Mei

Mei

Pada Mei kita belajar tentang keadilan.
Mei yang kental berbau darah kita kenang pada Tragedi Trisakti. Kejadian sepuluh tahun lalu itu sungguh menyesakkan. Tidak hanya bagi Sumiarsih, yang anaknya tertembak mati di usia belia. Sesak itu juga ada di ulu hati kita. Bagaimana jika suatu saat orang yang kita cintai menjadi tumbal negara, lalu bertahun-tahun kemudian tetap tidak ada yang bertanggungjawab.
Tapi Sumiarsih tidak pernah menyerah. Kini, setiap Kamis sore, sejak tiga-empat bulan lalu, Sumiarsih bersama keluarga korban lainnya berdiam diri di depan Istana Negara, melakukan aksi damai mengingatkan negara untuk tidak gampang cuci tangan. Dalam aksi diamnya itu, mungkin Sumiarsih kerap berbisik ; “semua sudah aku maafkan, wafat anakku sudah aku ikhlaskan, tapi keadilan adalah perjuangan seumur hidupku, demi anak-anak muda yang mati sebagai martir”.

Pada Mei kita belajar tentang keyakinan.
Mei yang heroik-tragis kita kenang pada gerakan mahasiswa bersama rakyat menggulingkan pemerintahan otoriter-korup. Tanpa senjata mereka berhadapan dengan popor dan peluru. Keinginan akan perubahan membakar semangat mereka tanpa lelah berdemonstrasi. Mereka percaya salus populi suprema lex. Kedaulatan rakyat adalah hukum yang utama.
Tapi perjuangan mereka berakhir tragis karena reformasi dibajak di tengah jalan. Politikus tua dengan cerdik memboncengi perjuangan mahasiswa dan naik ke panggung politik dengan topeng yang lebih bersih.

Pada Mei kita belajar tentang cinta pada ibu pertiwi.
Mei yang ada di buku-buku sejarah kita kenang dalam diskusi mahasiswa-mahasiswa kedokteran pada 1908. Anak-anak muda Boedi Oetomo itu meletakkan visi tentang Indonesia jauh ke depan. Tahun ini kita memperingatinya sebagai se-Abad Kebangkitan Nasional.
Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa anak orang kaya nan mapan. Mereka bisa saja memilih untuk acuh, bergelut dengan buku dan bergegas menyelesaikan kuliah. Tapi mereka memilih untuk menyisihkan waktu berdebat, berdiskusi dan mereka-reka masa depan, demi ibu pertiwi yang mereka cintai.

Pada Mei kita belajar tentang keteguhan dan kepasrahan.
Mei dalam kalender liturgi kita khususkan untuk berbakti pada Bunda Maria. Kita daraskan devosi sepanjang bulan pada keteladannya. Dia adalah simbol perempuan yang tangguh sekaligus hidup dalam kepasrahan luar biasa. Tidak terlalu banyak kisah tentangnya, tapi dari jejak kisah-kisah itu kita mencintainya.

Inilah kesimpulan pembelajaran paling sempurna sepanjang bulan ini.
Biarlah kita semua selalu teguh hati, yakin, pasrah dan lantas Tuhanlah yang menyempurnakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: