Menyangsikan Corak Globalisasi

Menyangsikan Corak Globalisasi
B Herry Priyono

Agustus adalah bulan sibuk dengan wacana kebangsaan. Dan beberapa tahun ini, wacana kebangsaan yang muncul setiap bulan Agustus berisi kecemasan yang dihantui satu istilah besar: globalisasi.
Tidak jelas apa yang dicemaskan dari globalisasi. Namun, agaknya kecemasan itu menunjuk suasana ini: sebagai bangsa kita merasa tertimpa kekuatan raksasa yang beroperasi seluas bola dunia, entah itu daya kultural, ekonomi, finansial, politik, atau teknologi. Bagi sebagian, cara menanggapinya adalah berbicara di mana-mana tentang kompetisi. Sebagian lain menanggapi dengan meratapi situasi ketertimpaan itu. Lainnya lagi bermimpi mengeruk keuntungan sebesar mungkin dengan mendirikan sekolah-sekolah global, tanpa peduli tujuan pendidikan. Namun, kaitan antara soal kebangsaan dan globalisasi tetap saja menjadi teka-teki.


Alkisah, saat Jakarta sedang riuh rendah dengan pilkada, 8 Agustus 2007, Bank Pembangunan Asia (ADB) mengeluarkan laporan Key Indicators 2007 yang mungkin dapat digunakan untuk memahami watak globalisasi saat ini. Dalam laporan dengan statistik amat kaya itu, dikenali ada dua kecenderungan yang tidak disebutkan. Pertama, selama ini kita terlalu merayakan globalisasi tanpa cukup melakukan kritik. Kedua, ambivalensi (watak mendua) globalisasi di Asia tampil amat telanjang.

Perayaan berlebihan
Mirip di kawasan Asia, kita di Indonesia menanggapi globalisasi seperti anak kecil mendapat mainan baru, lalu berhari-hari mulut, tangan, dan perilakunya heboh dengan itu. Bagi orang dewasa, kehebohan itu jenaka dan memesona. Namun, orang dewasa mengerti, kehebohan itu adalah bentuk obsesi. Sayang, kerumunan perilaku sebuah bangsa tidak sama dengan perilaku seorang manusia. Lebih mudah membangunkan seorang anak dari obsesi daripada sebuah bangsa dari ilusi.
Laporan ADB 2007 berjudul Kesenjangan di Asia dapat membangunkan kita dari heboh kekanak-kanakan terhadap globalisasi. Dalam bahasa ADB yang amat sopan, kesenjangan yang kian tajam di Asia “bukan kisah kaum kaya yang kian kaya dan kaum miskin yang makin miskin, tetapi kisah tentang kaum kaya yang menjadi kaya lebih cepat daripada kaum miskin”. Dari berbagai penyebab, corak globalisasi saat ini dilihat sebagai salah satu faktor penting. Ciri globalisasi apa yang membuat kesenjangan kian tajam?
“Sebab-akibat” (kausalitas) dalam ilmu-ilmu sosial tentu istilah licin; biasanya hanya ditunjuk melalui indikator. Contoh jelas yang diajukan adalah pola di India. Globalisasi—terkait reformasi ekonomi pasar dan teknologi—telah menciptakan bias yang melumpuhkan kaum yang buta huruf dengan idiom global. ADB menyebutnya “teknologi dengan bias keterampilan” global (skill biased technologies). Artinya, kita yang terdidik dengan idiom kultural dan teknologi global punya akses jauh lebih besar pada globalisasi. Maka globalisasi jauh terlihat sebagai berkah ketimbang kutuk. Sebaliknya, kita yang tidak fasih dengan kinerja global akan merasakan globalisasi sebagai kutuk.
Agaknya, itulah yang menjelaskan mengapa kelompok pertama lebih cepat kaya daripada kelompok kedua. Namun, bukankah pola itu sudah jelas dengan sendirinya bahkan ketika kata “globalisasi” baru mulai menjadi buah-bibir? Yang menawan, ADB menunjukkan pola itu dalam perbandingan seluruh Asia. Ada tiga pokok yang mungkin berguna untuk mengubah pemahaman kita tentang globalisasi.
Pertama, klaim globalisasi menguntungkan semua orang adalah klaim yang datang atau dari kenaifan atau dari kepentingan yang harus dipertahankan. Kepentingan itu bisa berupa keterdidikan kita dalam idiom global dan bisa pula keuntungan ekonomi, kultural, politik, dan teknologi yang kita raup dari proses globalisasi.
Kedua, pokok itu memaksa kita mengakui berlakunya induk segala klise: globalisasi dalam coraknya seperti sekarang berisi janji ekonomi-politik “tetesan ke bawah”. Ia berupa janji, berkah globalisasi bagi kaum miskin akan menetes ke bawah jika, hanya jika, kelompok-kelompok yang paling diuntungkan kinerja globalisasi dalam coraknya seperti sekarang tetap mengendalikan jalannya globalisasi. Maka yang kemudian terjadi adalah tirani status quo, agar berkah menetes pada kaum miskin, globalisasi harus tetap berlangsung dalam coraknya seperti sekarang.
Ketiga, cara berpikir ganjil itu yang rupanya menuntun kita untuk terlalu merayakan globalisasi. Apa yang dimaksud “merayakan” adalah cara menanggapi dengan eforia dalam gejala yang terjadi. Dalam suasana itu, pendekatan kritis tidak dilihat sebagai kesungguhan untuk membuat globalisasi menjadi bagian integral hidup kita, tetapi dilihat sebagai sikap antiglobalisasi. Namun, mengapa kritik atas globalisasi begitu perlu?

Ambivalensi globalisasi
Seperti gejala lain di bawah langit, globalisasi punya wajah mendua, baik dan buruk. Mengapa harus memakai istilah moral “baik” dan “buruk”? Itu karena apa yang terjadi dalam globalisasi menyangkut tindakan manusia dengan implikasinya pada hidup bersama. Andai globalisasi adalah peristiwa seperti gempa tektonik, dan bukan akibat tindakan manusia, tak ada soal baik dan buruk.
Contoh kecil mungkin berguna. Bagi keluarga buruh, revolusi harga murah yang terlibat dalam globalisasi ekonomi adalah berkah. Maka, harga sepatu sekolah yang kian murah bagi anak seorang buruh umumnya disebut baik. Namun, proses kemudahan relokasi industri sepatu yang terlibat revolusi harga murah itu mempermudah PHK ayah anak itu. Itu terjadi dalam keluarga yang sama. Mengapa harga murah sepatu umumnya disebut baik, sedangkan PHK buruh umumnya disebut buruk? Itulah ambivalensi globalisasi.
Ambivalensi itu tidak akan lenyap. Itu menunjukkan, dalam proses globalisasi terlibat simpang siur gejala yang tidak seragam, bahkan gejala satu bertentangan dengan gejala lain. Ambivalensi antara murahnya harga sepatu dan mudahnya PHK buruh dalam keluarga yang sama adalah contohnya. Dalam kisah ambivalensi seperti inilah Laporan ADB 2007 mengisyaratkan, kita di Indonesia terlalu merayakan globalisasi dan sama sekali belum cukup menganggap serius ambivalensi globalisasi. Kita masih dalam eforia, dan itu terjadi di bidang teknologi, ekonomi, keuangan, politik, ataupun kultural.
Mengingat globalisasi selalu berwatak ambivalen, kritik terhadap corak globalisasi yang kini berlangsung merupakan tuntutan yang tak bisa ditawar. Kritik-kritik itu diperlukan tidak dalam rangka “pro” atau “anti” (karena kedua posisi itu sama-sama mematikan diri), tetapi agar berbagai kebijakan publik yang menyangkut titik temu antara persoalan kebangsaan dan globalisasi tidak dibuat dan dilakukan atas dasar eforia dan kenaifan.
Mengapa terlalu merayakan globalisasi dan naif atas ciri ambivalen globalisasi itu fatal untuk proyek kebangsaan? Lantaran ruang bagi gagasan kian sempit, jawabnya hanya bisa dibuat hemat: karena para tuan besar globalisasi tidak peduli apakah Indonesia terbentuk sebagai bangsa, sedangkan kita terpaksa peduli secara kritis atas corak globalisasi yang berlangsung saat ini.

Globalisasi adalah kisah tentang asimetri.

B Herry Priyono

Dosen pada Program Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: