1000 hari Rm Sastropranoto, CM

Minggu, 30 September 2007

Mengenang 1000 hari Rm Sastropranoto, CM
Penggembala Mahasiswa yang tak Kenal Lelah

Bagi generasi 1960-1980 yang kuliah di Surabaya dan aktif dalam kegiatan orang muda atau kemahasiswaan pasti masih ingat dengan sosok Rm Johanes Sastropranoto, CM (akrab dipanggil Romo Sas).
Selama 24 tahun sejak 1963 sampai 1987 Romo Sas menjadi Pembina Pastoral Mahasiswa, dosen Unair dan moderator Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI).
Pada jaman itu, mayoritas mahasiswa Katolik di Surabaya akrab dengan Romo Sas karena gayanya yang khas arek suroboyo; lugas, ceplas-ceplos tapi tulus. Sejarah mencatat beliau sebagai pastor pembina mahasiwa terlama yang ada di Keuskupan Surabaya
Era saat beliau menjabat sebagai pembina mahasiswa adalah era memuncaknya gerakan mahasiswa berhadapan dengan komunisme termasuk upaya menggulingkan Orde Lama sekitar tahun 1966.
Mahasiswa Katolik yang saat itu belum terlalu banyak jumlahnya seakan seperti punya seorang gembala yang mengayomi, melindungi dan mendidik agar tidak salah jalan.
Sejarah juga mencatat, saat itu gerakan mahasiswa Katolik cukup diperhitungkan dalam peta pergerakan nasional. Kelompok Cipayung (kumpulan ormas mahasiswa berbasis agama) menjadi bukti nyata betapa mahasiswa Katolik juga punya nyali.
Gaya kepemimpinannya begitu membekas di hati para alumnus mahasiswa Surabaya yang sekarang tersebar di seluruh dunia.
Romo perokok berat yang fasih berbahasa Belanda, Latin dan Inggris ini menerapkan gaya kepemimpinan orang muda yang tidak menggurui tapi menemani.
Karya pastoralnya yang berumur panjang membuktikan komitmennya untuk mendampingi orang muda dalam menjawab tantangan jaman.
Selain kenangan akan cintanya pada dunia orang muda, orang juga mengenang sosoknya sebagai “orang tua yang berjiwa muda”. Ucapan khasnya “ndhasmu” saat menegur mahasiswanya, begitu lekat dalam memori sebagai sebuah teguran yang tegas tapi tidak menyakitkan. Jarang sekali Romo Sas marah, paling sering adalah bercanda. Beliau adalah “magnet” bagi setiap kerumunan. Topik pembicaraan apapun selalu “dilahap”nya sambil tak lupa menyisipkan pesan-pesan moral.
Penulis merasakan sendiri aura wibawa dan kecerdasannya saat berkunjung ke rumah peristirahatan di Prigen bersama rombongan mahasiswa yang sengaja berkunjung karena penasaran dengan nama besarnya.
Dalam suasana yang gayeng waktu itu beliau sempat melontarkan joke yang mencerminkan ketulusan hatinya. “Orang Indonesia rata-rata diberi umur sampai 60 tahun, saya sudah 69, berarti saya diberi bonus lebih oleh Tuhan untuk bertemu kalian”, ujarnya.
Misa Kebangkitan 1000 hari Romo Sas akan diadakan pada Kamis, 4 Oktober pukul 18.00 di Gereja Kristus Raja dengan selebran Uskup Surabaya, Propinsial CM Indonesia (Rm. Soeparmono, CM) dan Kepala Paroki Kristus Raja (Rm. Basuki Adi, CM)
Seluruh doa-doa kami daraskan untuk pengabdian, komitmen dan cinta Romo Sas pada orang muda.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: