“Autopoiesis” Takdir

“Autopoiesis” Takdir
Oleh NIRWAN AHMAD ARSUKA

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang
diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya
karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut
ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang
paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip
autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan
pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh
para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang
diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991).


20 tahun yang silam Ignas Kleden dalam esai bertajuk †S.T.
Alisjahbana: Sebuah Perhitungan Budaya†telah menyatakan,
†Meringkaskan pribadi, pemikiran dan kegiatan S.T. Alisjahbana dalam
beberapa halaman esei merupakan suatu proyek yang mustahil.†Meski
demikian, pengantar Ignas untuk perkenalan dengan pemikiran STA itu
cukup bagus meringkas paham-paham STA, merumuskan dengan tajam
pendirian dan keyakinan filosofisnya. Dalam rumusan Ignas, †dulu
maupun sekarang S.T. Alisjahbana mempertahankan dan tetap hidup dari
pendirian dan keyakinan filosofis yang sama: dalam pandangan dunia;
idealistis (dalam artian Phaenomenologie des Geistes-nya Hegel), dalam
pandangan sejarahnya telelologis (sejarah bergerak menuju ke sesuatu
yang pasti), dalam etiknya: normatif, dalam paham keseniannya:
heteronom (seni bukanlah dunia yang otonom melainkan tergantung pada
tujuan pengabdiannya).â€

Lebih jauh lagi, bagi Ignas, †S.T. Alisjahbana bukannya menarik karena
paham-pahamnya, melainkan sebaliknya: paham-paham tersebut menjadi
menarik karena bergetar dalam dirinya.†Dikatakan secara lebih
gamblang: STA adalah pribadi yang sungguh memikat (sebuah dialektika
in personae—IK), tapi paham-pahamnya sendiri mungkin tidak.

Bagi sejumlah pihak, paham-paham STA itu bukan cuma tak menarik;
paham-paham, setidaknya sebagian dari paham itu, jelas salah. Antara
lain karena itulah maka berkobar polemik penting yang gemanya
melintasi sekian dasawarsa, serangkaian perdebatan yang, dalam kalimat
Goenawan Mohamad, paling bermutu dalam riwayat pengemukaan ide-ide
selama ini. Polemik Kebudayaan itu, kita tahu, bermula dari tulisan
STA yang berkepala †Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru:
Indonesia—Prae-Indonesia†. Tulisan itu adalah bagian dari upaya gigih
STA menawarkan arah pada pergerakan kebangsaan ketika pergerakan itu
berkubang di titik terendahnya di lapangan politik: sejumlah pemimpin
pergerakan politik baru saja keluar dari penjara, dan yang lainnya
masih dalam pembuangan. Hindia Belanda saat itu dihajar kelesuan
ekonomi dan kemerosotan sosial, sementara cengkeraman sistem
otoritarianisme kolonial kian mengetat.

Di balik polemik yang dicetuskan STA, bertarung sejumlah gambaran
dunia yang berisi kesadaran tentang waktu dan sejarah, tentang
rasionalitas dan kausalitas, tentang obyektivitas dan kemajuan,
tentang perubahan dalam masyarakat yang bergerak menurut satu gugus
hukum tertentu. Gambaran dunia, atau meminjam frasa Bung Karno,
†susunan dunia dan riwayat†itu berpengaruh dalam melihat bagaimana
masyarakat dan sejarah berevolusi, bagaimana masa depan bisa ikut
dibentuk.

Sumber energi

Dalam polemik yang berlangsung sporadis dari Agustus 1935 hingga Juni
1939 itu, STA adalah latu eksplosif yang mengobarkan debat, tapi
tampaknya adalah Dr M Amir yang paling bagus memberi bingkai polemik
tersebut. Berbekal telaah etimologi, sosiologi, dan biologi, Dr M Amir
berupaya mengarahkan perdebatan agar pengetahuan baru tentang †susunan
dunia dan riwayat†itu dapat bekerja secara baik dalam kenyataan
Hindia Belanda, dalam kerangka waktu melalui tahap-tahap yang bisa
dijangkau. Lewat biologi terutama, ia menunjukkan bagaimana
perkembangan dan kemajuan menjadi bagian dari kenyataan empiris.
Dengan itu semua, dengan penandasan bahwa semboyan yang tegas saja tak
cukup, Dr M Amir memberi bobot realisme pada idealisme STA yang
mengembang melambung, yang memang bisa tampak agak lupa daratan itu.

Pandangan dunia yang idealistis dan pandangan sejarah yang telelologis
adalah dua hal yang tak terpisahkan. Pegangan filosofis ini punya
pertautan bahkan kesejajaran dengan pandangan mutakhir dalam ilmu
pengetahuan modern yang melihat bahwa alam semesta yang bermula dari
singularitas atau kehampaan ini adalah proses mahabesar yang bergerak
menuju kompleksitas yang kian tinggi, secara fungsional dan
struktural: suatu pencanggihan kombinasi diferensiasi dan integrasi
pada dimensi skala, spasial, dan temporal. Dialektika fundamental
antara fungsi dan struktur melahirkan apa yang oleh pakar biologi
berkebangsaan Chile, Humberto Maturana dan Francisco Varela, disebut
sebagai autopoiesis. Autopoiesis, swacipta, adalah konsep yang sangat
teknis, dengan banyak unsur deskriptif dan abstrak, tetapi bisa
dipinjam untuk mempertegas semangat Takdirian yang menautkan masa
depan entitas dan tindakan subyek, pengolahan informasi, dan
pelampauan diri. Secara sederhana, sistem autopoiesis adalah sistem
hidup yang sanggup menciptakan dan membentuk dirinya sendiri, asalkan
syarat-syaratnya terpenuhi. Ia bisa berupa sebuah otomata, sepotong
bakteri, sebuah bahasa, sebuah peradaban atau alam semesta.

Seperti sebuah sistem hidup yang mungkin tumbuh berkembang melampaui
dirinya jika ia bisa memperoleh sumber energi dan informasi yang
memadai, STA secara intuitif melihat †Indonesia Raya†seperti entitas
autopoietika yang dapat berkembang dan bersaing dengan bangsa-bangsa
lain jika ia bergerak menyerap sumber energi dan informasi dari luar:
rasionalisme dan modernitas yang kebetulan tumbuh subur di Barat. STA
menandaskan dengan semboyan yang tegas, semboyan positif yang gembira
berapi-api: Otak Indonesia harus diasah menyamai otak Barat! Individu
harus dihidupkan sehidup-hidupnya! Keinsyafan akan kepentingan diri
harus disadarkan sesadar-sadarnya! Bangsa Indonesia harus dianjurkan
mengumpulkan harta dunia sebanyak mungkin! Ke segala jurusan bangsa
Indonesia harus berkembang!

Bagi STA, upaya penyerapan energi dan informasi yang berbentuk
rasionalisme dan modernitas itu sangat bergantung pada kerja dunia
pendidikan yang adalah juga kerja pembangunan bangsa. Meski demikian,
tak terlalu banyak yang bisa disumbangkan STA dalam rekayasa dunia
pendidikan Indonesia, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi.
Pemerintah Kolonial Belanda jelas tak tertarik untuk memberi akses
selebar mungkin kepada rakyat jajahan buat memasuki pendidikan modern.
Sementara itu, tokoh-tokoh pendidikan nasional, beberapa di antaranya
menjadi lawan debat STA dalam Polemik Kebudayaan, tak juga melihat
pentingnya mereguk sebanyak mungkin khazanah Barat. Setelah merdeka,
STA tak berada di pusat kekuasaan yang memungkinkannya menyusun
kebijakan pendidikan berskala nasional. Andaikan ia diberi kesempatan
menata pendidikan Indonesia seperti yang diharapkannya, akan susut
kemungkinan negeri ini menjalani apa yang oleh Anne Booth disebut
dengan murung, sejarah peluang terbuang, a history of missed
opportunities.

Puisi dan prosa

Jika STA tak memperoleh ruang memadai untuk menentukan desain
pendidikan Indonesia, ia beruntung mendapat ruang lapang untuk
merencanakan desain bahasa Indonesia. Telaah atas sumbangan STA
terhadap bahasa Indonesia sudah banyak dilakukan. Ignas Kleden
meringkas kriteria normatif untuk sebuah bahasa modern yang
diperjuangkan STA yang ia paparkan dalam buku, Indonesian Language and
Literature: Two Essays. Pertama, suatu bahasa dinamakan modern kalau
dalam dirinya tecermin apa yang dinamakan prinsip aktivitas yang
menyebabkan seseorang atau sekelompok orang sanggup mengubah diri dan
lingkungan hidupnya. Prinsip yang jelas mengandung semangat
autopoietik ini saling topang dengan tiga prinsip yang lain, yakni
abstraksi dan pemikiran rasional; kelugasan; dan egalitarianisme.

Dengan empat prinsip normatif itu, STA meletakkan dasar tata bahasa
bahasa Indonesia yang memungkinkan bahasa ini jadi sistem autopoiesis
di mana transportasi gagasan berlangsung sangat bagus. Dalam bahasa
yang diatur dengan empat prinsip itu, gagasan akan mudah diproduksi
dan bergerak membentuk kenyataan-kenyataan baru. Sirkulasi informasi
menjadi optimal karena hambatan vertikal berupa hierarki dan hambatan
horizontal berupa ketidaklugasan dikikis habis. Prinsip abstraksi
memungkinkan terjadinya manipulasi simbolik secara kreatif, dan
prinsip aktivitas memperlicin proses produksi gagasan dan
pertanggungjawaban serta pengujian gagasan-gagasan itu. Tak aneh jika
bahasa Indonesia, yang dikukuhkan oleh tekad politik dan ditumbuhkan
dengan desain linguistik, disebut sebagai ciptaan dunia bahasa
terpenting di abad ke-20.

Bahwa bahasa Indonesia belum berhasil mencapai tataran yang
dicita-citakan STA, itu sama sekali tidak menunjukkan kekeliruan STA
dan linguistik normatifnya; hal itu hanya antara lain menunjukkan
betapa masih kuatnya watak feodalistik dan unsur-unsur nonmodernitas
dalam masyarakat, hal-hal yang memang ingin disapu oleh kaum modernis,
seperti STA dan terutama rasionalis par excellence Tan Malaka. Hal itu
juga menandaskan bahwa bahasa yang pernah menggetarkan dunia
linguistik ini, dengan kesanggupannya mempersatukan kelompok suku
bangsa yang tersebar di lebih dari 13.000 pulau, itu masih perlu
dikembangkan terus. Andaikan sebagian besar buku penting dunia
diterjemahkan secara sistematis ke dalam bahasa Indonesia seperti yang
diserukan STA, kita bisa bayangkan apa yang terjadi dalam entitas
autopoietik bahasa Indonesia: gagasan-gagasan cemerlang beredar dengan
dengan baik dan kenyataan-kenyataan baru terbentuk lebih subur. Sebuah
†Zaman Poros Sejarah†(die Achsenzeit) yang mempertemukan dan
mempertautkan gagasan dari seluruh penjuru, akan tergelar meriah dalam
sebuah bahasa nasional yang dihidupkan oleh sebuah puisi bernama
Sumpah Pemuda dan dikembangkan oleh sebuah prosa berupa tata bahasa
normatif.

Pandangan STA yang menautkan sastra dengan kenyataan sosial politik,
dengan tanggung jawab pembentukan dunia baru, bukanlah pandangan yang
ganjil. Kaum Kajian Budaya, para seniman kontemporer yang mengusung
seni terlibat, sampai batas tertentu juga berbagi pandangan yang mirip
dengan STA. Namun, jika sebuah tata bahasa modern memang lebih mudah
direkayasa bersama, tak demikian halnya dengan sebuah sastra yang
dibayangkan bisa sejalan dengan cita-cita besar membangun masyarakat.
Penciptaan karya sastra adalah penciptaan dunia, dunia tandingan;
sebuah autopoiesis tersendiri; sebuah dunia yang tak cuma menghadirkan
hal-hal normatif yang langsung berguna bagi manusia. Ciptaan sastra
memang punya hukum-hukumnya sendiri.

STA sampai batas tertentu sadar akan adanya hukum yang bekerja dalam
penciptaan seni, yang tak bisa didikte begitu saja. Namun, STA bisa
mengabaikan hukum itu karena ia tak sabar ingin melihat hadirnya karya
sastra besar yang tidak hanya bisa menandingi dunia, tetapi juga
membentuk dunia. Pandangan yang melihat bahwa dunia secara potensial
bisa terseret meniru sastra memang akan cenderung menganggap ganjil
paham seni untuk seni; pemutlakan paham ini dapat membuat seni tampak
mengingkari potensi besarnya sendiri. Yang ajaib adalah bahwa sastra,
atau seni pada umumnya, mungkin mencapai potensi terbesarnya jika ia
antara lain mendapat ruang cukup untuk mengeksplorasi sejauh mungkin
mediumnya sendiri, hal yang bisa terlihat sebagai pengamalan paham
seni untuk seni.

Skala luas

Kenyataan akbar bahwa alam semesta dan seisinya ini terbuka bagi
pemahaman nalar telah memberi manusia kekuatan yang sangat besar untuk
mengubah dunia. Dan dunia memang berubah secara revolusioner dengan
sejumlah akibat yang tak teramalkan sebelumnya. Gerak sebar
rasionalisme dan modernitas yang belum merata di planet Bumi dan
pukulan balik dari kekuatan-kekuatan pramodern yang dibentuk oleh
berbagai ketakutan yang tak sepenuhnya rasional, membuat dunia
membutuhkan sejenis etika baru agar dunia mutakhir ini tak terperosok
menghancurkan dirinya sendiri. Upaya STA mencari etika baru itu
membuatnya bergabung dengan para cendekiawan seperti Soedjatmoko, Hans
Kung, Johan Galtung, atau John Rawls, meski dengan besaran kontribusi
yang berbeda. Etika baru adalah inti dari antropologi baru, yang bagi
STA merupakan sintesis nilai dan ilmu-ilmu positif. STA berupaya
merumuskan hal itu dalam buku yang ia anggap karyanya yang terpenting
dan terbit di Malaysia pada 1966, Values as Integrating Forces
Personality, Society, and Culture.

Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip
autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan
pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh
para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto. Dalam pidatonya yang
diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991 itu, Nirwan
Dewanto memang menyebutkan bahwa setiap orang secara potensial adalah
pencipta kebudayaan. Ini adalah prinsip autopoiesis dalam tataran
individu. Namun, terpengaruh oleh pandangan kaum postmodernis
dekonstruksionis yang membuatnya tak bisa secara kritis membedakan
antara modernitas, rasionalisme, dan rezim Orde Baru yang otoriter,
Nirwan Dewanto, seperti sejumlah cendekia pada tahun-tahun itu, tak
melihat kemungkinan berlakunya kerja autopoiesis pada skala yang lebih
luas, yakni skala negara. Itu sebabnya ia menolak adanya kebijakan
kebudayaan yang berlaku nasional, sebuah hal yang jelas dianjurkan
oleh STA.

Sejumlah pemikiran STA memang patut disanggah, tetapi itu tak berarti
bahwa pemikirannya yang lain dengan sendirinya rontok, sebagaimana
gagasan kuno Isaac Newton yang suntuk menggarap takhayul alkemi tak
membuat sumbangan dia berupa Teori Gravitasi dan Kalkulus menjadi
kehilangan nilai. Berbeda dari kesimpulan Ignas yang sudah dikutip di
depan, kini kita agaknya bisa berkata bahwa STA menarik memang karena
segugus paham yang diperjuangkannya, dan paham-paham tersebut menjadi
memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena
paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan
jangkauan yang jauh. Pengetahuan tentang kompleksitas dan autopoiesis
memang tak kita temukan dalam naskah STA; yang kita temukan adalah
semangat yang senapas dengan kompleksitas dan autopoiesis itu,
semangat yang tumbuh dari akal budi kritis yang dituntun oleh
penghormatan pada kenyataan empiris dan kebermaknaan tindakan manusia
yang menakdirkan takdirnya sendiri.

Pada usia senjanya STA yang kabarnya lebih suka disebut sebagai
pejuang kebudayaan dan merasa tertinggal sebagai sastrawan itu dicatat
pernah berkata, †Semboyan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa
mungkin sudah terlampau kecil. Perlu diganti dengan satu bumi, satu
umat manusia, satu nasib, satu masa depan.†Di kesempatan lain ia
berkata, †Sekarang ini semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya.â€
Pernyataan-pernyataan STA ini meletakkannya di jalur yang sungguh akan
bersemangat menerima pengertian yang lebih luas dan radikal akan
†susunan dunia dan riwayat†, akan tatanan semesta dan sejarah yang
memang membuka diri bagi nalar manusia karena manusia dan nalarnya
adalah bagian tidak terpisahkan dari proses besar autopoiesis semesta.

Nirwan Ahmad Arsuka
Budayawan

[Esai ini pengantar diskusi Peringatan 100 Tahun Sutan Takdir
Alisjahbana, 25 Maret 2008, Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: