Kebangsaan: Imajinasi Masa

Kebangsaan: Imajinasi Masa
Oleh BRE REDANA

Apakah sebuah gagasan – katakanlah gagasan mengenai nasionalisme –
bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi
semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan
tangan, satu padu bulat tekad menuju merdeka? Banyak hal membuktikan,
kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan
yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di
baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.

Pada mulanya, pembangunan Grote Postweg—sebuah jalan raya yang
menyisir Pulau Jawa di bagian utara, dari Anyer sampai Panarukan, oleh
Herman Willem Daendels, ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur
Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811. Pembangunan jalan itu adalah
untuk menahan kemungkinan invasi Inggris dari laut (utara). Dengan
pembangunan jalur itu—yang dirancang sebagai jalur militer—bisa
disusun strategi untuk memobilisasi manusia, dari satu wilayah
permukiman ke permukiman lain.

Lalu, semua berlangsung tak terduga. Bukan saja tumbuhnya jalan
berarti juga tumbuhnya jalur perdagangan, tetapi peta kekuasaan bahkan
sakralitas kekuasaan diacak-acaknya. Dalam konsep kekuasaan
sebelumnya, infrastruktur semacam alun-alun yang dikelilingi oleh
keraton, masjid, adalah simbol sebuah domain politik. Hanya saja, apa
peduli †Tuan Guntur†(begitu Daendels dijuluki karena ketegasannya dan
barangkali perintahnya yang keras meledak seperti guntur di langit)?

Alun-alun, seperti di Pati dan Demak, dia terjang dengan proyek jalan
rayanya. Dalam catatan Peter JM Nas dan Pratiwo (Java and De Groote
Postweg, La Grande Route, The High Military Road, Leiden/Jakarta,
2001), di alun-alun yang terbelah itu lalu muncul kegiatan
perdagangan, katakanlah lahirnya domain ekonomi baru, merongrong
domain politik lama keraton. Kalau menurut budayawan Sardono W Kusumo,
pembangunan jalan raya oleh Daendels juga mengalienasi keraton-keraton
di Jawa, yang kemudian memilih jalur ke selatan saja, berhubungan
dengan Laut Selatan, dengan Ratu Kidul. Bisa ditebak, apa
implikasinya, kalau di belahan utara dunia bergerak dalam kegairahan
perdagangan, sementara di jalur selatan raja asyik-masyuk
bermasturbasi dengan Ratu Kidul, maka kekuasaan lama harus segera
tutup buku. Tancep kayon.

Pada periode sejak awal 1800-an itulah disebabkan berbagai sebab
benih-benih antikolonialisme menemukan bentuknya dalam perlawanan yang
baru—bukan sekadar kisruh berebut kekuasaan seperti di zaman-zaman
keraton lama sebelumnya. Menurut Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang
Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Gramedia Pustaka Utama,
1996), perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, yang sering
juga disebut sebagai †Perang Jawa†dari 1825-1830, adalah †batas
historis antara periode ’konflik-konflik feodal’ dan ’periode
modern’†. Lombard mengaksaentuasi pendapat Peter Carey, bagaimana
perang tadi meletus bukan pada waktu krisis, tetapi justru pada waktu
pembangunan ekonomi berjalan pesat.

†Yang terjadi bukanlah pemberontakan petani yang tercetus karena
kelaparan dan kesengsaraan, tetapi pemberontakan terencana, yang
dikobarkan oleh beberapa orang bangsawan dan secara sadar didukung
oleh sebagian elite pedesaan,†demikian Lombard menulis.

Ihwal mengenai Diponegoro ini juga menarik perhatian pelukis tersohor,
Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), yang banyak bergaul dengan
elite bangsawan maupun para intelektual Eropa. Politik representasi
sudah beroperasi pada zaman itu. Pelukis Belanda, JW Pieneman, melukis
peristiwa penangkapan Diponegoro, dengan menggambarkan sang pangeran
berdiri dengan dua tangan terbentang seolah kehilangan akal, sementara
di belakangnya, Jenderal de Kock berkacak pinggang menunjuk kereta
tahanan, seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Statemen berbeda diberikan oleh Raden Saleh. Dalam lukisan karyanya
berjudul †Penangkapan Diponegoro†, Sang Pangeran berdiri tegak dengan
kerut wajah tegas berwibawa, tangannya memegang tasbih dengan kencang.
Jenderal de Kock dilukiskan tetap menaruh hormat, selain penggambaran
kepalanya yang gede (seluruh orang Belanda dalam lukisan itu kepalanya
terlihat besar melebihi proporsi. Mungkin ini semacam †penghinaan†,
menggambarkan Belanda seperti para buto seberang dalam pewayangan).

Politik representasi ini bukankah merupakan gejala amat modern?
Sebagaimana pelukis-pelukis dan seniman-seniman pada zaman berikutnya
menyampaikan pesan politisnya di balik karya?

Awal tahun 1900-an, Hindia Belanda menyaksikan perubahan tata cara
berpakaian sejumlah kalangan pribumi. Yang disebut †new breed†atau
bibit-bibit baru dari Indonesia modern nantinya mulai mengenakan
pantalon dan juga topi seperti kalangan Belanda. Nantinya, peci
menjadi semacam simbol identitas kebangsaan. Melalui mode, sebuah
bangsa mulai mendefinisikan dirinya sendiri—bukan didefinisikan pihak
lain. Seperti kata Baudelaire, modernitas jangan-jangan berasal dari mode.

Nasionalisme, diteorikan Ernest Gellner seperti dikutip oleh Benedict
Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities (Verso,
London-New York, 1983), bukanlah hal kebangkitan bangsa-bangsa pada
suatu kesadaran diri, (tapi) ia menemukan (invent) bangsa-bangsa yang
sebenarnya tidak eksis. Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah
bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal
†terbayangkan†(imagined) karena toh pada dasarnya kita tidak pernah
kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu,
terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa.

Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity
sekaligus perasaan percaya—trust dalam istilah Fukuyama—bahwa kita
terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang
disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus
garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian
besar dari kami telah kalian miskinkan.

Grote Postweg sudah terkubur sejarahnya (dari sepanjang jalur ini di
seluruh Jawa, adakah sepenggal saja yang dinamai Jalan Raya
Daendels?). Bersama terkuburnya sejarah, tinggallah kebangsaan—sebagai
suatu konsep imajiner—juga menjadi imajinasi: imajinasi masa lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: