Kebangkitan Moral

Kebangkitan Moral
Oleh Sri Pannyavaro Mahathera

Kebutuhan kita, masyarakat Indonesia, sekarang tidak sekadar
perubahan, tetapi kebangkitan moral.

Pelaku korupsi bukan karena masalah miskin atau kaya. Pelanggar hukum
bukan karena buta hukum atau justru mengerti hukum. Perusak lingkungan
bukan lagi karena kebodohan tidak mengerti dampak hancurnya lingkungan
atau malahan sudah terkena sendiri bencana akibat kehancuran
lingkungan. Pelaku tindak kekerasan bukan lagi karena tidak beragama
atau bahkan sangat mengerti agama.

Dengan kalimat lain: tidak hanya yang miskin, tetapi mereka yang
kondisi ekonominya baik, yang sudah kaya, masih juga mencuri atau
korupsi. Bukan hanya yang buta hukum, tidak punya wawasan lingkungan,
ataupun tidak cukup pengertiannya tentang agama yang tidak berhenti
melakukan perilaku buruk; tetapi mereka yang memiliki kecerdasan
intelektual cukup, pemeluk agama: tidak pernah berhenti juga korupsi,
melakukan tindak kejahatan, dan menghancurkan lingkungannya sendiri.

Kenikmatan membuat kerakusan

Dorongan apakah yang demikian kuat memotori perilaku buruk? Kekuatan
yang menyeret banyak orang untuk tidak jera berperilaku buruk adalah
kenikmatan. Kenikmatan membakar hawa nafsu untuk mencari pemuasan.
Kepuasan yang dikejar memang bisa didapat, tetapi kenikmatan itu tidak
abadi. Makin dinikmati, hawa nafsu makin menuntut. Tidak pernah puas.
Makin haus! Lalu, menjadi ketagihan. Ketagihan akan kenikmatan
inderawi ini telah memotivasi dan sekaligus mendorong perilaku buruk
seseorang.

Ketagihan akan kenikmatan membuat orang melupakan kearifan Dharma,
tidak peduli norma-norma hukum, tidak takut dengan sanksi moral atau
akibat karma. Ketagihan membuat mabuk melahirkan kegilaan dan
kerakusan. Kerakusan memakai semua cara buruk untuk mencapai tujuan.
Kerakusan membuat kedudukan menjadi lembaga untuk berkuasa semata,
bukan pintu melakukan kebajikan bagi banyak orang. Kerakusan membuat
demokrasi dan hak asasi manusia diterjemahkan sebagai hak untuk bebas
berbuat serta bebas menuntut apa pun. Kerakusan bahkan sering membuat
simbol-simbol agama menjadi alat untuk memperbesar egoismenya.

Bumi Nusantara ini pernah dikuasai oleh penjajah dalam kurun waktu
yang sangat lama, 350 tahun, sebab awalnya adalah kenikmatan bangsa
asing terhadap kesuburan Tanah Air kita yang kemudian berkembang
menjadi kerakusan menguasainya. Bukan hanya kerakusan penjajah yang
menjadi penyebab, melainkan kerakusan para pemimpin anak bangsa
Nusantara sendiri pada masa-masa itu terhadap kedudukan dan materi
juga menjadi sebab terbesar penjajahan selama 3,5 abad. Penjajah bisa
mengambil kekayaan alam kita tanpa batas. Akibat lain, persatuan
bangsa sulit dibangun. Bangsa menjadi rapuh.

Mereka yang menjadi rakus dengan materi, kedudukan atau kekuasaan,
bahkan popularitas sekalipun yang bermuara pada pemenuhan kepuasan
diri seolah tidak takut terhadap apa pun atau siapa pun. Kalau banyak
orang terjerumus dalam kerakusan kenikmatan inderawi, perubahan sistem
dan pergantian pimpinan, peringatan dan tuntunan agama, seolah tidak
ada artinya. Perubahan ke arah yang lebih baik hanya berhenti pada
wacana atau bahkan menjadi impian panjang.

Mencerahkan

Sekarang kita memerlukan kebangkitan moral. Moral kita masing- masing
harus bangkit menghadapi kehausan akan kenikmatan yang sering menyusup
menghasut kita.

Kita tidak hanya perlu ketegaran menghadapi bencana di sekitar kita
dan penderitaan hidup ini, tetapi ketegaran juga sangat kita perlukan
untuk menjaga moralitas dan perilaku kita.

Kalau kegilaan atau kerakusan terhadap kenikmatan inderawi tidak
mempan dengan ancaman rasa malu, hukuman, bahkan konsekuensi karma
buruk, pencerahan harus mendasari komitmen untuk mengubah sikap
mental. Masukkan kearifan ke dalam pemikiran bahwa tidak ada yang
abadi di semesta ini.

Kenikmatan apa pun hanyalah sementara. Kenikmatan yang menjelma
menjadi kegilaan akan benar-benar membuat orang menjadi gila. Namun,
kenikmatan yang dicapai dengan kearifan, yang merupakan buah dari
perilaku bajik, meski juga hanya sementara, akan membuahkan perbaikan
dan kebahagiaan. Kearifan ini adalah dasar. Kearifan ini harus menjadi
pencerahan yang harus ditanamkan oleh diri sendiri dalam lubuk
pemikirannya sendiri. Bukan harus dipaksakan dari luar, dan bukan pula
dengan ancaman semata.

Kearifan atau kebijaksanaan (pannya) yang tumbuh di dan dari dalam
diri kita akan melandasi perubahan sikap mental. Moral harus kita
bangkitkan sendiri menghadapi kerakusan yang memberikan kenikmatan
sesaat, tetapi membuahkan penderitaan berkepanjangan bagi diri
sendiri, lingkungan, serta orang banyak.

Waspada ke dalam

Memang tidak mudah mengubah sikap mental. Memang tidak mudah
membangkitkan moralitas yang tegar dan tangguh. Lingkungan sosial, dan
sekali lagi, kenikmatan, selalu memanggil- manggil tiap orang untuk
berperilaku buruk. Namun, awasilah perasaan dan pikiran ini. Awasi
sendiri karena orang lain tidak mungkin mampu mengawasi perasaan dan
pikiran kita. Awasi dengan penuh perhatian! Awasi terus! Awasi dengan
ketekunan. Ketagihan (upadana) yang melahirkan kerakusan atau kegilaan
akan berhenti menghasut pikiran kita bila kita menghadapinya dengan
perhatian penuh, dengan kewaspadaan ke dalam diri.

Asahlah kewaspadaan itu agar menjadi tajam. Kita mempunyai kekuatan di
dalam (inner strength) untuk membebaskan pikiran kita sendiri dari
kehausan akan kenikmatan. Kewaspadaan atau perhatian penuh terhadap
perasaan yang selalu menarik- narik pikiran, kewaspadaan atau
perhatian penuh terhadap pikiran yang selalu menjadi pendorong semua
perbuatan, adalah kunci melakukan perbaikan moralitas kita.

Perbaikan moralitas itu adalah kebangkitan moral yang kini kita
butuhkan untuk menjaga serta membawa bangsa ini maju. Kebangkitan
moral itu adalah tuntutan kita untuk diri kita masing-masing.
Kesungguhan dan ketulusan kita akan menjadi teladan bagi yang lain.
Kebangkitan moral bukan semata seruan atau tuntutan bagi orang lain.

”Kebajikan moral adalah sebagai dasar, sebagai pendahulu dan pembentuk
dari semua yang baik dan indah. Oleh karena itu, ”hendaklah orang
menyempurnakan kebajikan moral” (Theragatha 612).

Sri Pannyavaro Mahathera

Bhikkhu Kepala Vihara Mendut, Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: