Menyuburkan Dimensi Baru Nasionalisme

Menyuburkan Dimensi Baru Nasionalisme
Syamsul Hadi

Dalam lintasan sejarah, belum pernah nasionalisme atau semangat kebangsaan mendapat predikat dan konotasi yang lebih degrading daripada yang terjadi dalam dua dekade terakhir.

Banyak pendapat, seusai Perang Dingin nasionalisme menjadi penyebab peperangan dan konflik berdarah yang massif di Kroasia, Bosnia, Kosovo, Georgia, Rwanda, dan sebagainya. Yang lain berpendapat, di tengah dunia yang makin mengglobal dan tak kenal batas ini, pembicaraan tentang nasionalisme adalah sebentuk kepicikan yang ketinggalan zaman alias obsolete.

Tidak demikian dengan Gustavo de las Casas dari Columbia University (Foreign Policy, Maret-April 2008). De las Casas mengakui ”sisi gelap” nasionalisme, tetapi sekaligus mengangkat sisi positifnya. Tidak seperti Banedict Anderson yang mendefinisikan nasionalisme sebagai imagined community, De las Casas mendefinisikan nasionalisme secara lebih ”empatik”, yaitu sebuah perasaan bersatu-kolektif yang menjadikan sekelompok manusia sebagai sebuah keluarga besar (A sense of collective unity that turns large groups into extended families).

Ia sodorkan hasil survei yang dilakukan lembaga bernama International Social Survey Programme (ISSP) yang berbasis di Norwegia pada tahun 1995 (melibatkan 23 negara) dan 2003 (melibatkan 34 negara). Survei ini menunjukkan, terdapat korelasi positif antara semangat kebangsaan dan tingkat kemakmuran sebuah bangsa. ”In truth, though, the problem with many poorer countries is that their citizens are not nationalistic enough,” tulisnya.

Warga negara-negara seperti Latvia dan Slovenia yang secara stereotip dipandang menyimpan benih-benih hipernasionalisme justru memiliki tingkat nasionalisme yang paling rendah. Sebaliknya, warga negara-negara Barat yang kaya, seperti Australia, Kanada, dan AS, justru memiliki skor nasionalisme paling tinggi.

Pisau bermata dua

Harus diakui, ”sisi gelap” nasionalisme telah menghasilkan manusia semacam Milosevic, Hitler, dan Mussolini. Sisi gelap itu mengedepan ketika kecintaan kepada bangsa sendiri bercampur aduk dengan keyakinan bahwa bangsa itu tidak terikat atau berada di atas (beyond) semua standar moralitas. Identitas yang dibangun di atas pandangan dunia yang soliter dan hegemonik semacam itu, menurut Amartya Sen (2006), adalah pembuka pintu bagi distorsi atas kemanusiaan universal.

Meminjam De las Casas, nasionalisme bukan hanya mengandung sisi perlawanan, tetapi juga kerja keras positif dalam kesetiaan kepada masyarakat sebangsa. Perasaan bersatu-kolektif ini dapat menjadi modal sosial (social capital) yang bersubstansikan trust, kerja keras dan solidaritas pada yang menderita. Korupsi dan segala bentuk penyalahgunaan wewenang, dalam konteks ini, adalah pengkhianatan terhadap nasionalisme karena menelikung hak-hak saudara sebangsa.

Dalam konteks hubungan internasional, menurut Susan Strange (2000), perubahan struktural yang terjadi akibat meluasnya peran perusahaan-perusahaan transnasional telah memaksa terjadinya perubahan dalam substansi nasionalisme. Faham realis yang mengedepankan persaingan teritorial sebagai manifestasi perjuangan memperbesar power of the nation tidak lagi memadai. Menambah power tidak perlu harus dengan memperluas teritori, tetapi lebih pada menghasilkan nilai-nilai tambah ekonomi dalam teritorinya sendiri guna bersaing dengan negara lain dalam hal kemakmuran.

Negara tidak hanya harus memperkuat ketahanan militernya, tetapi juga harus pandai berdiplomasi dalam berhadapan dengan perusahaan-perusahaan transnasional yang beroperasi di wilayahnya, termasuk memperjuangkan porsi yang lebih besar atas bagi hasil kekayaan alam yang dieksploitasi guna memaksimalkan kemakmuran rakyat. Dengan kata lain, menurut Susan Strange, yang dibutuhkan bukan hanya negara yang kuat, tetapi negara yang kuat dan pintar (a strong and shrewd state).

Di tengah krisis baru

Majalah The Economist (12-18 April 2008) menyatakan, terdapat peluang besar bahwa tahun 2008 dan 2009 dunia akan terlanda depresi ekonomi, dengan pertumbuhan di bawah 3 persen. Kelaparan dan kekurangan pangan akan meluas ke segenap penjuru. ”Gelombang krisis baru” itu dipastikan akan makin menggoyahkan daya tahan masyarakat Indonesia, khususnya lapisan bawah, yang masih belum pulih dari luka akibat krisis 1997-1998.

Tak heran, nada optimisme terdengar makin sayup saat bangsa ini memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Saling menyalahkan sudah pasti tak akan menyelesaikan masalah. Inilah saatnya menerjemahkan nasionalisme, perasaan senasib sepenanggungan sebagai keluarga besar bangsa yang disinyalir De las Casas dalam bentuk yang paling konkret. Contohlah Evo Morales. Tak lama setelah menjadi Presiden Bolivia, ia mengeluarkan kebijakan yang ”melukai” diri dan kelompoknya: memotong 50 persen gajinya sendiri, anggota kabinetnya, dan anggota partainya, untuk dialokasikan bagi program-program antikemiskinan.

Bulan Mei 2006 Morales juga mengeluarkan dekrit yang menaikkan pajak dan royalti perusahaan-perusahaan transnasional asing yang mengeksploitasi minyak di Bolivia menjadi 82 persen, dari sebelumnya yang hanya 30 persen. Morales seperti memeragakan pemikiran Susan Strange, yaitu memperbesar nilai tambah ekonomi atas eksploitasi kekayaan alam di teritori Bolivia untuk memperbesar kemakmuran rakyatnya.

Di negeri ini, manfaat demokrasi bagi kesejahteraan rakyat tidak akan pernah tercapai selama paradigma kita tentang nasionalisme tidak menyuburkan dimensi trust, kerja keras, dan solidaritas sosial yang konkret. Dalam tataran kebijakan, ia harus melahirkan kebijakan yang dapat memperbesar nilai tambah ekonomi bagi potensi yang tersebar dalam teritori kita sendiri, untuk diabdikan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sampai kapankah elite bangsa ini hanya unggul dalam akrobat politik untuk memanipulasi rakyat sendiri, tetapi lamban bak ”keong” dalam pertandingan meningkatkan kemakmuran di aras antarbangsa?

Syamsul Hadi

Pengajar di Departemen Hubungan Internasional FISIP UI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: