Simbol Paradoksal Budaya Jawa

Simbol Paradoksal Budaya Jawa

Tjahjono Widijanto

Simbol bagi masyarakat Jawa terbentuk dan hadir sebagai permainan wacana dan sarana pelatenan atas hal-hal yang bersifat wadak. Tetapi, di balik itu ia juga menyiratkan sebuah “kebenaran-esensial”.
Penyiratan “kebenaran- esensial” ini terjadi karena adanya motif tentang hal yang dianggap tabu (saru), tidak sopan, untuk menyembunyikan kehormatan seseorang, untuk menyindir, untuk menyampaikan sebuah konsepsi, atau untuk kepentingan estetika.
Simbol yang paling halus dan paling rumit dalam khazanah budaya Jawa adalah simbol yang berkaitan dengan seks. Ini terjadi karena persoalan seks bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai masalah yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Maka, seksualitas sering kali ditampilkan sehalus mungkin, secara tidak langsung atau tersirat.
Di sisi lain, persoalan seksual—selain sebagai persoalan mistik (religi) dan kesaktian (laku)— juga merupakan persoalan yang sebenarnya paling banyak dibicarakan dalam cerita-cerita tradisional dan babad. Seksualitas dalam budaya Jawa adalah hal yang dalam ekspresinya kontradiktif: paling digemari tetapi paling disamarkan.


Simbol seksual tertulis secara gamblang dapat diamati pada kitab Pararaton yang ditulis pada abad ke-16. Di sana dikisahkan bagaimana tokoh Ken Arok yang berawal dari seorang preman kemudian berhasil menjadi Raja Singasari bergelar Rajasanegara Sang Amurwabhumi. Keberhasilan Ken Arok menjadi raja terinspirasi ketika secara tidak sengaja melihat kain yang dipakai Ken Dedes, istri Tunggul Ametung—saat itu memegang tampuk kekuasaan di Tumapel—tersingkap.
Ken Arok melihat bagian bawah pusar putri tersebut bercahaya; rahasyanirakaton murub (rahasianya yang menyala). Bawah pusar Dedes yang bercahaya dalam Pararaton disebut sebagai cahaya naraiswara atau nariswari, yang berarti rahasia ratu. Sementara kala itu terdapat kepercayaan: siapa saja yang mampu memperistri wanita yang mempunyai nariswari dapat menjadi dan melahirkan raja-raja di tanah Jawa.
Tersingkapnya kain Ken Dedes ini sebenarnya dapat dimaknai sebagai sebuah metafor di mana terjadi perselingkuhan antara Ken Arok dan Ken Dedes, yang lalu melebar menjadi konspirasi politik untuk menyingkirkan Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Simbol seksual semacam ini terulang lagi pada kitab-kitab yang lebih muda, misalnya pada Babad Tanah Jawi dan cerita tentang Roro Mendut.
Dalam salah satu bagian Babad Tanah Jawi ada kisah tentang perjalanan karier Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya yang menggeser Demak dan mendirikan Kerajaan Pajang. Dalam salah satu bagian diceritakan pengembaraan Mas Karebet saat berlayar di Bengawan Solo, di mana ia tak perlu mendayung rakitnya karena sudah di dorong oleh empat puluh buaya (sinangga sekawan dasa bajul).
Dalam satu tafsir, empat puluh buaya itu dianggap menggambarkan Mas Karebet yang dikenal sebagai seorang playboy (Jw: thukmis) dengan banyak affair percintaan di sepanjang pengembaraannya. Sifat thukmis ini lebih gamblang terurai pada bagian selanjutnya. Saat menjadi perwira prajurit, ia diusir dari Kerajaan Demak karena membunuh seorang calon prajurit bernama dadhung awuk, tanpa senjata, tetapi hanya menggunakan sadhak kinang (selembar suruh yang dipakai untuk kinang yang digulung memanjang).
Kata dadhung awuk adalah simbolisasi seksual. Dadhung berarti tali dan awuk (bawuk) berarti alat kelamin perempuan. Simbol ini dapat ditafsirkan sebagai perempuan yang dipingit atau di-“ikat”. Adapun sadhak kinang mengingatkan pada bentuk lingga yang mempresentasikan alat vital laki-laki. Dengan demikian simbol itu dapat dimaknai: Mas Karebet diusir dari Demak karena bercinta dengan salah seorang putri Sultan Trenggana, penguasa Demak.

Seks dan kekuasaan
Di masyarakat Jawa persoalan seksual tidak saja dianggap sebagai “kenikmatan”, lebih dari itu selalu tak lepas dari kekuasaan. Motif seks dan kekuasaan yang bermula dari strategi Ken Arok inilah yang kemudian menjadi strategi ampuh yang ditiru dan terbukti berdaya guna oleh kerajaan-kerajaan di tanah Jawa sesudahnya.
Perkawinan politik yang merupakan perwujudan kuasa seksual terhadap kepentingan kekuasaan sebagai sesuatu yang sah dan formal dapat dilihat pada cerita Panji Semirang yang di susun pada masa pemerintahan Kameswara II di Kediri (1104-1222). Cerita Panji Semirang berbeda dengan Pararaton. Di sini lebih banyak bercerita tentang percintaan dan ujung- ujungnya terjadi perkawinan antara Inu Kertapati dan Candra Kirana yang membuat empat negara—Kediri, Kahuripan, Gegelang, dan Singasari—bersatu.
Pernikahan politis seperti ini juga dilakukan pada masa Majapahit, di mana Kertarajasa menikahi putri Dara Petak dari negeri Campa untuk menanggulangi invasi kerajaan China (Tartar). Pada masa Kerajaan Mataram (Islam) mulai dari raja pertamanya, Panembahan Senopati (Sutawijaya), hingga Sultan Agung, wanita, pernikahan, dan seks ternyata dapat menjadi mesin penakluk yang efektif.
Panembahan Senapati menundukkan Mangir dengan “mengumpankan” putrinya untuk menjerat Ki Ageng Mangir. Demikian juga Madiun ditaklukkan dengan siasat “simpatik”, menikahi putri Panembahan Madiun. Pada masa cucu Panembahan Senapati, Sultan Agung menjadi penguasa, daerah pesisir utara dilumpuhkan dengan menaklukkan Surabaya (yang berkali-kali melakukan perlawanan) dengan menikahkan putrinya bernama Wandan Wangi dengan Pangeran Pekik. Itu beberapa contohnya.

Seks di Jawa kuno
Simbol seksual di tanah Jawa sebenarnya sudah muncul sejak masa prasejarah, tetapi dengan wujud representasi genitalia dengan dikenalnya kultus phallistic berupa batu tegak. Ketika agama Hindu masuk, kultus phallistic ini segera berubah menjadi pemujaan kepada lingga dan yoni, yang kemudian jadi populer.
Secara mitologis, lingga dan yoni adalah perwujudan dari dewa tertinggi, Siwa, dan istrinya, Parwati. Dalam cerita Dewadaru-Mahatmya, Siwa menampakkan diri sebagai pemuda tampan bertelanjang bulat di depan asrama putri, yang mengakibatkan kegemparan. Pendeta pimpinan asrama mengutuk agar kemaluan pemuda itu jatuh.
Dan, jatuhlah lingga seiring terjadinya gempa bumi yang dahsyat sehingga memaksa para dewa lain memohon agar Siwa memasang kembali lingganya. Siwa menyanggupi dengan syarat manusia menghormati lingganya, kemudian lingga Siwa yang jatuh ditampung oleh Dewi Parwati, istri Siwa yang mengubah dirinya menjadi yoni.
Simbol-simbol seksual ada yang tampak kasar dan mengerikan. Seperti ditemukan di Tulangagung di Dukuh Patik dan Dukuh Ngreco di Trenggalek: arca raksasa jongkok dengan genital yang terayun keluar cawat di sebelah kiri. Penis yang terayun keluar cawat di sebelah kiri tersebut sering dihubungkan dengan ritus pemujaan Tantrayana aliran kiri (niwrti) yang dianggap sesat oleh aliran kanan (pravrtii), yang melakukan praktik panca-ma yang bertujuan mengajarkan penganutnya mendapatkan kesaktian. Ritual mabuk- mabukan hingga pesta orgi seperti pada Tantrayana di zaman Kartanegara, raja terakhir Singasari (abad ke-14), digambarkan sebagai suatu perayaan sadistis yang tidak lepas dengan mayat, darah, dan seksual.
Masih banyak pemaknaan simbol-simbol seks dalam budaya dan seni Jawa. Hal ini menandakan, soal seks di masyarakat kuno ini memiliki peran yang tidak kecil dalam kehidupan sehari-hari mereka, di tingkat terbawah hingga puncaknya. Satu kenyataan yang boleh jadi belum bergeser hingga saat ini. Seperti terbukti pada beberapa kasus seks yang terkuak belakangan ini. Persoalannya, bisakah kita mengakui? Atau, sekali lagi, hanya bisa menyiratkannya?

Tjahjono Widijanto

Penyair, Tinggal di Ngawi, Jatim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: