Menolak Warisan Utang Sejarah

Menolak Warisan Utang Sejarah

Maria Hartiningsih

Benarkah perjuangan terberat manusia adalah perjuangan menolak lupa seperti dikatakan sastrawan Cekoslovakia, Milan Kundera? Atau justru menolak ingatan, karena ruang dan waktu yang kita huni adalah milik ingatan yang akan selalu mendera? Atau mengingat dan melupakan, karena keduanya berada di dalam satu bejana di ruang bawah sadar manusia?
Tahun ini, peristiwa kerusuhan Mei berada sembilan tahun di belakang. Bangunan-bangunan baru, modern, dan mewah berdiri megah menggantikan gedung-gedung yang hangus dan porak poranda, dan berjejalan memenuhi lahan-lahan yang waktu itu masih kosong.
Jalanan dipadati mobil-mobil mewah, bahkan supermewah, yang harganya tak bisa dibayangkan sebagian besar rakyat Indonesia yang hidupnya seperti merangkak, mengaisi sisa-sisa rezeki yang tercecer untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum. Mereka itu tak bernama, tak berwajah, lusuh dan berdesakan di panggang matahari, terbelalak menyaksikan rangkaian gerbong kereta bernama sistem ekonomi kapitalistik melaju seperti kilat meninggalkan mereka di pinggiran.


Seperti dikemukakan seorang ibu di kawasan Slipi, yang dijumpai beberapa waktu silam. “Setiap memasuki bulan Mei, hati saya tidak keruan. Tapi ya mau apa lagi, anak saya tidak akan hidup lagi, dan hidup harus dilanjutkan. Saya tidak bisa ikut macam-macam karena kalau enggak jualan sehari saja, semuanya pasti terganggu. Biaya hidup mahal, sewa rumah naik terus, biaya sekolah anak-anak juga. Untuk makan kita numpang dari jualan ini. Orang seperti kita enggak boleh sakit, enggak ada ongkosnya.”
Perempuan itu berdagang ketupat sayur. Suaminya buruh serabutan. Mereka mengontrak sepetak rumah di kawasan Slipi, di lingkungan yang sangat kumuh. Keluarga itu menemukan anak perempuannya yang berusia 10 tahun tewas sambil memeluk boneka di Pusat Perbelanjaan Slipi Jaya pada petang tanggal 14 Mei tahun 1998.
Kurun waktu, kebutuhan hidup yang mencekik dan ketiadaan “tetenger” yang menandai bahwa tragedi kemanusiaan itu terjadi di ibu kota negara pada masa damai, membuat lupa seperti berkejaran dengan mengingat.
Jakarta seperti berusaha keras mengubur peristiwa kelam yang menghitamkan sejarahnya sebagai ibu kota negara, ibarat gadis yang berpupur tebal bersolek cantik untuk menutupi luka membusuk di tubuhnya.
Padahal, tragedi tanggal 13-15 Mei 1998, yang menurut catatan tim Relawan untuk Kemanusiaan itu menewaskan 1.217 orang, 91 terluka, dan 31 orang hilang, telah menghancurkan kepercayaan kepada negara, membiakkan prasangka, melantakkan perasaan sebagai manusia, dan menggelembungkan negativitas yang tidak sanggup didefinisikan oleh diri sendiri, tetapi oleh sesuatu di luar diri, yakni dampak yang ditimbulkannya. Terutama yang menyebabkan kerusakan total dari hidup kebersamaan: peristiwa pemerkosaan dan penganiayaan seksual terhadap para perempuan etnis Tionghoa di Jakarta, yang terlacak hampir sebulan setelah peristiwa itu.

Menolak lupa
Setiap memasuki bulan Mei, sebagian keluarga korban di dampingi organisasi-organisasi nonpemerintah kembali mempertanyakan kesungguhan pemerintah untuk menuntaskan penyelesaian peristiwa kerusuhan Mei.
Dalam berbagai kegiatan yang dilakukan, mereka terus berusaha merebut ruang untuk bersuara agar kebenaran dan keadilan dari sudut pandang korban didengar, sekaligus mengajak orang mengingat kembali tragedi yang menghunjam jantung kemanusiaan itu.
Namun, dari ribuan keluarga korban, hanya beberapa yang masih melakukan pertemuan secara reguler dengan korban dan keluarga korban lainnya, termasuk dari berbagai peristiwa politik lain yang tak pernah dituntaskan.
Sebutlah Bu Darwin dan Bu Ruminah, dua ibu dari korban yang tewas di Yogya Plaza, Klender, dalam kerusuhan Mei dan Bu Sumarsih, ibu dari Wawan, yang tewas dalam tragedi Semanggi I, pada bulan November tahun 1998.
Mereka juga aktif dalam berbagai aksi damai karena meyakini apa yang dikatakan penyair Cile, Pablo Neruda, “Action is the Mother of Hope”.
Seperti selalu dikatakan Bu Darwin, “Dengan selalu berkumpul dengan korban dan mengikuti berbagai kegiatan, saya memelihara harapan akan keadilan.”
Upaya menolak pelupaan terus dilakukan. Di antaranya oleh mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang dalam rangkaian acara mengenang kerusuhan Mei tahun 1998, mereka mementaskan “Clara“, diadaptasi dari cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma, berjudul sama.
“Clara” berkisah tentang peristiwa pemerkosaan seorang gadis Tionghoa dalam peristiwa kerusuhan Mei di Jakarta. Gadis itu meminta pertolongan aparat, tetapi yang ia dapatkan adalah perlakuan yang bisa dipandang sebagai pemerkosaan ulang.
“Kami berharap agar kekejian seperti itu tidak terjadi lagi,” ujar Agnes Rosliana Samosir FCJ, salah satu koordinator pentas. “Kami juga berharap agar mahasiswa menyadari banyaknya kasus pelanggaran HAM yang tidak pernah terungkap.”
Akan tetapi, dampak dari tragedi kemanusiaan itu juga menghabiskan energi mereka yang bergulat secara intens dengan persoalan korban. Seperti aktivis Ester Indahyani Jusuf. “Dua tahun saya menghentikan hampir seluruh kegiatan saya,” ujar penerima Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2001 sebagai pembela hak asasi manusia.
Selama dua tahun Ester menderita kelelahan fisik dan mental yang sulit dijabarkan dalam kata-kata. Namun, kurun waktu itu juga merupakan kesempatan baginya untuk mengambil jarak, setelah bertahun-tahun Ester bersama lembaganya, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), bekerja untuk korban kerusuhan Mei.
“Saat itu mengangkat tangan pun terasa sangat berat,” kenang Ester, yang kemudian bersama beberapa temannya berhasil menyelesaikan penulisan hasil investigasi SNB atas kerusuhan Mei 1998.
Buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan itu diluncurkan Kamis 10 Mei 2007, diterbitkan oleh SNB dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia (APHI).
Penerbitan buku yang menengarai peristiwa sembilan tahun lalu itu merupakan bagian dari upaya menolak pelupaan karena seluruh upaya untuk menguakkan kebenaran dan menegakkan keadilan atas peristiwa itu seperti mengalami kebuntuan.
“Pengungkapan Kerusuhan Mei 1998 secara tuntas merupakan utang sejarah bangsa Indonesia,” ujar Candra Setiawan, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2002-2007.
Lembaga Independen Komnas HAM, seperti dikemukakan Candra, telah melaksanakan tugasnya sebagai penyelidik dan menyimpulkan bahwa kerusuhan yang dikenal dengan Peristiwa Mei 1998 telah memenuhi unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana tercantum dalam UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Akan tetapi, laporan Tim Gabungan Pencari Fakta yang diverifikasi oleh Tim Ad Hoc bentukan Komnas HAM setebal 6.000 halaman yang distempel dan dilegalisasi ini terus terombang-ambing antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Berkas itu dikirimkan ke Kejaksaan tahun 2003, tetapi dikembalikan lagi ke Komnas HAM karena dianggap “belum lengkap”. Tahun-tahun berikutnya, pembicaraan tentang berkas itu makin menyurut.
Chandra menyayangkan, pemerintah (dalam hal ini Kejaksaan Agung) sebagai institusi penyidikan tidak terketuk hatinya untuk meneruskan penyidikan kasus tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat pun tidak bersikap tegas, padahal pengungkapan lewat pengadilan yang bertanggung jawab sangat penting agar pihak-pihak yang wajib dimintai pertanggungan jawab tidak begitu saja terlepas dari segala tuntutan.
“Selama sisa rezim yang represif masih ada, selama itu pula kebenaran sulit mendapatkan tempat,” ujar ahli hukum dari dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Komariah, beberapa waktu lalu.
Chandra berharap pemerintah berani menuntaskan penyelesaian Peristiwa Mei 1998 agar anak cucu penerus bangsa ini tidak terbebani begitu banyak warisan utang sejarah.
Sayangnya, pelaku tampaknya terus berusaha melupakan apa yang telah mereka lakukan, sambil berusaha menarik lebih banyak orang untuk melupakan Peristiwa Mei, atas nama “persatuan bangsa”. Seluruh mekanisme dan sistem yang berjalan saat ini seperti mendukung upaya pelupaan ini.
Pertanyaannya adalah, mungkinkah suatu “persatuan” yang tulus bisa diwujudkan dari kemanusiaan yang retak?

Maria Hartiningsih

Wartawan KOMPAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: