Sebuah Solusi Kebangkrutan Nasional

Sebuah Solusi Kebangkrutan Nasional
Asvi Warman Adam

Sebagian orang berpendapat bahwa yang terjadi sekarang bukanlah kebangkitan nasional, melainkan kebangkrutan nasional. Kenaikan harga BBM pasti diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Pemerintah mengatakan bahwa kebijakan ini merupakan opsi terakhir.

Namun, pertanyaannya, apakah opsi yang lain telah dicoba dijalankan selama ini? Apakah upaya memaksimalkan produksi migas sudah benar-benar dilaksanakan? Pada pertengahan Orde Baru, produksi migas lebih banyak daripada konsumsi. Kenapa hari ini kita lebih banyak mengimpor daripada mengekspor?

Korbankan barang

Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, kita beralih dari subsidi barang kepada subsidi orang. Bukan BBM lagi yang disubsidi, melainkan orang miskin. Kalau konsisten dengan prinsip itu, bila ada sesuatu yang terpaksa dikorbankan dalam suasana yang sangat sulit, lebih baik kita mengorbankan barang daripada orang. Dalam kebakaran, misalnya, kita bisa mengorbankan lemari pakaian ketimbang nyawa seseorang.

Indonesia memiliki 17.000-an pulau yang tersebar dari Sabang di Pulau Weh sampai Merauke di Pulau Papua. Pulau-pulau itu perlu (lebih) diberdayakan. Pada era reformasi, dua pulau telah lepas ke tangan Malaysia melalui keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag.

Gagasan untuk menjual pulau di Nusantara pernah disampaikan anggota parlemen Belanda, Van Kol, ketika melihat anggaran pemerintah Hindia Belanda mengalami defisit awal abad XX. Penjualan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Bali akan mengatasi persoalan tersebut. Tidak jelas kelanjutannya, tetapi kenyataan pulau-pulau tersebut masih ada. Seorang perwira Perancis pada abad XIX juga pernah menyampaikan laporan tentang strategisnya Pulau Weh di ujung utara Pulau Sumatera dan pentingnya pulau itu dikuasai Perancis.

Ide menjual pulau tentu bisa dituding sebagai tindakan yang anasionalis. Menggadaikan pulau jelas berkonotasi negatif. Namun, bagaimana kalau menyewakannya? Istilah itu mungkin akan diperdebatkan pula, seperti terjadi beberapa tahun silam. Kalau begitu, kenapa tidak digunakan istilah pemberdayaan atau joint investment terhadap pulau-pulau tertentu di Nusantara ini (pembuatan resor dan hotel, misalnya). Usaha ini bisa mendatangkan dana sekitar 2-10 juta dollar AS untuk satu pulau, tergantung dari luas, posisi, dan manfaatnya bagi investor. Bukan hanya subsidi BBM, bahkan utang negara pun bisa dibayar dengan ini.

Perlu syarat ketat

Indonesia bukan satu-satunya negara yang potensial. Kita tahu bahwa Hongkong pernah disewakan China kepada Inggris selama 100 tahun. Sekarang pulau itu telah dikembalikan kepada China, bahkan dalam keadaan yang sudah sangat maju. Maladewa yang dikuasai Inggris juga pernah disewakan sebagai resor wisata dengan berbagai persyaratan (luas area yang boleh dibangun hanya 20 persen dari keseluruhan, tinggi bangunan maksimal dua lantai, hanya 2/3 dari keseluruhan garis pantai yang boleh dibangun).

Dalam konteks pariwisata, proyek ini berkenaan dengan pembangunan wisata bahari, budidaya, dan konservasi. Pernah ada gagasan untuk menyewakan 10 pulau/kawasan di Indonesia, yaitu dua pulau di Ujung Kulon (Banten), Bunaken (Sulut), Komodo (NTT), Berau dan Hanoi (Riau), Gili-gili (Lombok, NTB), serta Kangean, Nipah, Sepanjang (Madura). Bukankah selama ini sudah ada penyewaan pulau atau apa pun istilahnya, seperti di pulau-pulau Kepulauan Seribu? Kita juga mengizinkan Rusia untuk meluncurkan satelitnya di Pulau Biak. Bukankah itu termasuk ”penyewaan” walaupun dalam tempo/pada area terbatas?

Tentu program ini harus memiliki persyaratan yang ketat. Pulau itu tak boleh dijadikan pangkalan militer, bukan untuk tempat judi, tidak digunakan sebagai tempat pembuangan limbah, dan tidak dilakukan penambangan di dalam dan di luar pulau, seperti penggalian pasir laut. Aspek keamanan juga penting. Pihak Iran, misalnya, berminat untuk menyewa pulau sebagai tangki BBM, tetapi apakah itu aman bagi lingkungan sekitarnya?

Kita sekarang memberi subsidi orang, bukan barang. Kita juga bisa berprinsip rakyat jangan sampai dikorbankan dalam krisis BBM ini. Lebih baik mengor- bankan lahan daripada orang. Kita bisa daya gunakan beberapa pulau dari 17.000 pulau yang kita miliki sebagai salah satu solusi aktual.

Asvi Warman Adam

Ahli Peneliti Utama LIPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: