Dari Angkot hingga Asimilasi

Dari Angkot hingga Asimilasi
Gaya tulisannya ringan, kadang jenaka, tapi tajam mengkritik. Cuma bertahan lima tahun.

– Apa perbedaannya antara Orde Lama dan Orde Baru sekarang?

+ Ada perubahan, ada kemajuan, tapi tidak banyak.

DIALOG imajiner ini terdapat pada alinea awal Kompasiana edisi 31 Juli 1967. Ketika itu, Orde Baru masih balita. Rubrik itu menyoal keputusan Soeharto menunjuk Roeslan Abdulgani sebagai wakil tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Padahal banyak pihak tak setuju.

“Jadi, kesimpulan kita ialah bahwa dulu kita bungkem, pemerintah jalan terus,” tulis kolom itu. “Sekarang kita boleh bersuara, tapi pemerintah berjalan terus juga.”

Lugas dan kritis, itu ciri Kompasiana, yang pertama kali muncul di harian Kompas pada 4 April 1966. Penulisnya P.K. Ojong, pendiri Kompas selain Jakob Oetama.

“Pak Ojong ingin menulis rubrik itu, melanjutkan tulisannya di Star Weekly,” kata Jakob, kini Pemimpin Umum Kompas. Star Weekly, koran asuhan Ojong, diberangus Soekarno pada Agustus 1957. Mungkin itu sebabnya, pada edisi perdana, Kompasiana membahas kebebasan pers.

Mengambil konteks tahun-tahun awal peralihan kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto, Kompasiana membahas berbagai hal. Gaya tulisannya yang sederhana, kadang jenaka, tapi kritis, membuat rubrik itu cepat populer dan berpengaruh.

Masalah yang tampak sederhana bisa jadi serius di mata Ojong. Misalnya soal minimnya angkutan umum bagi masyarakat pinggiran Jakarta. “Kalau Anda mau makan hati, berdirilah di pinggir Jalan Jatinegara sambil menanti kendaraan umum yang mesti membawa Anda ke Jakarta Kota,” tulisnya pada 12 Mei 1966. “Jaraknya cuma kira-kira 12 km, tapi sengsaranya tak seimbang.”

Biaya pembuatan kartu tanda penduduk yang melambung hingga Rp 10 padahal aturan resminya cuma Rp 2,5 juga pernah dia singgung.

Meski mendukung Soeharto dan sering mengkritik Partai Komunis Indonesia, perlakuan Orde Baru terhadap bekas anggota partai itu membuat Ojong gerah. “Dalam keadaan normal, setiap manusia Indonesia cuma mengenal empat status (hukum),” tulisnya pada 15 Juni 1968. “Tapi sekarang… ada status eks tahanan.”

Ojong banyak menggali gagasan dalam diskusi dengan temannya dari berbagai kalangan, antara lain Mohammad Roem, Soedjatmoko, dan Mochtar Lubis. Dia juga dekat dengan aktivis mahasiswa, seperti Soe Hok Gie.

“Saya dua kali diundang makan ke rumahnya bersama Soe Hok Gie,” cerita Aristides Katoppo, pendiri harian Sinar Harapan. Ketika itu, Aristides baru menjadi wartawan. “Ojong selalu mengajak bicara tentang masa depan Indonesia.”

Menurut Aristides, Kompasiana “berisi” karena Ojong menyisipkan perspektif sejarah. Misalnya, ketika Presidium Kabinet Ampera menetapkan mulai 27 Desember 1966 semua warga negara Indonesia keturunan harus menanggalkan nama Tionghoa, Kompasiana berangkat dari Napoleon. Setelah berkuasa, Napoleon mewajibkan warganya menggunakan nama keluarga. Toh, transisi itu mudah karena orang Eropa punya tradisi menggunakan nama tempat, pekerjaan, serta warna kesukaan sebagai nama belakang.

Tapi tidak di Indonesia, menurut Ojong. Sebab, ada empat tradisi yang mempengaruhi pemberian nama: kebudayaan asli, Hindu, Arab/Islam, dan Eropa/Kristen. “Maka itu dengan ini kami mengundang orang-orang yang lebih pandai untuk membantu kami memberi penerangan dan petunjuk,” tulisnya di paragraf akhir.

Ojong pendukung asimilasi. Nama aslinya, Peng Koen Auwjong, dia ubah menjadi Petrus Kanisius Ojong, disingkat P.K. Ojong. Baginya, pembedaan warga negara menurut ras adalah “garis” usang warisan kolonial.

Mochtar Lubis pernah membuat sebuah tajuk tentang sahabatnya itu di harian Indonesia Raya. Ketika itu, sebuah koran di Jakarta memojokkan Ojong hanya karena dia keturunan Tionghoa. “Pak Mochtar marah dan menulis, Ojong jauh lebih Indonesia daripada Anda yang mengaku orang Indonesia asli,” cerita mantan wartawan harian Indonesia Raya, Atmakusumah Astraatmadja.

Sayang, setelah 8 Februari 1971, Kompasiana menghilang. Jakob tak ingat pasti mengapa Ojong mengakhiri rubrik itu. “Mungkin dia sibuk urusan bisnis Kompas,” ujarnya.

P.K. Ojong meninggal pada 31 Mei 1980, di usia 59 tahun. Setahun kemudian, Gramedia menerbitkan kumpulan artikel Kompasiana dalam bentuk buku setebal 813 halaman. Judulnya Kompasiana: Esei Jurnalistik tentang Berbagai Masalah.

(92)
Kompasiana
Publikasi: Harian Kompas, Jakarta (1966-1971)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: