100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi Elan yang Terpojok-Lesu-Bisu

100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi
Elan yang Terpojok-Lesu-Bisu

Salah satu persamaan dari gerakan anak-anak muda saat Kebangkitan Nasional seratus tahun lalu dan reformasi sepuluh tahun lalu adalah keduanya sad ending. Berakhir dengan sedih. Sekumpulan mahasiswa Indonesia yang sedang studi kedokteran di Belanda dan merintis gerakan menyatukan Indonesia waktu itu hanya bertahan beberapa tahun.
Beberapa tokohnya seperti Dr Soetomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Suradji yang kala itu masih berusia muda sempat berdebat panjang soal siapa yang akan memimpin gerakan ini; generasi tuakah atau cukup mereka yang muda? Kesepakatannya, kaum tua memimpin, kaum muda yang menggerakkan. Resikonya, organisasi ini berkali-kali berganti pemimpin dari kalangan priyayi atau bangsawan Jawa dan mengalami kemunduran karena para priyayi tua takut dan acuh pada cita-cita kemajuan.
Boedi Oetomo menjadi semakin mandul setelah muncul Sarekat Islam dan Indische Partij, organisasi kemasyarakatan yang berorientasi politik dan dimusuhi Belanda. Setelah Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928, organisasi ini mulai tenggelam.
Sebagai sebuah gagasan, Kebangkitan Nasional patut dikenang, tapi sebagai sebuah gerakan, lagi-lagi, perlu banyak dievaluasi.
Gerakan reformasi idem dito. Ketika mengawali gerakan ini di awal 1996, para mahasiswa yang tekun berdiskusi dan merancang gerakan massa di kamar kost yang sempit di berbagai kota ini tidak pernah membayangkan bahwa Soeharto akan benar-benar jatuh. Bahkan, sampai gerakan ini menjadi sangat besar, mereka masih belum jeli mengamati pergerakan politikus-politikus Orde Baru yang mulai mencari posisi aman sembari menyiapkan taktik agar tidak tergerus oleh gerakan ini dan sekaligus mencuri start agar bisa sama-sama mencapai finish bersama mahasiswa dan rakyat yang mengawal gerakan ini dengan tumbal nyawa dan harta.
Setelah target utama reformasi (menggulingkan Orde Baru) tercapai, mendadak tidak ada yang mengambil alih “gerbong”. Kesempatan ini dengan mudah diambil alih oleh para politikus yang memang sudah berpengalaman dalam memainkan peta politik. Tiga aktor utama Orde Baru yaitu Soeharto dan kroninya, TNI dan Golkar terbukti masih berkuasa sampai hari ini (lihat box Oligarki Hari Ini).
Pemilu 1999 (buah reformasi yang “menganulir” Pemilu 1997) memang dimenangkan oleh rakyat kecil. Indikasinya adalah kemenangan partai PDI-P yang berbasis rakyat kecil. Namun ternyata hasil Pemilu 1999 masih dapat direkayasa sedemikian rupa. “Pemain-pemain” lama dalam politik masih mendapat tempat strategis dalam peta politik kita.
Persamaan lain antara gerakan 1908 dan gerakan 1998 adalah gerakan tersebut dipelopori oleh orang muda dari kalangan terdidik (mahasiswa) lewat jalur propaganda dan pendidikan bagi rakyat. Orang muda membuktikan elan (semangat perjuangan) positifnya dengan mencerahkan rakyat.
Memang kadang sembrono, nekat dan minim perhitungan. Tapi, begitulah karakter khas orang muda, there’s no second chance (tidak ada kesempatan kedua). Semua energi ditumpahkan pada kesempatan pertama yang bisa direbut. Kebalikannya dengan karakter generasi orangtua, mereka lebih berhati-hati dan jeli menangkap peluang untuk terlibat.
Namun, hakikat perjuangan orang muda dan generasi tua dibedakan dalam garis yang tegas. Yang satu memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan, kelompok lainnya memperjuangkan kemapanan dan status quo. Inilah substansi yang sering melatar-belakangi beragam konflik antara dua generasi ini. Isu terbaru tentang kepemimpinan politik orang muda (dengan Fadjroel Rahman sebagai ikonnya) kiranya juga berawal dari titik ini.
Kini, agenda gerakan 1908 dan gerakan 1998 masih menyisakan pekerjaan rumah bagi kita. Dengan gerakan 1908, kita diingatkan akan agenda penyatuan konsepsi tentang nation-state (bangsa-negara). Banyak kalangan menilai, sebagai state kita sudah teruji selama 50 tahun lebih. Soal-soal keadministrasian dan pengelolaan negara sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ribuan ahli tata negara lulusan universitas luar negeri dengan mudah bisa kita jumpai.
Tapi, soal nation, kita masih gagap. Konon, saat revolusi kemerdekaan, kita tidak benar-benar mengalami “senasib-sependeritaan”. Penyatuan berbagai etnis, ras dan budaya di Indonesia waktu itu lebih sering dilakukan dengan pendekatan keamanan nan militeristik. Joke yang sering kita dengar untuk menyatakan bahwa kita belum utuh sebagai sebuah nation adalah “Indonesia Adalah Jawa”. Keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI (NKRI) dari beberapa daerah adalah bukti nyata betapa pemimpin-pemimpin kita dulu lemah dalam hal menumbuhkan semangat kebangsaan. Dalam bahasa kekuasaan, kita terbiasa mendengar sebutan “aksi separatisme” meskipun sesungguhnya diduga akar masalahnya adalah ideologi developmentalisme (pembangunan) yang dikembangkan oleh Orde Baru. Pembangunan dikebut tapi pemerataan tertinggal jauh.
Dengan gerakan 1998 kita diingatkan akan beberapa agenda yang berserakan tak tergarap (lihat box Agenda Reformasi). Sepuluh tahun lalu kita masih bisa mengandalkan gerakan mahasiswa dan rakyat, namun saat ini kita harus berkaca pada realitas.
Ada atmosfer yang berbeda pada gerakan mahasiswa saat ini. Kelompok-kelompok kampus dan ekstrakampus lebih banyak berkutat soal konsolidasi internal kelompok mereka sendiri. Tantangan jaman yang berbeda dan tidak ada common enemy (musuh bersama) juga salah satu kendala bagi gerakan mereka.
Selain itu, ada faktor mendasar yang menjadi judul tulisan ini, yaitu sekaratnya elan perjuangan yang dulu membara, menggebu-gebu dan tak kenal lelah. Elan ini muncul tatkala ada situasi abnormal di tengah masyarakat yang musti dibenahi. Kini dia hanya bisa terpojok di sudut-sudut kamar, lesu dan bisu. Dia sekarat bersamaan dengan gempuran modernisasi. Ruang lingkupnya mengecil menjadi hanya sebatas kepentingan diri sendiri. Semangat menggelora itu ditransformasi-kan dalam wujud heroisme mencari nafkah, studi lanjut atau merintis karier yang lebih menjanjikan.
Tak bisa sepenuhnya disalahkan, itulah dampak modernisasi yang merambah seluruh dimensi hidup. Seperti gurita, modernisme melilit, meremukkan tulang dan memaksa orang tunduk pada keadaan.
Kini elan itu sudah susah dinyalakan kembali. Dia hanya menunggu disulut, ditantang dan dihadapkan dengan masalah yang sudah akut.
Sungguh sangat diharapkan kemunculan orang-orang muda progresif yang elannya belum terpojok-lesu-bisu. Masih adakah mereka?

—————

Agenda Reformasi ; Pelaksanaan dan Catatan Kritis Atasnya
1. Penegakan supremasi hukum : Terbentuknya Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial dan lembaga negara lainnya (Masih terjadi tumpang tindih kewenangan antarlembaga tersebut)
2. Pemberantasan KKN : Dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (Belum memunculkan efek jera karena hukumannya terlalu ringan)
3. Pengadilan Soeharto & kroninya : Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) pada 2004 (Masih menjadi perdebatan panjang setelah Soeharto mangkat. Kroninya di masa lalu banyak yang melindungi)
4. Amandemen konstitusi : Dilakukan empat kali (Masih menjadi bom waktu atas munculnya Piagam Jakarta)
5. Pencabutan dwifungsi TNI/Polri : Terjadi pemisahan institusi TNI dan Polri (Reformasi internal TNI belum selesai terutama soal pendidikan di akademi militer)
6. Otonomi Daerah : Muncul UU Pemerintahan Daerah No 25/1999 (Mulai muncul fenomena pemekaran wilayah dan rawan konflik horisontal)
7. Penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu : Masih dalam tahap penyelidikan. Dibentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (Tidak ada political will dari empat rezim yang pernah berkuasa)

—————

Oligarki Hari Ini :
Presiden : Purnawirawan TNI
Wakil Presiden : Ketua Umum Partai Golkar
Ketua DPR : Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar
Ketua DPD : Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar
Personal : Kroni dan anak-anak Soeharto masih belum tersentuh hukum

Yudhit Ciphardian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: