Makna Sebuah Kebangkitan

Makna Sebuah Kebangkitan
Oleh Mahathera Nyanasuryanadi

Pada saat rembulan bulat sempurna di bulan Waisak, dunia mengenang
kembali tiga peristiwa bersejarah menyangkut kehidupan Buddha Gotama.
Ketiga peristiwa itu adalah kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna,
dan parinirwana (meninggal dunia).

Kata Buddha sendiri mengandung pengertian bangun, bangkit, atau sadar.
Dan, Buddha bukan nama diri, melainkan gelar untuk orang yang telah
mencapai pencerahan. Ketika merayakan Waisak, lebih dari sekadar
peringatan historis, kita selalu memperbarui semangat untuk bangkit,
tidak lengah, tidak terlena.

Merenungkan Buddha berarti sadar, mengerti dan peduli pada apa yang
terjadi di dalam dan di luar diri kita. Seperti yang ditunjukkan oleh
Pangeran Siddharta, yang walaupun dibesarkan di tengah kemewahan, ia
menyadari bahwa semua makhluk, termasuk dirinya, merupakan sasaran
dari penderitaan. Ketika melihat dan memikirkan kesedihan orang-orang
lain, dukacita mereka menjadi miliknya. Ia menaruh peduli, karena itu
bangkit untuk mencari jalan mengatasinya.

Tidak melarikan diri

Kalau bisa memilih, kebanyakan orang ingin sekali dilahirkan sebagai
anak raja. Namun, Pangeran Siddharta justru meninggalkan keluarga,
kekayaan, dan kekuasaan. Dengan menempuh kehidupan sebagai petapa, ia
melepaskan ikatan keduniawian. Keliru jika menganggapnya melarikan
diri dari permasalahan. Langkah yang diambilnya dapat dijelaskan
dengan pernyataan berikut: ”Tidak mungkin seorang yang terperosok
dalam lumpur dapat menarik orang lain keluar dari lumpur. Hanya orang
yang telah bebas dari lumpur yang dapat menolong orang lain” (M I, 45).

Manusia merupakan bagian integral dari keseluruhan masyarakat, bahkan
alam semesta. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Mudah dimengerti
kalau para biksu di Myanmar atau belakangan ini di Tibet terlibat aksi
unjuk rasa. Sejarah berbagai dinasti di Tiongkok memperlihatkan
keterlibatan para biksu dalam pergolakan kebangsaan dan perjuangan
membela yang benar atau menegakkan keadilan. Wihara Shao Lin terkenal
telah melahirkan banyak biksu pendekar. Mereka menunjukkan bahwa kasih
sayang tanpa kekuatan berarti kelemahan. Sebaliknya, kekuatan tanpa
kasih sayang berarti kezaliman. Namun, bagaimanapun ajaran Buddha
menolak segala bentuk kekerasan.

Para pengikut Buddha berjuang menghadapi kekerasan dengan kekuatan
spiritual. Mungkin ada yang berpikir bahwa biksu-biksu itu berusaha
merebut kekuasaan, padahal mereka tidak tertarik dengan kekuasaan.
Mereka berdoa, menulis sastra, demonstrasi, dan mogok makan. Yang
paling ekstrem, terjadi dalam perang Vietnam, ada biksu-biksuni yang
membakar diri sendiri untuk membangkitkan kesadaran dan belas kasih.
Membakar diri adalah sebuah bentuk pengorbanan untuk menjadi pelita di
kegelapan. Tindakan ini menggerakkan hati jutaan orang dan
membangkitkan kekuatan cinta, dinilai lain dari bunuh diri yang
didasari oleh kegelapan batin. Buddha sendiri menghindari praktik
ekstrem, apakah itu menyiksa diri atau memanjakan diri. Ia mengajarkan
jalan tengah.

Cara hidup

Jalan tengah dikenal sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan, terdiri
atas pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar,
mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan semadi
benar. Semadi atau meditasi tak lain dari konsentrasi, memusatkan
pikiran yang baik pada satu obyek. Semua orang tahu Siddharta mencapai
kebuddhaan tatkala bermeditasi di bawah pohon bodhi. Seorang biksu,
Ma-tzu, yang ingin menjadi Buddha pun sering menghabiskan waktu
menyepi dengan duduk bermeditasi. Gurunya, Nan-ye, mengambil sebuah
batu dan menggosok-gosoknya. Ma-tsu bertanya, apa gerangan tujuan
perbuatan itu? Nan-ye menjawab bahwa ia ingin membuat batu tersebut
menjadi cermin. Tentu saja Ma-tsu keheranan, bagaimana mungkin sebuah
batu bisa digosok menjadi cermin?

Sang guru yang bijak menjelaskan, kalau batu digosok tidak bisa
menjadi cermin, bagaimana pula duduk bermeditasi dapat menjadi Buddha?
Seseorang berhasil menjadi Buddha bukan karena semata-mata duduk
bermeditasi. Terbatas hanya duduk untuk menjadi Buddha sama dengan
mengucilkan Buddha. Meditasi seharusnya adalah cara hidup yang
menyeluruh, pada dasarnya bukan pengasingan dari kehidupan. Meditasi
harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Meditasi yang benar tidak
terpisahkan dari daya upaya benar dan perhatian benar. Ketiga faktor
ini juga masih harus dilengkapi dengan faktor lain dari Jalan Mulia
Berunsur Delapan, membentuk satu jalan untuk mencapai pencerahan.

Seorang Buddha memiliki kesempurnaan kebajikan atau keutamaan yang
disebut paramita. Selain melepaskan keduniawian, paramita itu adalah
kemurahan hati atau pengorbanan, cinta kasih, keseimbangan batin,
kesusilaan, kebijaksanaan, kesabaran, kejujuran, semangat, dan
kebulatan tekad. Calon Buddha merealisasi semua paramita lewat
keterlibatan yang mendalam dengan permasalahan kehidupan. Tidak
mungkin tanpa berhubungan dengan sesama. Menjadi petapa yang
mengasingkan diri, atau filsuf yang duduk di belakang meja itu mungkin
mudah, tetapi pengetahuan dan pencapaian tidak punya arti banyak jika
kita belum tahu bagaimana menyentuh dan disentuh hati orang lain.

Kebangkitan dan transformasi

Satu orang seperti Buddha telah mengubah dunia. Bagaimana dengan kita?
Proses pencapaian kebuddhaan merupakan transformasi personal yang
bangkit dan hidup berkesadaran. Kita percaya bahwa kebaikan dapat
menular sehingga transformasi personal akan diikuti dengan
transformasi sosial. Agar tercipta kondisi yang kondusif, peran
personal memerlukan dukungan kekuatan struktural. Buddha pun membentuk
Sanggha, suatu struktur monastik yang membuat setiap individu
terlindung dalam komunitasnya.

Kebetulan Waisak tahun ini bertepatan dengan momentum 100 tahun
Kebangkitan Nasional. Kita tahu tiada kebangkitan tanpa kesadaran.
Kesadaran sebagai bangsa mengangkat harkat dan derajat bangsa
Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Ketika kita
terpuruk dalam multikrisis, reformasi pun bergulir. Namun,
kelihatannya tidak terjadi transformasi personal yang mengubah
mentalitas dan moralitas sehingga nasib rakyat belum berubah.
Agama-agama yang memiliki komitmen kuat pada pemuliaan kemanusiaan,
kesejahteraan, dan keselamatan manusia seharusnya membangkitkan
umatnya untuk bekerja sama mengambil peran dalam transformasi personal
dan sosial.

Selamat hari Waisak 2552 BE. Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Mahathera Nyanasuryanadi

Ketua Umum Sangha Agung Indonesia; Pembina
Majelis Buddhayana Indonesia

One Response to “Makna Sebuah Kebangkitan”

  1. bonglut Says:

    Hari Raya WAISAK 2552/2008 anda tidak menulis di harian kompas. Tulisan apa jg pernah anda tulis ? saya terkesan atas tulisanmu di harian kompas hal.pertama tgl 31 Mei 2007. korannya tetap saya masih simpan. saya akan menunggunya di lain kesempatan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: