3 Teks Terakhir

(95)
Tirto dan Koran Pergerakan
Koran Medan Prijaji (1907-1912)

GEDUNG Indonesia Menggugat, Bandung, 7 Desember 2007. Artis Dewi Yull tampak terharu menerima kenang-kenangan Panitia Seabad Pers Kebangsaan. Cendera mata tersebut berupa poster buyutnya, R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang menegaskan peran tokoh itu di kancah pergerakan nasional Indonesia.

Tirto Adhi Soerjo alias Djokomono merupakan orang pribumi pertama yang mendirikan perusahaan pers. Surat kabarnya, Medan Prijaji, dianggap sebagai surat kabar pertama Indonesia yang pendanaan, pengelolaan, percetakan, penerbitan, dan wartawannya orang Indonesia asli. ”Pada masa itu, surat kabar biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Tionghoa, Belanda, atau Indo Belanda,” kata wartawan senior Rosihan Anwar.

Koran ini terbit pertama kali pada Januari 1907 dalam bahasa Melayu. Tapi perusahaan penerbitnya, NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften, didirikan pada 1904. Perusahaan itu berkantor di Jalan Naripan, Bandung, dengan modal awal 75 ribu gulden. Saat itu, Tirto baru berusia 24 tahun.

Sejak terbitan pertamanya, ia mengusung delapan asas: memberikan informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, tempat mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Di bawah logo Medan Prijaji, tercantum motonya: ”Ja’ni swara bagi sekalijan radja2, bangsawan asali dan fikiran dan saoedagar2 anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan anak negri di seloeroeh Hindia Olanda.”

Dalam waktu singkat, Medan Prijaji beroleh simpati. Mulai 5 Oktober 1910, koran ini terbit tiap hari kecuali Jumat, Ahad, dan hari raya. Pelanggannya mencapai 2.000 orang. Motonya pun berubah menjadi ”Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”—sebuah semboyan yang cukup berani untuk masa itu.

Lewat media tersebut, Tirto melancarkan kritik pedas atas ketidakadilan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Terutama tindakan para kontrolir Belanda terhadap rakyat. Akibatnya, ia dibuang ke Pulau Bacan, Maluku Utara, dan Lampung.

Tirto, menurut Soebagijo Ilham Notodidjojo, adalah tokoh pergerakan yang paham fungsi pers saat itu. Menurut dia, ada tiga alat perjuangan yang dipergunakan ketika itu: pendidikan, olahraga, dan pers.

Di zaman itu, untuk mendirikan perusahaan pers, jelas diperlukan keberanian. ”Berani ngutang dan berani menghadapi delik pers,” kata Soebagijo. Soalnya, saat itu pemerintah Belanda sudah menerapkan pasal-pasal hatzaai artikelen atau pernyataan menebar kebencian.

Tak cuma berjuang melalui tulisan, Tirto dengan Medan Prijaji juga mengadvokasi rakyat yang tersangkut masalah hukum. Maka layak bila sekarang ada sekelompok orang yang hendak mengajukan Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji sebagai tonggak pers nasional.

(96)
Sepotong Sejarah Jakarta

Kisah-kisah Jakarta
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta (1977)

CETAKAN pertama buku setebal 116 halaman ini diluncurkan pada 1977 oleh penerbit PT Dunia Pustaka Jaya. Sejak awal, Rosihan Anwar, sang penulis, membidik pembaca dari kalangan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tak aneh bila bahasa dan penyajiannya dibuat mudah dan tidak berbelit-belit. ”Font dan gambarnya juga khas buku untuk anak,” ujar wartawan senior Budiman S. Hartoyo, yang juga kolektor buku tua.

Sang penulis, yang saat itu wartawan harian Asia Raya, lalu koran Merdeka, merekam kejadian penting di bulan-bulan pertama setelah Proklamasi. Termasuk beberapa kejadian yang tidak sempat dilaporkan di korannya dulu. ”Sensor Jepang saat itu sangat ketat,” kata Rosihan.

Kejadian pada kurun 1945-1946 itu dimulai dengan keadaan Jakarta sehari setelah Proklamasi dibacakan. Kala itu Jakarta gelap-gulita karena ada ketentuan kusyuu keiho atau pemadaman lampu. Kabar kekalahan Jepang dari Sekutu tak tersiarkan, demikian pula berita Proklamasi yang baru saja dibacakan duet Soekarno-Hatta.

Buku ini juga bercerita tentang rencana rapat raksasa di Lapangan Ikada, yang sekarang menjadi Lapangan Banteng, sebagai unjuk kekuatan bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka dan memiliki pemerintahan berdaulat. Ada pula kisah bentrokan pemuda dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang mempersenjatai bekas serdadu Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) dan menteror rakyat. Termasuk kisah Maklumat 1 November 1945 yang menyerukan pendirian partai-partai politik.

Berikutnya, Rosihan mereportasekan lawatan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memperkenalkan diri kepada rakyat. Kunjungan itu juga digunakan Soekarno untuk memperkenalkan kondisi Indonesia kepada sejumlah wartawan asing.

”Buku ini berisi reportase yang baik dan sangat hidup,” ujar Budiman. Selain menambah pengetahuan, buku ini diharapkan membangkitkan rasa kebangsaan bagi pembacanya.

(97)
Lawatan ke Pelosok Negeri

Catatan di Sumatera
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (1949)

SEKELOMPOK wartawan melakukan lawatan ke Sumatera, Singapura, hingga Malaysia pada 1947. Mereka dipimpin seorang pegawai tinggi Departemen Penerangan Republik Indonesia, Parada Harahap. Muhammad Radjab, wartawan kantor berita Antara, kemudian menuliskan perjalanan itu ke dalam sebuah buku, Tjatatan di Sumatera.

Buku itu diterbitkan Dinas Penerbitan Balai Pustaka dan dilansir pertama kali pada 1949. Bentuknya laporan perjalanan, lengkap dengan tanggal peristiwa. Selain Radjab, ikut serta Suardi Tasrif dari harian Berita Indonesia dan Rinto Alwi dari koran Merdeka. Mereka sudah menuliskan laporan perjalanan di koran masing-masing.

Radjab dalam pengantar bukunya menyebutkan, meski tak resmi berbagi tugas, masing-masing penulis melakukan pengamatan yang berbeda. Suardi Tasrif, misalnya, mengamati soal ekonomi, sementara Rinto Alwi lebih berfokus pada masalah politik. Ia sendiri lebih memperhatikan kondisi masyarakat serta kebiasaan dan kehidupan rakyat, yang baru saja merdeka.

Program lawatan wartawan ini, menurut tokoh pers nasional Soebagijo Ilham Notodidjojo, dilakukan tidak hanya ke Sumatera, tapi juga ke daerah lain. Tujuannya agar masyarakat di suatu daerah mengetahui kondisi daerah lain. ”Sehingga menumbuhkan rasa nasionalisme di antara masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Buku setebal 227 halaman ini bercerita tentang segala hal yang disaksikan, dirasakan, dan dipikirkan penulis dalam perjalanannya. Misalnya kondisi alam dan adat istiadat seperti tradisi kawin paksa di Bukittinggi. Juga kebiasaan sogok-menyogok yang dikenal sebagai wang ajam yang dilakukan polisi dengan pedagang pembawa hasil bumi. Sogokan ini ditemukan dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Pekanbaru.

Radjab juga menyempatkan diri berdialog dengan rakyat kecil serta para pemimpin lokal dan tokoh politik di daerah-daerah itu. Pandangan mereka ternyata amat beragam. Masyarakat Tapanuli, misalnya, meminta pembesar Sumatera diberi keleluasaan menjalankan aturan dan politik sendiri. Ini terkait dengan ketidaksabaran mereka atas sikap pemerintah pusat yang dinilai tidak memiliki ketegasan dalam setiap perundingan dengan Belanda.

Juga ada perbandingan sikap dan semangat orang Sumatera dengan masyarakat Singapura dan Malaysia, yang dinilai lebih berdisiplin dan bekerja keras. Masyarakat Indonesia dinilai masih suka bermalas-malasan, dan banyak kebiasaan buruk serta paham keliru yang harus dibuang.

Pendek kata, buku ini memberikan gambaran masyarakat Indonesia di sudut yang jauh dari Jakarta pada masa awal setelah Proklamasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: