Warisan Tan Malaka

Kunjungan Harry A Poeze ke Indonesia disambut bak bangsawan oleh para
pengagum Tan Malaka. Poeze berhasil menghadirkan sosok Tan Malaka di
Indonesia, bahkan dunia internasional dengan utuh, lengkap, dengan
berbagai romansa yang mengiringi alur kehidupannya.


Melalui berbagai karya Poeze, khalayak mengenal sosok Tan Malaka yang
misterius dan/atau kegemilangan gagasan yang seolah bersemburan dari
tubuh kurus, kecil, dan sakit-sakitan. Bagi kita, pengetahuan tentang
Tan Malaka justru dibentangkan oleh seorang Belanda, bangsa yang
dilawan dan berusaha diusir selama hidup Tan Malaka. Sebuah ironi,
tetapi begitu humanis.

Gagasan Tan Malaka
Penghargaan tanpa batas harus diberikan kepada berbagai gagasan Tan
Malaka. Namun, tanpa mengurangi arti keluhuran buah pikirnya,
gagasan-gagasan itu dapat dipahami dan dimaknai secara lebih
proporsional pada dua tataran, filosofis dan strategis.
Pada tataran filosofis, gagasan Tan Malaka begitu progresif dan
visioner, melampaui zamannya. Ini ditunjukkan minimal oleh dua karya
Tan Malaka, Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)
ditulis di Kanton tahun 1925, dan Madilog (Materialisme, Logika,
Dialektika) ditulis tahun 1942-1943.
Melalui karya pertama, tak berlebihan jika Moh Yamin menyebut Tan
Malaka sebagai ”Bapak Republik Indonesia”. Di sini Tan Malaka tidak
hanya mencanangkan Indonesia merdeka, tetapi sekaligus menetapkan
Indonesia merdeka itu kelak akan berbentuk republik.
Menuju Republik Indonesia ditulis delapan tahun lebih awal dari Ke
Arah Indonesia Merdeka yang ditulis Moh Hatta tahun 1932 dan sembilan
tahun lebih awal dari Mentjapai Indonesia Merdeka yang ditulis
Soekarno tahun 1933.

Sementara Madilog berawal dari kegelisahan Tan Malaka dalam memahami
nasib bangsanya sebagai resultan feodalisme, kolonialiasme, dan
kepercayaan terhadap takhayul yang bercampur ilmu akhirat yang tanggung.
Madilog memberi jalan keluar dengan mengenalkan
dialektika-materialisme dalam tradisi keilmuan Barat, dengan
menonjolkan penguatan logika sebagai tahap awal. Pada dasarnya,
Madilog berupaya menawarkan satu kerangka pikir modern sebagai alat
pembongkar (dekonstruksi dan rekonstruksi) bongkahan keterbelakangan
intelektual masyarakat Indonesia pada masa itu.
Pada tataran strategis, gagasan Tan Malaka begitu radikal,
nonkooperatif, bahkan konfrontatif dengan highest call yang begitu
tinggi, seperti dituangkan dalam Minimum Program yang dicanangkannya
tahun 1946. Gagasan pada tataran ini dapat ditelaah dari dua sisi pandang.
Pertama, tuntutan radikal, nonkooperatif, dan konfrontatif akan
berguna dalam membakar semangat persatuan dan perjuangan kaum muda
dalam mempertahankan republik yang masih bayi.
Kedua, dari sisi pragmatisme penyelenggaraan negara yang baru lahir
beserta seluruh keterbatasan sumber daya dan faksionalisme yang begitu
tajam, Minimum Program menafikan realitas sifat hubungan antarnegara
dalam sistem internasional.
Dengan semangat kebijakan yang radikal, nonkooperatif, dan
konfrontatif, sulit untuk membayangkan Indonesia akan mendapat
dukungan internasional, terutama dari negara adidaya ketika itu untuk
bertahan.
Secara empiris, sejarah memperlihatkan tidak ada negara setelah Perang
Dunia II yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan internasional
(khususnya Amerika Serikat), baik negara pemenang maupun kalah perang
di Eropa maupun Pasifik. Kebijakan-kebijakan politik (terutama politik
luar negeri dalam bernegosiasi dengan aktor eksternal) yang dipaksakan
Tan Malaka saat itu sangat membatasi (kalau tidak menghilangkan) ruang
gerak serta alternatif pendekatan dan pilihan solusi.

Warisan Tan Malaka
Terlepas dari semua kegemilangan maupun kontroversinya, gagasan Tan
Malaka adalah pemikiran orisinal anak bangsa yang ditujukan untuk
kemajuan peradaban bangsanya dan mendapat tempat yang mendunia.
Keseluruhan gagasan Tan Malaka harus diapresiasi sebagai sebuah
kesempurnaan olah budi sehingga harus dilestarikan dalam taman sari
khazanah intelektual bangsa Indonesia.
Dalam konteks kekinian, ada dua pilihan moderat untuk melestarikan
warisan Tan Malaka.
Pertama, memopulerkannya sebagai kajian akademik, khususnya di
perguruan-perguruan tinggi. Gagasan Tan Malaka akan memperkaya ilmu
sosial dan politik yang telah berkembang di Indonesia.
Kedua, menjadikannya sebagai rujukan dalam setiap bentuk moral
enterpreneur dalam setiap gerakan civil society berdampingan secara
harmonis dengan paham-paham humanisme lainnya.
Gagasan Tan Malaka pada tataran filosofis tak tergantikan meski pada
tataran strategis perlu perdebatan lebih dalam, apalagi jika
disandingkan dengan dinamika Indonesia modern saat ini. Namun, di atas
semua itu, gagasan (bahkan ajaran) Tan Malaka harus tetap lestari dan
berkontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keunggulan olah budi itu jangan hanya berakhir menjadi fosil sejarah
di balik pigura dalam ruang hampa dan tidak tersentuh gerak peradaban,
yang akhirnya hanya dipatut-patut oleh generasi penerus sepanjang zaman.
Setelah 57 tahun sejak kematiannya, setelah lebih dari setengah abad,
misteri kematian Tan Malaka baru terungkap. Syahdan seorang bijak
pernah berkata, ”revolusi memakan anak kandungnya sendiri”, maka Tan
Malaka adalah anak kandung yang menjadi korban revolusi perjuangan. Ia
menjadi korban meski seluruh hidup dan kehidupannya telah
didedikasikan untuk negara merdeka 100 persen yang dicita-citakannya.

Yandry Kurniawan Kasim
Peneliti Pusat Kajian Global Civil Society-Universitas Indonesia

Advertisements

One Response to “Warisan Tan Malaka”

  1. aji Says:

    saya sangat mengagumi dan menyukai pemikiran tan malaka karena tidak pernah menyerah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: