Jayabaya

Jayabaya
Oleh Jakob Sumardjo

Ini sama sekali bukan klenik yang menghubungkan nama Jayabaya dengan
ramalan-ramalannya. Memang tokoh historis ini juga tokoh mitos Jawa,
yang muncul kembali namanya setiap bangsa mengalami masa-masa krisis,
masa putus asa, masa penderitaan, yang mengharapkan segera datangnya
zaman emas.

Raja Jayabaya hidup dalam abad ke-12 di Kerajaan Panjalu, yang dalam
buku-buku sekolah disebut Kediri. Dialah raja yang berhasil
mengalahkan saudaranya, raja Kerajaan Jenggala, sehingga kerajaan Jawa
bersatu kembali. Kemenangan ini, antara lain, diabadikan dalam
prasasti yang dibuatnya pada tahun 1135 yang dikenal sebagai Prasasti
Ngantang, dengan semboyan Panjalu Menang (Penjalu Jayati).

Urusan kita bukan dengan kemenangan politik ini, tetapi dengan sebuah
karya sastra berbentuk kakawin (puisi) Bharatayudha yang ditulis oleh
dua pujangga, Empu Sedah dan Empu Panuluh, pada tahun 1157. Dengan
demikian, sekitar 22 tahun setelah Panjalu Jayati, Raja Jayabaya
diabadikan dalam kakawin terkenal tersebut.

Yang menarik dari kakawin ini adalah ungkapan sebagai berikut: Pulau
Jawa adalah tanah yang subur makmur, sangat indah tiada tara, tetapi
negara itu sedang menderita sedih karena dirusak oleh orang-orang
jahat. Raja yang memerintah tidak mampu menjaganya.

Batara Wisnu melihat itu, iba hatinya. Karena itu, ia turun ke dunia
untuk menjadi raja Jawa demi keamanan dan kesejahteraan kerajaan.
Dahulu, sebagai Batara Kresna, ia telah berjaya gilang-gemilang dalam
perang (Bharatayudha). Sekarang yang menjadi sesembahan semesta adalah
Raja Jayabaya, yang melanjutkan tugas Batara Kresna.

Petikan ini hanya ingin menunjukkan bahwa Pulau Jawa masa lampau lewat
850 tahun lalu sama saja dengan Pulau Jawa zaman sekarang. Syair di
atas, kalau dihilangkan Batara Wisnu dan Batara Kresna, akan sama
dengan gambaran masa kita kini. ”Tanah Jawa yang subur makmur dirusak
oleh orang-orang jahat. Dan raja yang memerintah tak mampu menjaganya.”

Menguasai Jawa

Pulau Jawa dan Indonesia tidak ada bedanya. Jawa yang subur makmur
adalah Indonesia yang subur makmur. Sejarah peradaban Indonesia
berpusat di Pulau Jawa sehingga DN Aidit pernah menyatakan bahwa
menguasai Jawa berarti menguasai Indonesia. Sejarah Indonesia sendiri
banyak bermain di Pulau Jawa sejak zaman Hindu-Buddha, Islam, dan
kolonial Belanda, kemudian Republik Indonesia. Menguasai Indonesia itu
harus dimulai di Pulau Jawa. Jepang melakukannya demikian.

Kesuburan dan kemakmuran Indonesia mengalir ke Pulau Jawa. Rotasi mata
uang berpusat di Pulau Jawa dan lebih khusus lagi di Jakarta. Tidak
mengherankan apabila arus urbanisasi terpusat ke Jakarta. Kekayaan
Indonesia itu adanya di Jakarta sehingga remah-remah yang jatuh
menjadi rebutan kaum urbanis.

Dibaca secara modern, Jayabaya dan Bharatayudha adalah gambaran untuk
diri kita. Raja Jayabaya yang masih muda bertindak sebagai Kresna,
perwujudan Dewa Wisnu yang mencintai keadilan, kemakmuran, dan
kedamaian, dapat berubah menjadi Brahala berkepala seribu apabila
marah. Kemarahannya ditujukan kepada orang-orang jahat yang membuat
negara rusak dan rakyatnya menderita.

Wisnu itu paradoks, seperti halnya Kresna dan Raja Jayabaya. Ia yang
adil dan baik hati penuh cinta kasih dapat berubah seketika menjadi
perusak maha dahsyat menghancurkan orang- orang jahat yang merusak
negara. Dan itulah yang dilakukan Jayabaya dalam perang ”Bharatayudha
Jawa”.

Ia melakukan ritual korban dengan persembahan bunga-bunga yang
terselip di kepala musuh-musuhnya yang terpenggal, biji-biji mata
lawan menjadi butir-butir wijen, dan kota-kota yang terbakar sebagai
anglo pembayar kemenyan.

Hutan kejahatan

Raja Jayabaya tidak mau dicatat dalam sejarah sebagai ”raja yang
memerintah tidak mampu menjaganya”. Ia telah mulai dengan KPK-nya.
Namun, ”orang- orang jahat yang merusak negara” masih terlalu banyak.
Mereka ini ibarat semut-semut yang ribuan keluar dari liangnya.
Dibunuh lima, yang muncul lima puluh. Dibinasakan yang lima puluh,
muncul dua ratus. Dua ratus diluluhlantakkan, muncul seribu. Gila!
Orang Jawa akan mengatakannya, nggilani. Bikin bergidik bulu roma
akibat lawan tak habis-habisnya.

Kejahatan itu, dalam cerita wayang kulit, ibarat Perang Kembang. The
War of the Roses. Dalam setiap cerita, dari generasi ke generasi
wayang berikutnya, akan selalu muncul barisan begundal (jahat) yang
sama, yakni raksasa Cakil dengan empat companies- nya, yang
masing-masing bertubuh hitam, putih, kuning, dan merah, lambang
nafsu-nafsu manusia. Pembegal-pembegal jahat ini selalu berhasil
dibunuh dalam sebuah cerita, tetapi hidup dan muncul kembali dalam
cerita yang lain. Kejahatan itu abadi, tak bisa dilenyapkan. Hanya
bisa dikurangi.

Perang Bharatayudha yang sudah dimulai sekarang ini baru awal perang.
KPK sekarang ini baru menyiangi pinggir hutan kejahatan. Perang
Bharatayudha masih harus diteruskan oleh Jayabaya-Jayabaya berikutnya
karena undang-undang sekarang ini tak memungkinkan lagi menjadi
presiden seumur hidup. Dua kali masa kepresidenan juga belum cukup.
Harus ada empat atau lima presiden berikutnya yang terus memukul
genderang perang Bharatayudha.

KPK perlu diperkuat dengan tambahan panglima-panglima perang yang
berwatak kuat dan berani mati. Bunga-bunga yang terselip di
kepala-kepala musuh masih banyak untuk dijadikan korban.

Anak cucu kita juga yang akan menanggung perbuatan-perbuatan kita yang
jahat. Penyair Abdul Hadi WM pernah menulis, kita sedang mencuri
buah-buah dari pohon anak cucu kita. Betapa malu kita dibuatnya.
Namun, Jayabaya telah memulai perang Bharatayudha.

Jakob Sumardjo
Esais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: