Feminisme Bukan Gagasan Barat atau Timur

Feminisme Bukan Gagasan Barat atau Timur
Oleh : Maria Hartiningsih

Feminisme bukan gagasan yang datang dari Barat atau Timur karena perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan bersifat universal. Karena itu, feminisme Islam tidak berhadapan dengan Barat. Feminisme Islam, seperti halnya Islam saat ini, berada di Barat dan di Timur.

Benang merah ini ditarik dari ceramah Prof Margot Badran (1960-an) pada Program Kajian Wanita Universitas Indonesia, Rabu (11/6). Di dunia intelektual, Margot Badran yang bermukim di Mesir selama puluhan tahun itu dikenal sebagai ahli kajian Islam dan feminisme. Perhatiannya terfokus pada interpretasi baru terhadap Al Quran dan analisis sensitif jender pada hadis dan fikih mengenai isu perempuan, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Prof Margot Badran menyadari, pada zaman post-post kolonial ini, masih banyak orang yang menganggap feminisme berasal dari Barat, pihak yang dicurigai ”bergerilya” lagi dengan menyusupkan feminisme, awalnya sekuler, kemudian Islam.

Namun, bagi banyak kelompok Muslim lainnya, feminisme Islam memperjelas gagasan kesetaraan jender dalam Al Quran, yang menyatakan kesetaraan di antara manusia dan menyerukan implementasi kesetaraan jender dalam negara, lembaga-lembaga publik, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Islam memberikan sumbangan besar bagi terciptanya masyarakat yang lebih plural dan secara sosial lebih adil bagi semua orang, tanpa sekat-sekat etnis, agama, jender, dan lain-lain.

Sebagai sejarawan dan ahli kajian jender dengan fokus Timur Tengah dan dunia Islam, Margot Badran menempatkan seluruh pemaparannya dalam konteks sejarah.

Feminisme di Mesir, misalnya, adalah kisah yang terkait dengan abad kebangsaan. Paruh awal abad ke-20 itu ditandai dengan perjuangan antikolonial dan paruh terakhir untuk membangun bangsa yang lebih merdeka. Selama masa itu perempuan telah memberi bentuk pada identitas yang lebih baru, modern, melalui cara berpikir baru, moda analisis baru, dan panduan baru bagi aktivisme politik kolektif ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, perempuan di Mesir mengartikulasikan feminisme dalam diskursus, baik modernisme Islam maupun nasionalisme sekuler. Pada tahun 1890-an, tokoh perempuan awal di Mesir, seperti Aisha El-Taimuriya, Warda El-Yaziji, dan Zainab Fawwaz, menandai ”kesadaran feminis” dalam karya-karya puisi, esai, ataupun cerita rakyat.

”Unsur-unsur feminisme secara historis ada di dalam hampir semua peradaban dan tradisi di dunia,” ujar Badran.

Dalam dunia global lebih kompleks saat ini, terjadi konfigurasi baru karena mobilitas manusia merupakan membuat Islam berkembang subur di Barat.

Keterhubungan dengan budaya asal masih terjaga, tetapi perubahan juga terjadi dalam kelompok yang lahir pada tahun 1970-1980-an. ”Untuk memenuhi kebutuhan hidup, perempuan dan laki-laki harus bekerja. Ini membuat cara pandang tentang Islam berbeda,” papar dia.

Tak mudah

Meski unsur-unsur kesetaraan jender ada di dalam Al Quran, istilah feminisme dan jender bukanlah istilah yang mudah diterima. ”Istilah ’gender’ tak mudah diterjemahkan dalam bahasa Arab,” ujarnya. Sementara itu, istilah feminisme selalu dikaitkan dengan Barat.

Oleh karena itu, Margot Badran sangat memahami kesulitan yang dipaparkan Leli Nurochmah dari Pusat Pendidikan dan Informasi Islam & Hak-Hak Perempuan Rahima tentang sulitnya menyosialisasikan jender di pesantren. ”Ketika mengajar feminisme dan konteks kesejarahan Timur Tengah di Yaman, saya hampir tidak menyebut ’feminisme’,” ujar Margot.

Namun, istilah ”gender” tak mungkin dipisahkan dari kesetaraan. Leli pernah mencoba menggunakan istilah ”musamah” yang artinya kesamaan. ”Tetapi, artinya tidak tepat benar,” ujar Leli. Sementara itu, Margot Badran mengakui sulitnya mencari padanan istilah itu dalam bahasa Arab.

Jender (gender), berasal dari kata ”genos” dalam bahasa Yunani yang artinya seks dengan interpretasi berlapis-lapis. Yang menarik, menurut Margot Badran, ”genes” atau ”jins”, muncul dalam bahasa Arab. Terminologi itu sangat dekat dengan jender, yang kecuali menunjukkan kelamin, juga menunjukkan relasi perempuan dan laki-laki. ”Maka istilah ’janda’, ’jandara’ meledak di kelas. Feminisme susah diterima, tetapi jender yang keluar,” ia melanjutkan.

Tidak monolitik

Margot Badran mengatakan, pemahaman mengenai Islam dan interpretasi teks tidak monolitik, dinamis, dan sering terkait dengan konteks politik, seperti terjadi di Turki dan Iran. Namun, pada dasarnya Islam adalah agama yang mempromosikan perdamaian, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Menjawab pertanyaan Sulistiyowati dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Badran memandang konservatisme yang muncul sebenarnya lebih merupakan tanggapan terhadap seluruh masalah di masyarakat dalam kaitannya dengan kapitalisme global yang meminggirkan dan meninggalkan begitu banyak orang. Situasi itu tak sulit membuat orang berubah dari yang semula sangat toleran menjadi mengeras.

”Mereka yang berubah itu sebenarnya juga resah dengan keadaan, tetapi mereka mengambil cara lain,” ujarnya. Menguatnya konservatisme agama membuat perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan sosial semakin berat.

Prof Margot Badran seperti menjadi jembatan antara Barat dan Timur dalam pemahaman mengenai Islam. Selama di Jakarta Prof Margot Badran juga mendapatkan diploma dalam Bahasa Arab dan Islam dari Universitas Al Azhar di Cairo, Mesir, juga berceramah di International Center for Islam and Pluralism.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: