Ketika Ideologi Jadi Skizofrenik

Ketika Ideologi Jadi Skizofrenik

Helwan Purwanegara

Globalisasi ekonomi sebagai manifestasi kapitalisme yang paling mutakhir telah memaksa manusia untuk memikirkan ulang diri dan dunianya. Itu tak lain karena globalisasi ekonomi telah mengikat masyarakat di seluruh dunia dalam satu sarana transaksi yang kita sebut: pasar global.

Masyarakat kapitalisme global terjebak dalam labirin persaingan yang tinggi, persaingan yang ditularkan dari ranah modal. Perusahaan-perusahaan multinasional berlomba-lomba menciptakan strategi produksi dan pemasaran yang mampu memikat hati konsumen. Untuk memperkenalkan produk-produknya, perusahaan- perusahaan tersebut menggunakan iklan sebagai media promosi. Dengan ditunjang kemajuan teknologi informasi yang sangat canggih, jenis dan motif iklan yang dihasilkan semakin bervariasi. Iklan begitu memainkan peranan penting dalam memperkenalkan sebuah produk.


Perusahaan-perusahaan besar yang didukung oleh modal raksasa berhasil menciptakan berbagai bentuk iklan yang mampu menghipnotis masyarakat untuk berlomba-lomba menciptakan persaingan dalam gaya hidup dan konsumsi: antarkelas, antargolongan, antarumur, dan sebagainya. Kebutuhan tidak lagi bersifat material, tetapi lebih bersifat simbolik.

Budaya konsumerisme adalah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan terus- menerus lewat penggunaan citra, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya didorong logika hasrat (desire) dan keinginan (want) ketimbang logika kebutuhan (need)

Konsumen skizofrenik
Hasrat telah mengambil alih peran rasio sebagai fakultas yang menggerakkan tindakan. Berkuasanya hasrat kemudian telah mengantarkan masyarakat kapitalisme lanjut menuju sebuah kondisi yang katastropik, tercabik-cabik; sebuah kondisi yang skizofrenik.

Skizofrenia menjadi terminologi yang tepat untuk menggambarkan kuasa hasrat dalam kehidupan masyarakat kapitalisme lanjut. Pribadi yang telah terjangkiti penyakit ini tidak lagi mampu mengontrol kesadarannya. Kesadarannya terbelah, tercabik-cabik, sehingga tidak mampu mengendalikan hasrat dan tindakannya. Perilakunya menjadi obsesif dan kompulsif.

Kondisi skizofrenik dapat dilihat dari kehidupan para konsumen, yang merasa kebingungan setelah membeli sebuah produk tertentu. Karena sering kali ketika mereka membeli sesuatu, tidak didasari atas pertimbangan yang kuat, sehingga manfaat dan kegunaannya dipertanyakan kembali setelah produk tersebut sudah dibeli.

Ironisnya, sebagian ahli justru menganggap hal itu sebagai sebuah kecenderungan psikis yang kreatif dan produktif. Kegilaan justru dianggap sebagai mesin produksi yang ampuh dalam mempertahankan keberlanjutan kebudayaan mutakhir sekarang ini. Deleuze dan Guattari misalnya, menganggap skizofrenia sebagai kegilaan yang produktif, atau kegilaan yang afirmatif. Skizofrenia menjadi terminologi yang digunakan untuk menjelaskan fenomena pembebasan hasrat dari berbagai aturan, kekangan, dan norma-norma sosial yang membatasinya.

Budaya konsumerisme sebagai sebuah wacana pelepasan hasrat telah mampu menciptakan apa yang disebut Fredric Jameson sebagai “konsumen skizofrenik”, yaitu para konsumer yang hanyut dalam kegilaan pergantian produk, gaya, tanda, prestise, identitas tanpa henti, tanpa mampu lagi menemukan kedalaman makna dan nilai-nilai transendensi di baliknya.

Dunia “hyper”

Kecepatan dan percepatan yang tak terkendali di dalam wacana budaya konsumerisme yang didukung oleh sistem ekonomi kapitalis telah menggiring manusia ke arah kondisi atau dunia yang “melampaui” (hyper), yaitu kondisi yang menuju titik ekstrem, bahkan lebih jauh lagi.

Setiap unsur ekonomi berkembang ke arah titik yang seharusnya tidak ia lewati: produksi berkembang ke arah hyper-production (produksi yang melampaui kapasitas dan batas konsumsi); konsumsi berkembang ke arah hyper-consumption (konsumsi yang melampaui kebutuhan manusia); pasar berkembang ke arah hyper-market (pasar yang melampaui fungsi sebagai arena transaksi barang dan jasa); komoditi berkembang ke arah hyper-commodity (komoditi yang melampaui alam komoditi); dan komunikasi berkembang ke arah hyper-communication (komunikasi yang melampaui fungsi komunikasi itu sendiri).

Naluri konsumtif manusia dimanjakan dan dikondisikan untuk mengikuti arus produksi yang serba hyper tersebut. Masyarakat tidak lagi berdaya membendung arus perubahan tersebut, sehingga setiap proses konsumsi yang telah dilewati, tidak meninggalkan jejak makna. Sebab, pada dasarnya logika hyper tidak menghendaki adanya perenungan yang menghasilkan makna.

Spirit kapitalisme global adalah logika “kecepatan”. “Kecepatan” dalam wacana kapitalisme global adalah kebutuhan bagi percepatan dalam perputaran dan akumulasi kapital, sehingga diciptakan pula tempo konsumsi yang tinggi. Apa yang disebut percepatan tak lain adalah tempo produksi, sirkulasi, dan konsumsi barang-barang konsumer. Di dalam kapitalisme global, periode perputaran modal cenderung diperpendek, dengan cara mempercepat tempo produksi dan konsumsi, dengan demikian sebenarnya telah mempercepat tempo kehidupan secara keseluruhan.

Untuk menciptakan keseimbangan dalam dirinya, kapitalisme global terus meregulasi dirinya dengan menciptakan keseimbangan antara aspek produksi dan konsumsi. Dengan perkataan lain, agar tetap hidup kapitalisme global harus terus memproduksi “konsumsi” itu sendiri supaya aktivitas produksi dapat berlangsung terus-menerus.

Lahirlah hedonisme

Memproduksi “konsumsi” artinya menciptakan kebutuhan- kebutuhan artifisial. Masyarakat dikonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah, untuk memenuhi segala bentuk hasrat (prestise, status, simbol). Dengan hanya ditemani benda- benda di sekitarnya, individu dalam masyarakat cenderung mengisolasi dirinya dari lingkungan sosialnya.

Sikap yang berkembang kemudian adalah “hedonisme” atau sikap mementingkan kesenangan diri sendiri tanpa perlu pemahaman apa itu tujuan sosial dan tujuan hidup bersama. Kapitalisme dibangun di atas fondasi sikap individualisme tak berjiwa.

Jonathon Porritt dalam Seeing Green; the Politics of Ecology Explained (1990) mengatakan bahwa kapitalisme global dibangun di atas landasan filsafat “materialisme tak berjiwa” (mindless materialism). Maksudnya, sebuah keyakinan yang kering, yang meyakini bahwa kekayaan material sebagai sumber kebahagiaan sehingga menjadi tujuan hidup, dan tidak ada makna bagi kehidupan selain lewat pemenuhan materi.

Sementara Donella Meadows dalam Beyond the Limits: Global Collapse or a Suistainable Future (1996) memakai istilah overshoot untuk menjelaskan pertumbuhan kapitalisme global yang telah melampaui tapal batas yang seharusnya tidak ia lalui, yang menggiring kehidupan bumi menuju kehancuran. Kebutuhan akan perbedaan produk, pemujaan hasrat, dan liarnya perputaran akumulasi kapital telah mendorong kapitalisme global menguras setiap sumber daya alam, setiap titik energi, seakan- akan bumi menyediakan sumber daya yang tanpa batas.

Jalan satu-satunya untuk mencegah kecepatan kehancuran global adalah dengan cara mengubah pandangan dunia secara mendasar. Mengubah paradigma kehidupan sosial itu sendiri. Masyarakat global tidak lagi harus semata-mata menggantungkan masa depan mereka pada indikator-indikator pertumbuhan ekonomi.

Di masa depan indikator-indikator yang lebih mementingkan “kesejahteraan sosial” ketimbang pada angka-angka pertumbuhan harus dijadikan dasar bagi paradigma pembangunan yang lebih baik.

Helwan Purwanegara

Peneliti Masalah-masalah Sosial, Tinggal di Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: