Selamat Tinggal Reformasi 1998

Selamat Tinggal Reformasi 1998
Oleh M Fadjroel Rachman

Tanggal 21 Mei 1998, 10 tahun lalu, Soeharto tumbang dan rezim
militeristik Orde Baru runtuh. Angkatan baru lahir, gerakan mahasiswa
1998, menyusul lahirnya Angkatan 1966, 1974, 1978, 1989/90, sebagai
gerakan politik nilai berbasiskan pada nilai-nilai visioner, seperti
keadilan, kebebasan, kerakyatan, kesetaraan, kesejahteraan,
kemanusiaan, dan solidaritas.


Pola ini berbeda dengan partai politik, kudeta militer, atau
pemberontakan bersenjata yang melahirkan gerakan politik kekua- saan,
mengambil alih kekuasaan dan mendistribusikannya. Walaupun sifat
setiap gerakan mahasiswa yang ”dibaptis” sebagai sebuah angkatan baru
adalah konfrontatif (melawan atau menumbangkan kekuasaan pemerintah),
selain korektif (mengoreksi kebijakan pemerintah), kekuasaan politik
selalu lepas dari genggaman gerakan mahasiswa.

Pada momen perlawanan, mahasiswa adalah pahlawan, tetapi pada momen
normalisasi mahasiswa adalah pecundang, dikhianati oleh para penguasa
baru. Itulah tragedi Angkatan 1966 yang melahirkan rezim militeristik
Orba, dan tragedi Angkatan 1998 yang mengukuhkan kembali kekuatan
Soehartois.

Sepuluh tahun lalu Soeharto tumbang, tetapi sekarang Soehartois
bangkit kembali, utuh-penuh. Sekarang secara dominan mereka menentukan
arah, bentuk, sifat, dan kecepatan reformasi. Inilah sumber kegagalan
agenda reformasi utama untuk (1) mengadili KKN Soeharto, keluarga, dan
kroni; (2) mengadili pelanggaran HAM berat dari 1965, Timor Timur,
Aceh, Papua, 27 Juli, hingga Trisakti, 13-14 Mei, Semanggi I-II; (3)
mencabut dwifungsi ABRI dan praktiknya di politik, bisnis, dan
teritorial; (4) membubarkan atau menegakkan hukum lustrasi terhadap
lembaga negara dan individu dari partai politik Orba antidemokrasi;
(5) amandemen total dan progresif dari UUD 1945 menjadi konstitusi
demokratis.

Agenda utama reformasi 10 tahun lalu itu adalah simpul pemersatu para
reformis dan gerakan mahasiswa untuk meruntuhkan kekuatan legal,
politik, sosial, dan ekonomi rezim Orba.

Angkatan baru

Keutuhan dan sinergisitas pelaku dalam gerakan reformasi, dalam kasus
Indonesia gerakan mahasiswa sebagai simpul utamanya, merupakan
prasyarat dominan sebuah gerakan dan agendanya. Inilah pola
replacement dalam reformasi yang dikatakan Samuel P Huntington
(Gelombang Demokratisasi Ketiga, 1995), selain pola transformation
(elite lama menjadi pelaku utama), dan pola transplacement (campuran
elite lama dan reformis sebagai pelaku utama).

Pasca-21 Mei 1998 yang terjadi adalah pola quasi-transplacement
(seolah-olah campuran antara reformis dan elite lama), padahal yang
paling dominan adalah elite lama, dengan individu dan lembaga politik
Orbais terkuat. Lalu, perlahan pola itu bergeser menjadi
transformation dan mencapai puncaknya setelah 10 tahun reformasi,
semua kekuatan politik lama (dibantu kekuatan politik baru) mengambil
alih reformasi, mengisi lembaga negara lama, maupun baru
pascareformasi. Akibatnya, kita sekarang menghadapi
otoriterisme-demokrasi elite (bertumpu pada parpol status
quo/konservatif) serta kebijakan ekonomi-politik elite, seperti
kenaikan harga BBM, bertahannya konglomerasi, kemiskinan absolut, dan
ketimpangan sosial.

Setelah kehilangan arah dan terjebak dalam romantisme kejatuhan
Soeharto pada 1998 kita dapat mengucapkan selamat tinggal reformasi
1998. Namun, ini justru momentum bagi lahir- nya gerakan mahasiswa
2008, 2009, atau sesudahnya. Angkatan baru ini perlu menelaah
kegagalan Angkatan 1998, lalu menyiapkan agenda, organisasi,
kepemimpinan, dan basis massa baru, serta teliti melihat momentum
politik (militer dan birokrasi) serta ekonomi (nasional dan global),
lalu menggerakkan arah konfrontasinya sendiri.

Politik demokrasi baru

Kegagalan reformasi 1998 bukanlah sumber pesimisme, tetapi adalah
dasar optimisme-skeptis bagi lahirnya politik demokrasi baru, gerakan
politik nilai maupun gerakan politik kekuasaan. Para mantan aktivis
gerakan mahasiswa 1989/1990 dan 1998 yang masih mampu mempertahankan
integritas moral, intelektual, jaringan kerja ide dan gagasan perlu
melahirkan gerakan ekstra parlementer baru melalui gerakan sosial
sektoral (perempuan, buruh, tani, kaum miskin kota, intelektual, dan
lainnya) yang mampu bernegosiasi dengan negara. Pola boycotting
(gerakan mahasiswa), negotiating (gerakan ekstraparlementer baru), dan
reclaiming (gerakan parlementer baru) merupakan basis kelahiran
politik demokrasi baru.

Momentum mutakhir pasca-10 tahun reformasi memberikan peluang pada
ketiga kekuatan politik demokrasi untuk melahirkan demokrasi
partisipatif dan melahirkan kepemimpinan politik baru bukan
transisional, apalagi statusquo/konservatif. Mengutip Barack Obama Jr
(The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming The American Dream),
calon Presiden AS, ”Tugas mulia kami bukan memperbaiki yang lama,
tetapi membuat dunia baru.”

M Fadjroel Rachman
Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara
Kesejahteraan (Pedoman Indonesia); Aktivis ITB 1989 dan Forum Wacana UI 1998

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: