Perempuan dalam Dunia Multipolar

 Perempuan dalam Dunia Multipolar

Pernahkah merasa bersalah kepada anak-anak? Adakah langit-langit kaca?
Mengapa tidak mau dipromosikan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih
menghinggapi perempuan bekerja sampai saat ini.


Desi, ibu dua anak dan seorang profesional di Jakarta, mengatakan,
sepulang dari bekerja yang kadang baru pukul 23.00 tiba di rumah,
kerap merasa bersalah tidak dapat menemani dua putrinya, dari petang
hingga menjelang mereka tidur. Setiba di rumah, dua anak itu sudah
tertidur, kadang ditemani ayah mereka.
“Pernahkah ada rasa bersalah?” tanya Desi kepada Executive Partner
Indonesia Resource Lead Accenture Neneng Goenadi, konsultan manajemen
dan teknologi Accenture Indonesia, dalam acara internal perusahaan
konsultasi itu memperingati hari Perempuan Internasional di Jakarta,
Selasa (11/3).
Pertanyaan lain, adakah waktu untuk diri sendiri bila seorang
perempuan bekerja sudah harus cermat membagi waktu antara pekerjaan
dan keluarga. Silvy yang seperti Desi juga bekerja di Accenture
bertanya, bagaimana membagi membangun relasi dengan anak-anak supaya
tidak ada keluhan dan kritik dari mereka karena ibunya sibuk di tempat
kerja.
Selain Neneng, ada Presiden Direktur D-Net Sylvia Sumarlin sebagai
nara sumber acara yang dihadiri sekitar 50 perempuan dan kurang dari
10 laki-laki dengan tema †Discover Your Opportunities in the
Multi-Polar World†.
Seperti tampak pada paruh pertama acara, di luar pencapaian kemampuan
profesional, perempuan masih menghadapi soal-soal †domestik†. Meskipun
demikian, soal-soal domestik itu tidak menghalangi perempuan mengejar
karier. Persoalannya, bagaimana menyeimbangkan antara karier dan rumah.
†Tentu saja ada rasa bersalah, bohong kalau saya bilang tidak,†jawab
Neneng, ibu satu putri berusia 13 tahun. Untuk menjaga keseimbangan
antara karier dan rumah, Neneng selalu berdiskusi dengan suami dan
anak- anaknya saat ada pekerjaan berat atau proposal yang
penyelesaiannya tidak bisa ditunda. †Kalau tidak dapat dukungan dari
mereka, saya tidak bisa ada di sini. Misalnya, mereka marah-marah
terus, saya tidak dapat bekerja dengan tenang.â€

Keseimbangan
Banyak perempuan akhirnya menemukan jalan untuk menyeimbangkan
kehidupan keluarga dengan kariernya. Sylvia Sumarlin yang mengaku
cukup sulit mendapatkan anak, membawa dua putrinya ke kantor, bahkan
sejak bayi. Ini karena Sylvia memiliki usaha dan kantor sendiri.
Dia juga menyiapkan makan pagi anak-anaknya yang berumur 4 tahun dan 6
tahun, dan makan bersama satu keluarga pada pukul 18.00. †Saya
membacakan cerita sebelum mereka tidur, lalu kerja lagi setelah mereka
tidur. Saya biasa tidur pukul 02.00 dan bangun pukul 05.00,†kata
Sylvia. †Saya mengurus anak-anak bersama suami, dia menunggui
anak-anak kalau saya harus pergi.â€
†Sejak awal saya tahu tidak akan dapat meraih semuanya (karier,
keluarga, dan waktu untuk diri sendiri). Ada yang harus saya
korbankan, tetapi saya tidak merasa terkorbankan. Ketika saya sedang
bepergian, di atas pesawat saat sendiri, saya menikmati kesendirian
itu. Kalau di rumah tidak ada kesempatan nonton serial CSI kesenangan
saya karena suami saya senang nonton bola, di pesawat saya pakai
kesempatan itu untuk lihat seri kesayangan saya itu,†kata Neneng.
Neneng dan Sylvia hanya dua contoh perempuan yang ingin
mengaktualisasi diri di dunia kerja tanpa kehilangan kehangatan
keluarga. Pendidikan tinggi yang mereka raih—keduanya menyelesaikan
S-2—membuat aspirasi mereka pada dunia kerja juga tinggi.
Pada kebanyakan perempuan lain, bekerja di luar rumah adalah keharusan
karena kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak tersedianya banyak pilihan
pekerjaan juga memaksa perempuan tidak leluasa memilih pekerjaan yang
sesuai dengan kebutuhan mengurus keluarga.
Tarik-ulur antara bekerja dan karier dengan rumah bukan terjadi tidak
hanya di Indonesia, tetapi juga di negara maju. Joyce P Jacobsen dalam
The Economics of Gender (1997) menyebut, banyak penelitian
memperlihatkan perempuan (bekerja) tetap memiliki kecenderungan
mengurus anak dan rumah tangga. Kecenderungan ini pula yang membuat
perempuan mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga dibandingkan
dengan laki-laki, walaupun kedua pa- sangan sepakat untuk sama-sama
membagi kerja di dalam rumah.

Dunia multikutub
Di tengah-tengah perubahan ekonomi global, yaitu dengan munculnya
kutub-kutub pertumbuhan baru ekonomi di China, India, dan Brasilia,
tantangan bekerja pun berubah. Seperti diperlihatkan oleh survei
online Accenture One Step Ahead of 2011: A New Horizon for Working
Women dalam menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret lalu,
perempuan mengatakan siap menghadapi tantangan baru dengan hadirnya
dunia multikutub tersebut.
Survei dilakukan pada 4.100 profesional bisnis dari perusahaan
berukuran sedang hingga besar (48 persen perempuan dan sisanya
laki-laki), usia dari 26 tahun hingga di atas 46 tahun, dan dari yang
posisinya di bawah manajer hingga manajer senior. Sementara perempuan
dari 17 negara dari lima benua—dari Asia diambil dari India dan
China—yang disurvei merasa siap dalam penguasaan teknologi, inklusi
dan keberagaman, serta tanggung jawab sosial untuk berhasil pada masa
depan, mereka justru merasa kurang siap dalam membangun jejaring kerja
serta agility, yaitu kesediaan mengambil tambahan tanggung jawab dan
kompleksitas, bekerja melampaui zona nyaman, peran yang luwes, dan
kesediaan dipindah ke berbagai negara, skor yang diberikan laki-laki
jauh lebih tinggi daripada perempuan.

Oleh Ninuk M Pambudy & Maria Hartiningsih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: