Kepentingan

Kepentingan

Bagaimana jika suatu hari kita semua mogok beraktivitas, diam di rumah seharian dan tidak melakukan apapun? Bukan tanpa maksud, melainkan untuk protes atas perlakuan negara terhadap kita yang semakin hari semakin keterlaluan.
Di abad 21, di hari-hari belakangan ini, di sekitar rumah kita, tampak jelas orang mengantri minyak tanah. Kebutuhan pokok itu terampas dari denyut hidup tanpa kita tahu siapa yang mesti bertanggungjawab. Saudara-saudara kita mengungsi dari tanah lahirnya sendiri, menyaksikan rumah mereka tenggelam oleh ketamakan manusia dan industri. Keluarga-keluarga kelaparan. Kanak-kanak tidak tumbuh dengan sewajarnya karena bapak ibunya miskin. Pedagang kelas teri mendadak kehilangan pekerjaan karena gusuran. Singkatnya, setiap hari kita harus bersiasat terhadap hidup karena hidup tidak lagi ramah dan berpihak pada kita.
Tapi agaknya ajakan mogok di atas tidak akan banyak berguna. Negara ini sudah lama hidup tanpa rakyat. Negara adalah negara. Rakyat adalah rakyat. Dua hal yang berbeda.
Pejabat dan politikus adalah pejabat dan politikus. Tidak ada hubungannya dengan kemiskinan, pengangguran, pendidikan atau kesehatan rakyat banyak.
Sama sekali tidak.

* * *

Yang sama di antara keduanya adalah kepentingan. Meski yang diburu berbeda, tapi sifatnya sama, berjuang demi kepentingan masing-masing.
Negara sibuk mempersolek diri, menampilkan yang indah-baik-berkembang. Kemajuan, perbaikan, keberhasilan dan bunga-bunga prestasi adalah isi pidato di mimbar. Dan jangan lupa, negara juga sedang sibuk membayar utang sambil terus menggusur kaum miskin yang mengotori kota. Politikus juga sedang sibuk mengutak-atik kesepakatan agar kekuasaan tak lepas dari tangan.
Kepentingan rakyat adalah paradoks dari semua itu. Begitu sederhana sampai negara tak mampu mendengarnya. Kepentingan mempertahankan martabat sebagai manusia yang dilakoni rakyat sehari-hari ternyata tidak sanggup menembus ruang rapat para pejabat dan politikus kita. Sementara semakin banyak bermunculan kejadian tidak manusiawi, sementara itu juga negara kerepotan membela diri.
Dengan ini kita semakin yakin bahwa kekuasaan dan kemapanan tidak hanya memabukkan. Dia juga memupuk dan menyuburkan sifat dasar kita yang tersembunyi; tamak dan ingkar pada nurani.
Dalam kemarahan dan kesedihan yang membuncah, lamat-lamat saya menyanyikan lagu yang juga sering Anda dengar ini, “…hanya ini Tuhan permohonanku, pakailah hidupku sebagai alat-Mu seumur hidupku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: