dipenuhi belatung, atau tak dapat dimakamkan akibat dosa yang tak terhingga mungkin dapat diterima, bahkan digemari, karena menjadi refleksi dari kemarahan sekaligus ketidakberdayaan masyarakat.
Mimbar keagamaan juga menjadi sangat laku karena banyak orang kebingungan tak menemukan jawaban duniawi dan lari pada (yang dianggap) jawaban surgawi.
Tanpa media, fatalisme sudah merebak akibat hidup yang sangat sulit bagi sebagian besar orang. Tetapi, dengan media yang memperdagangkan fatalisme, keyakinan ini disiram subur dan dapat bergulir ke sana-ke mari secara cepat dan destruktif.
Menjadi kebutuhan sangat mendesak agar semua pihak melakukan langkah-langkah memerangi fatalisme lewat berbagai cara sesuai dengan kapasitas masing-masing. Manusia Indonesia perlu memperoleh kembali optimismenya, harapannya, dan rasa berdayanya untuk membangun bangsa.

Kristi Poerwandari

Dosen Fakultas Psikologi UI dan Program Studi Kajian Wanita UI; Pendiri Yayasan PULIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: