Anamnesis Tragedi Mei 1998

Anamnesis Tragedi Mei 1998
Oleh J KRISTIADI

Sepuluh tahun yang lalu, kerusuhan 13-15 Mei 1998, adalah tragedi
nasional yang menodai rasa kemanusiaan, kehormatan, dan peradaban
bangsa Indonesia.

Bencana itu merupakan produk pertarungan kekuasaan rezim yang monolit,
tertutup, serta represif. Sentimen primordial yang menjadi titik lemah
hubungan sosial justru diduga kuat digunakan penguasa mengadu domba
masyarakat agar negara mempunyai legitimasi bertindak represif.

Namun, petaka tersebut telah menjadi momentum bagi rakyat
menjungkirbalikkan struktur kekuasaan yang sewenang-wenang, tetapi
rapuh. Rakyat berhasil merebut kembali kedaulatannya setelah
pilar-pilar kekuasaan yang represif dan merajalela selama lebih kurang
tiga dasawarsa ambruk. Monopoli kekuasaan dan kebenaran oleh
segelintir orang telah runtuh.

Mengenang (anamnesis) peristiwa traumatik 10 tahun lalu bukan ingin
mengingat kembali kepedihan, melainkan untuk memberikan makna bagi
perjuangan bangsa Indonesia menata kehidupan politik ke depan yang
beradab.

Melupakan peristiwa buruk masa lampau membuat manusia tidak bijak, dan
tidak mengingat keindahannya mengakibatkan manusia mudah menjadi
jahat. Dalam perspektif itulah pengorbanan mereka menjadi pupuk yang
menyuburkan tumbuh serta berkembangnya budaya kekuasaan yang
bermartabat di bumi pertiwi Indonesia.

Setelah kedaulatan di tangan rakyat, tantangan berat yang dihadapi
bangsa Indonesia dalam mewujudkan negara yang kuat dan demokratis
adalah mengatur kebebasan yang juga merupakan buah reformasi.

Namun, harus diakui, banyak keluhan yang menyatakan bahwa kebebasan
selama satu dasawarsa belum diikuti dengan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Mereka menganggap perubahan politik salah arah. Oleh sebab
itu, mereka mendambakan kembali pemerintahan masa lalu yang dianggap
dapat menyediakan kebutuhan rakyat.

Penjelasan paling sederhana terhadap persepsi tersebut sebagai
berikut. Pertama, 10 tahun terlalu singkat untuk mencapai cita-cita
yang bertujuan mengubah kultur politik otoritarian menjadi peradaban
politik yang manusiawi.

Kedua, tataran demokrasi prosedural dewasa ini dimanfaatkan para elite
politik dan penumpang gelap secara oportunistik dengan dana melimpah
membajak reformasi untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya. Mereka
adalah benalu yang sangat membahayakan proses reformasi dan dapat
membunuh benih-benih peradaban baru yang akan tumbuh di bumi Indonesia.

Cara paling efektif adalah mengeksploitasi keluhan masyarakat terhadap
kenyataan hidup yang sementara ini memang sulit, terlebih karena
terjadi krisis pangan, energi, dan lain-lain. Hal-hal itu merupakan
mesiu yang ampuh bagi mereka menghancurkan kredibilitas reformasi.
Amnesia kolektif tentang kesewenang-wenangan rezim masa lalu akan
mudah dilupakan bagi rakyat yang menderita.

Warisan bobrok

Meskipun demikian, kenyataan itu tidak perlu diingkari. Apabila
dicermati secara lebih jernih, penyebab paling mendasar penderitaan
rakyat dewasa ini adalah warisan bobrok rezim masa lalu karena
terjadinya kolusi dan korupsi yang merupakan bagian dari sistem
kekuasaan masa itu. Penguasa dengan leluasa menyalahgunakan uang
negara yang berasal dari utang luar sehingga mengakibatkan Indonesia
mengalami krisis yang berlarut-larut.

Monopoli kekuasaan dan kebenaran rezim telah membunuh kebebasan
sehingga rakyat tidak dapat mengontrol setiap kebijakan yang dilakukan
oleh negara. Harga kebutuhan pokok sehari-hari yang relatif murah
adalah produk dari rekayasa kebijakan yang tidak transparan dan
manipulatif sehingga dalam jangka panjang mengakibatkan krisis dan
hancurnya perekonomian bangsa.

Kalaupun krisis tersebut disebabkan oleh pengaruh global, ternyata
negara lain telah pulih, sementara bangsa Indonesia masih harus
berjuang keras mengatasinya. Beban berat masa lalu harus ditanggung
oleh seluruh bangsa saat ini, termasuk ratusan triliun rupiah dana
penyelamatan ekonomi menjadi beban rakyat.

Keruwetan politik dewasa ini mungkin memengaruhi pula kehidupan
rakyat. Namun, yang jelas jalan yang ditempuh bangsa ini telah benar.
Perlu waktu untuk membangun demokrasi yang mapan sebab kemapanan yang
palsu sebagaimana dipraktikkan rezim masa lalu pasti akan runtuh
karena tidak didukung rakyat.

Dengan demikian, kebebasan yang diperoleh dengan darah dan air mata
harus dipertahankan dan diatur agar tidak menimbulkan anarki. Hanya
dengan memiliki kebebasan, rakyat dapat menyuarakan tuntutan keadilan,
penderitaan, dan aspirasi lainnya tanpa takut diancam oleh negara
karena dianggap melakukan tindakan kriminal atau makar. Namun, yang
lebih penting lagi kebebasan bahkan memungkinkan rakyat dapat
membangun kekuatan yang menjadi institusi (opini publik) yang mampu
mengimbangi parlemen, partai politik, lembaga yudisial, dan pemerintahan.

Oleh sebab itu, kebebasan harus digunakan untuk membangun kekuatan
yang konstruktif melawan kecenderungan untuk mengembalikan kekuasaan
represif.

Merenungi 10 tahun reformasi menjadi semakin relevan karena bersamaan
waktunya dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang sedang
ramai dimaknai momentumnya.

Bahkan, dalam dinamika pembangunan bangsa, kesempatan baik ini mungkin
dapat pula dimanfaatkan untuk mempertimbangkan gagasan reflektif Buya
Syafii Maarif agar memperluas pijakan sejarah Kebangkitan Nasional
supaya tidak terlalu ”Jawa Sentris” (harian Republika, 5 Mei 2008).
Ilham tersebut perlu dikembangkan agar Kebangkitan Nasional mempunyai
basis sosial dan landasan historis lebih kukuh, misalnya hari Sumpah
Pemuda, 28 Oktober 1928.

Ide sehat tersebut akan lebih menegaskan bahwa rasa sebangsa dan
setanah air harus didasarkan atas kesepakatan seluruh komponen bangsa
tanpa ada satu kelompok pun yang merasa lebih dominan dari kelompok
lainnya.

Dengan semangat kebangkitan nasional pula, dalam situasi yang sulit
dewasa ini rakyat perlu ditemani oleh para elite yang penuh tenggang
rasa serta peduli dengan derita mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: