Menemukan Kembali Boedi Oetomo

Menemukan Kembali Boedi Oetomo
Daniel Dhakidae

Apa pun bisa diberikan kepada, dan dikatakan tentang, nasionalisme
kecuali suatu tanggal lahir. Nasionalisme tidak pernah lahir, tetapi
”menjadi”. Nasionalisme adalah proses panjang hasil dialektika antara
ruang, waktu, dan kelompok sosial dan politik yang mengolahnya.
Kalaupun ada urusannya dengan ”kelahiran”, nasionalisme selalu berada
dalam ”proses lahir”, semper in statu nascendi.

Untuk siapa didirikan?

Nasionalisme adalah gejala modern. Karena itu, hampir tidak
terbayangkan Majapahit, dengan seluruh kedigdayaan jaladi mantry,
angkatan lautnya, yang ”me-wiçirna sahana-kan”, memusnahkan para
pemberontak mampu melahirkan nasionalisme. Infrastruktur tidak
memungkinkan itu. Salah satu hal yang paling utama dalam kesadaran
nasional adalah bahasa. Bahasa Jawa tidak pernah bisa dikembangkan
sebagai bahasa kesadaran tentang ”hidup bersama” (la conscience de
vivre ensemble, Ernest Renan).

Namun, yang paling utama adalah tidak adanya warga dan konsep
kewargaan di sana. Yang ada adalah gerombolan manusia abdi yang
diperintah oleh ”putra sang Surya atau putra para Dewata dari kayangan”.

Ditempatkan dalam pengertian di atas berdirinya Boedi Oetomo (BO)
menjadi sangat menarik. Ketika menyambut ulang tahun ke-10, 1918, Noto
Soeroto menggubah sebuah ode, madah puja-pujian, untuk BO dengan judul
”Het schone Streven”, perjuangan mulia.

Dalam seluruh ode yang selalu disinggung adalah suatu gerakan dan
organisasi yang menjadi cahaya yang menyinari ”moeder Java”, dan ”het
volk van Java”, untuk ”ibu Jawa dan bangsa Jawa”, dan bukan yang lain.
Seluruh sinar itu menandakan kebangunan, ontwaking, dan dalam
pengertian itu sekaligus pembangunan, ontwikkeling, bangsa Jawa.

Dalam konteks 1908-1918

Dengan semua keindahan ode tersebut, semuanya tidak melicinkan jalan
untuk menafsirkannya. Untuk menilai BO, hampir semua pengamat dan
peneliti senantiasa terjebak pada beberapa rintangan di bawah ini.
Pertama, melihat BO semata-mata dari kacamata tahun 2008. Kedua,
terpaku pada ritus ”hari kebangsaan”. Ketiga, karena terpaku pada
”perayaan”, semua menyisihkan ”pemberdayaan” dari apa yang mereka
sendiri sebut sebagai ”het schone streven”, ”perdjoeangan moelia dari
boedi moelia”.

Untuk itu, tidak ada jalan lain dari menempatkannya kembali pada
konteks Hindia. Politik etis sudah diumumkan, 1900, dan Perang Aceh
sudah boleh dibilang selesai pada tahun 1904. Ketika semua wilayah
sudah masuk ke dalam Hindia Belanda, satu-satunya yang belum masuk
secara administratif adalah semua wilayah Nusa Tenggara Timur.
Alasannya bukan karena wilayah ini ganas melawan Belanda, tetapi
selalu dianggap ”pos beban” dalam istilah keuangan kolonial.

Karena itu, sejak tahun 1902 Belanda mau menyapu bersih semua wilayah
itu sehingga terjadi perang-perang lokal. Pemberontakan meletus di
Sumbawa, Sumba, Roti, Sabu, dan Flores. Namun, baru pada tahun 1918
semua wilayah itu takluk, persis pada ulang tahun ke-10 BO meski pax
neerlandica baru berkuasa penuh pada tahun 1925.

Dengan begitu, kita lihat bahwa klaim ”kesadaran kebangsaan”
sebagaimana kita sekarang pahami adalah ahistoris karena sebagaimana
sudah ditunjukkan di atas gerakan ”Boedi Moelia” adalah gerakan
etnonasionalisme Jawa.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa BO pun berkembang, bukan dalam arti
meluaskan pandangannya ke luar Jawa, tetapi BO merangsang dan
memberikan contoh bahwa hal yang sama bisa dibuat di tempat lain dan
terutama menjangkitkan etnonasionalisme.

Dengan begitu, yang disebut sebagai ”kesadaran kebangsaan” adalah
gabungan dari kesadaran kebangsaan lokal, etnonasionalisme, yang kelak
memunculkan ”Jong Sumatra”, ”Jong Soematranen Bond”, ”Jong Ambon”,
”Jong Timor”, ”Jong Java”, dan ”Jong Celebes” sambil mengusungnya
dengan nama suku bangsa masing-masing. Nama Indonesia baru ”ditemukan”
bertahun-tahun kemudian, yang lantas kelak ditahbiskan sumpah pemuda
menjadi abadi.

Menemukan kembali

Ketika partai-partai lain bermunculan, BO pada dasarnya sudah pudar
bukan karena hancur, tetapi karena perjuangan kepartaian lain lebih
menarik, seperti Indische Partij, Serikat Islam, Partai Komunis
Indonesia, dan Partai Nasional Indonesia. Dengan demikian, kemunduran
BO lebih karena semakin tidak relevan dengan konteks politik yang ada.
Akhirnya BO ditelan sejarah ketika terjadi fusi partai pada tahun
1935, menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).

Pertanyaan kini, apakah ahistorisme BO sebagai penyadar kebangsaan
Indonesia ikut tertelan zaman. Bagaimana menemukan kembali BO
sebagaimana para pendiri republik ini menemukannya tahun 1948, ketika
untuk pertama kalinya ”hari kebangsaan” dirayakan? Untuk itu,
perhatian harus dialihkan ke luar dari perayaan. Kalau perhatian
semata-mata ditujukan kepada ”perayaan”, perayaan itu adalah perayaan
hampa. Namun, bukan itu soalnya. Perhatian tidak bisa semata-mata
diberikan kepada BO historis, tetapi kepada BO simbolik, dan dari sana
mencari makna baru, yaitu BO yang bukan sekadar ”dering-dering merdu”
versi Noto Soeroto, tetapi BO yang membuka horizon masa depan.

Jauh lebih penting dalam arti pemaknaan yang diberikan kepadanya
berlatarkan tantangan modern yang dikemukakannya. Pertama, mengapa
etnonasionalisme awal abad ke-20 justru memberikan ilham bagi suatu
kesatuan yang lebih besar? Kedua, mengapa etnonasionalisme abad ke-21
justru memecah-belah? Ketiga, sangat menarik bahwa BO menentang
pembelandaan pendidikan. Hal yang sama bisa diajukan kepada Indonesia
abad ke-21 ini, yaitu adanya gejala penginggrisan bahasa Indonesia,
yang liar tanpa aturan, dan terutama tanpa akal yang membuat bahasa
ini menjadi bahasa tanpa karakter.

Dengan begitu, kita mencoba menangkap tantangan sesungguhnya BO, yaitu
”kemajuan, solidaritas, dan martabat”.

Daniel Dhakidae

Peneliti Senior, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: