Pengurus Depar Adalah Pelayan Umat

Pengurus Depar Adalah Pelayan Umat

Kurang lebih empat tahun lamanya Keuskupan Surabaya mengalami tahta kosong (latin : sede vacante) pasca mangkatnya Mgr Hadiwikarta dan posisi beliau digantikan oleh Administrator yang dijabat oleh Rm Haryanto CM. Selama kurun waktu itu pula fungsi pelayanan administrasi paroki-paroki seKeuskupan Surabaya dirasakan mengalami penurunan kualitas. Berkaitan dengan itu, salah satu misi kepemimpinan Uskup baru Mgr Sutikno adalah pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan administrasi dan liturgi di paroki-paroki.


Guna merespons itu, Rabu (21/11) lalu diadakan pertemuan pengurus Dewan Paroki HKY di balai paroki. Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Rm Eko Budi Susilo Pr selaku Pastor Paroki ini menghadirkan Vikjen Keuskupan Rm Edi Laksito Pr dan Bendahara Keuskupan Rm Unang Hermawan Pr. Pertemuan ini dihadiri oleh seluruh ketua lingkungan, wilayah, sie paroki dan dewan harian di Paroki HKY.
Mengawali pertemuan dibagikan buku Pedoman Pelayanan Umat dan penjelasan dari Rm Eko Budi perihal maksud dan tujuan penerbitan buku tersebut. Dalam pengantar di buku tersebut, Rm Eko Budi menyatakan bahwa fungsionaris dewan paroki perlu mengetahui aturan-aturan dan pedoman-pedoman yang berlaku umum dalam Gereja Katolik agar pelayanan kepada umat bisa maksimal. “Buku ini adalah buku panduan dan wajib bagi pengurus dewan untuk dipelajari, agar para pengurus kaya akan pengetahuan pastoral dan wawasan iman,” ujar Rm Eko Budi.
Menjadi pengurus sesungguhnya adalah menjadi pelayan, oleh karenanya diperlukan inisiatif dan kemauan baik serta kerelaan hati untuk “jemput bola” membantu umat dalam hal administrasi dan liturgi di semua tingkatan paroki, demikian Rm Eko Budi berpesan.
Rm Nanglik (panggilan akrab Rm Edi Laksito) selaku Vikjen juga berpesan tentang pentingnya menjaga martabat dan kualitas Ekaristi seperti yang berulangkali disampaikan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II. Hal ini untuk menjawab pertanyaan beberapa ketua lingkungan yang menjumpai seringnya misa di rumah umat tanpa sepengeta huan ketua lingkungan. “Sebisa mungkin ketua lingkungan memantau aktivitas umatnya dan terus berkoordinasi dengan romo wilayah,” tutur Rm Nanglik.
Soal maraknya misa di rumah jenasah (misalnya Adiyasa), Rm Nanglik berpesan agar ketua lingkungan menyarankan pada umat yang bersangkutan untuk tidak meminta misa di rumah jenasah mengingat kondisi dan situasi yang kurang kondusif untuk misa yang sakral. “Uskup dan mayoritas imam juga menyarankan untuk tidak misa di tempat seperti itu,” ujar Rm Nanglik.
Senafas dengan semangat reformasi birokrasi yang sedang didengungkan di republik ini, kualitas manajerial dan pelayanan parokial juga penting untuk terus-menerus dibenahi karena disitulah esensi pesan SAGKI 2005, “Bangkit dan Bergeraklah”.

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: