Sekolah Bukan Pabrik Manusia

Minggu, 23 September 2007

Perpres 77/2007
Sekolah Bukan Pabrik Manusia

Dengan alasan meningkatkan mutu pendidikan dan kapitalisasi modal, pemerintah telah menetapkan pendidikan sebagai bagian dari paket kebijakan liberalisasi. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 77 Tahun 2007, pendidikan ditetapkan sebagai bidang usaha yang terbuka untuk penanaman modal asing. Satu-satunya syarat penanaman modal asing itu adalah bahwa pihak luar hanya boleh menanamkan modal maksimal sebesar 49 persen. (Kompas, 19/09). Perpres ini akan diperkuat lagi dengan Ran-cangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan yang sedang digodok di DPR.
Dengan kebijakan ini kewajiban konstitusional pemerintah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” (salah satu tujuan negara dalam Pembukaan UUD ’45) sedang diminimalkan. Lembaga pendidikan disamakan seperti bisnis produk dan jasa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar yang memerlukan perputaran uang dan penumpukan modal. Prinsip ekonominya kira-kira juga akan sama, “dengan modal sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya”.
Diduga, Perpres ini muncul karena pemerintah sedang defisit dana untuk membiayai pendidikan, yang dalam UUD ’45 wajib untuk dialokasikan sebesar 20 persen dari APBN. Dengan Perpres ini, pemerintah hanya akan membiayai lembaga pendidikan negeri saja sementara lembaga pendidikan swasta dibiarkan bersaing mengikuti hukum pasar.
Dalam hukum pasar, mereka yang modalnya kuat akan mampu meningkatkan kualitas produk dan meraup konsumen dalam jumlah besar. Dalam lembaga pendidikan berarti, sekolah/universitas swasta yang bermodal besar akan terus meningkatkan mutu dan fasilitas pendidikan dan secara berantai akan mempengaruhi biaya dan akses pendidikan itu sendiri. Singkatnya, hanya segelintir orang saja yang akan mampu memperoleh pendidikan bermutu dan sisanya tercecer menjadi pengangguran.
Romo Doni Koesoema, SJ (pemerhati pendidikan, studi khusus tentang pendidikan) mensinyalir adanya kesalahan mendasar dalam membangun pendidikan di Indonesia yaitu paradigma bahwa pendidikan disamakan dengan pabrik. Kurikulum adalah alat produksi. Siswa adalah materi kasar yang harus diolah dan dibentuk menjadi barang jadi. Guru adalah teknisi terampil bagian memasang sekrup pada mesin.
Itulah sebabnya kenapa kurikulum selalu berganti tiap kali ganti menteri. Ibarat alat produksi, merk-nya tergantung selera pemilik modal.
Siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional yang standartnya disamakan untuk seluruh Indonesia tanpa memperhatikan potensi dan kemampuan siswa. Ibarat barang jadi, bentuk, warna, ukuran dan fungsinya harus sama. jika ada produk yang cacat, tong sampahlah tempatnya.
Baru-baru ini juga sedang berjalan program sertifikasi bagi guru. Ibarat teknisi mesin, kemampuan mereka harus seragam dan syarat utama adalah mampu mengoperasikan mesin produksi.
Sekolah sekarang sudah mulai kehilangan cita-cita mulianya untuk “membentuk watak dan kepribadian” karena yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah proses pembentukan lulusan sekolah yang “hanya” terampil dan siap masuk ke dalam pertarungan meraih sukses di pasar kerja yang paling memberi kepuasan dan imbalan material tinggi.
Mencetak tenaga terampil yang siap kerja adalah kepentingan pemilik modal (baca: kapitalisme) sedangkan membentuk lulusan yang berwatak, berakhlak, berilmu dan berkepribadian Indonesia adalah kepentingan kita semua. Disinilah perbedaan mendasar tentang tujuan pendidikan mulai terasa.
Rentetannya jelas. Negara tidak punya dana lagi untuk meningkatkan mutu pendidikan karena harusa membayar utang luar negeri warisan pejabat-pejabat korup masa lalu. Akibatnya, pemerintah “lepas tangan” atas kewajiban meningkatkan mutu pendidikan dan menyerahkannya pada para pelaku pasar yang notebene hanya mencari laba.
Karena pendidikan kita jauh tertinggal soal mutu, maka watak, akhlak, etika dan kepribadian tidak berfungsi lagi. Korupsi tumbuh subur karena lulusan sekolah kita tidak dibekali ‘nilai’ yang luhur dan hanya sibuk memperkaya diri sendiri.
Sungguh sebuah lingkaran yang menyeramkan bagi masa depan pendidikan kita. Semoga memberi inspirasi untuk berbuat sesuatu.

Yudhit Ciphardian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: