Kaum Muda dan Kebangkitan Bangsa

Kaum Muda dan Kebangkitan Bangsa
Oleh Indra Jaya Piliang

Harga bahan bakar minyak dipastikan akan naik. Tingkat kenaikan itu
bisa mencapai 30 persen. Pertaruhannya sekarang terletak pada seberapa
kuat pemerintah berhadapan dengan seberapa masif gerakan
antipemerintah. Karena pemerintahan jauh lebih kuat daripada
rakyatnya, jawaban atas pertaruhan itu sudah selesai. Pemerintah akan
terus-menerus menang, lalu rakyat hadir sebagai pecundang.


Padahal, tahun ini adalah 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Sebuah
bangsa yang hanya menjadi nomor tiga di negara sendiri, setelah bangsa
Eropa dan Timur Asing telah bangkit dari keterbelakangannya lewat
perjuangan dengan memanfaatkan celah-celah kebaikan dari kolonialisme
sendiri: jalur pendidikan.

Kita boleh saja mengatakan kemerdekaan diproklamirkan oleh Soekarno
pada 17 Agustus 1945. Sebuah proklamasi bukan berarti sebuah
kelahiran. Ada banyak tali-temali dalam sejarah. Pengaruh-memengaruhi,
saling- silang kepentingan, serta terlebih lagi ide-ide yang terus
sambung- menyambung. Atas dasar itu, kelahiran Indonesia sudah
diberikan oleh napas perlawanan atas ketertindasan. Kedatangan
bangsa-bangsa kolonial hanya bagian dari percepatan untuk menemukan
kesejatian tujuan, yaitu kesetaraan martabat manusia.

Kaum muda adalah pengambil sikap utama. Mereka ditakdirkan lahir
sebagai kekuatan oposisi. Tanpa harus paham dengan keunggulan
bangsa-bangsa lain, kaum muda ini mengimajinasikan zaman baru yang
ingin bebas dari penindasan.

Kapitalisme global

Kita melompat ke masa kini ketika konsumtivisme menjadi tilik sandi
bagi beroperasinya kapitalisme global. Atas nama konsumtivisme itu,
lahir mentalitas instan dengan gaya hidup yang melebihi penghasilan.
Ketika demokrasi memantapkan tiang- tiang pancangnya, kekuasaan
menjadi tujuan dan setelah itu tidak ada lagi.

Itu yang kita lihat sekarang ketika kekuasaan yang hanya menggunakan
kalkulasi berdasarkan matematika untung-rugi. Kekuasaan yang terlalu
yakin dengan kesimpulan-kesimpulannya, lalu membiarkan masyarakat
saling memusuhi atas nama agama. Kekuasaan yang tidak mau berhemat dan
asketis, apalagi bekerja-keras untuk menggerakkan bangsa ini mengejar
sebuah tujuan bersama. Kekuasaan yang tidak mau dan tidak mampu
menjadi pelayan bagi rakyatnya.

Sepuluh tahun Reformasi sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa tidak
banyak keberhasilan yang dicapai. Penderitaan dan pengorbanan rakyat
untuk meneruskan zaman baru ini kenyataannya dibalas dengan
penderitaan baru. Apa gunanya banyak diskusi ilmiah di Istana Negara,
penyusunan naskah akademis di kantor-kantor pemerintah, serta
berbusa-busa dalam perdebatan di Senayan kalau pada akhirnya
penyelesaian atas masalah lama dilakukan dengan menggunakan cara lama
pula?

Menaikkan harga BBM sungguh semudah perhitungan 1 tambah 1 sama dengan
2. Kita dipaksa percaya bahwa subsidi untuk orang-orang kaya yang
punya kendaraan jauh lebih banyak daripada subsidi untuk kaum tani dan
nelayan. Namun, dalam 10 tahun, kita tak pernah ditunjukkan satu
petani dan nelayan miskin pun yang tiba-tiba menjadi kaya karena
program pemerintah. Harga pangan global melejit naik, sementara harga
dasar gabah hanya boleh naik 10 persen.

Yang kita dengar hanya parade kepikunan. Kepikunan yang bukan penyakit
ketika alam dan waktu menunjukkan keperkasaannya. Namun, yang pikun di
sini terdiri atas kalangan pemimpin. Mereka yang dipilih atas dasar
kepercayaan, mitologi, dan harapan rakyat.

Seratus tahun kebangkitan dan 10 tahun Reformasi hanya menghasilkan
kata-kata yang bersiponggang. Pemimpin-pemimpin yang berganti-ganti.
Sementara ketika bangsa mulai perlahan tenggelam, lalu rakyat terlebih
dahulu karam dalam kubangan penderitaan, tidak lagi menjadi sumber
keresahan.

Lalu, di mana kaum muda? Sebagian terjerumus dalam magnet kekuasaan.
Mereka yang secara cepat menyepelekan amanat penderitaan rakyat. Kaum
muda yang tidak lagi gelisah, tetapi sudah menjadi bagian dari
kemapanan kekuasaan itu sendiri. Mereka yang berdiri tegap, menghormat
kepada para pemimpin masing-masing, kalau perlu menjadi pagar hidup
menghadapi rakyat yang gelisah.

Masihkah kita berharap pada kebangkitan bangsa? Atau inikah awal bagi
kebangkrutan bangsa?

Indra Jaya Piliang
Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: