G-8 dan Badan Dunia Dikecam

G-8 dan Badan Dunia Dikecam
AS Susah Bekerja Sama dengan Negara Lain
Simon Saragih

Kuala Lumpur, Kompas – Kelompok G-8 dan badan-badan dunia kembali dikecam. Kelompok G-8 dianggap tidak bermanfaat karena tidak mewujudkan semua deklarasinya. Demikian pula badan-badan dunia kian jauh dari kemampuannya menjalankan tugas. Akibatnya, setumpuk masalah global tidak terselesaikan dan terus-menerus berlangsung tanpa solusi.

Demikian salah satu kesimpulan dari Forum Ekonomi Dunia bagi Asia Timur, Senin (16/6) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sesi kali ini membahas topik ”Asia Empowered: The Future Impact of Global Governance”. Tampil sebagai pembicara antara lain James W Adams (Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur), Yashwant Sinha (mantan Menteri Luar Negeri India sekaligus mantan Menteri Keuangan India), Kishore Mahbubani (Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura) dan Jean-Pierre Lehmann (profesor politik ekonomi internasional IMD International Institute for Management Development), Swiss.

Sesi ini mirip seperti debat saling serang antara Timur dan Barat dengan saling beradu argumentasi. Sinha memulai debat dengan menyimpulkan bahwa hampir semua lembaga dunia telah lari dari prinsip-prinsip universal yang harus mendengar dan merangkul semua pihak.

Bank Dunia, IMF, PBB, dan berbagai lembaga internasional lain juga tidak mengambil keputusan atas dasar konsensus, namun atas kemauan dan sudut pandangan Barat. ”Asia tidak punya suara,” kata Sinha.

Sinha memberi contoh soal badan dunia, terutama IMF, yang jauh lebih buruk. Menurut Sinha, seorang menteri dari sebuah negara di Afrika, yang menjabat sebagai menteri keuangan, justru lebih mirip atau berperan sebagai menteri pariwisata.

”Ketika pejabat IMF datang ke negara Afrika itu, menteri tersebut bertugas menyambut, memastikan pesanan hotel, kemudian mengantar pejabat IMF itu jalan-jalan, bukan melakukan tugas lapangan. Kemudian pejabat IMF itu diantar ke bandara,” kata Sinha.

Sinha menambahkan, Asia seperti India dan China, bersama Brasil dan Meksiko, memiliki porsi ekonomi lebih besar ketimbang kombinasi dari kekuatan ekonomi Belanda, Belgia, dan Luksemburg. Akan tetapi, suara negara-negara Eropa ini justru lebih besar di lembaga internasional ketimbang suara China, India, Meksiko, dan Brasil.

Akibat dari semua itu, Sinha mengatakan, badan-badan dunia tergelincir dari tugas-tugasnya karena tidak akomodatif dan tidak membumi.

Adams memberi contoh betapa kredit Bank Dunia masih mengalir ke Finlandia dan Yunani, bukan ke negara-negara berkembang lainnya. Namun Adams mengatakan, Bank Dunia sudah mulai memberi peran lebih besar pada Asia.

Akan tetapi Adams mengatakan, masih banyak perubahan yang harus dilakukan di Bank Dunia.

Pierre-Lehman mengatakan, selain muncul masalah pada badan-badan dunia, Asia juga tetap lebih memilih konfrontasi ketimbang mencari kompromi. Di PBB, misalnya, negara-negara di Asia saling menjegal agar tidak bisa mendapatkan kursi atau posisi di PBB dan badan-badan internasional lain.

Hal ini sangat berbeda dengan Traktat Trans-Atlantik, di mana Eropa dan AS serta Kanada lebih banyak bekerja sama. Dengan keadaan seperti itu, kata Lehmann, Asia masih sulit menjadi pemimpin di badan-badan dunia.

Tak mau menerima

Mahbubani mengatakan, persoalan utama dalam badan-badan dunia adalah dominasi AS di segala bidang. Dominasi itu masih tetap ingin dipertahankan meski peran AS semakin memudar.

”AS susah memahami bahwa keadaan sudah berubah. AS sangat susah menerima peran negara lain. Bahkan, posisi pejabat tinggi Bank Dunia dan IMF sudah dikapling-kapling antara AS dan Eropa,” kata Mahbubani.

Akibat dari semua itu, kebijakan-kebijakan berbagai badan dunia menjadi salah arah. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) juga telah mengalami kegagalan.

IMF juga telah gagal karena 60 miliar dollar AS dari sekitar 120 miliar dollar yang dikucurkan IMF terjebak dalam kemacetan.

Mahbubani mengatakan pesimistis akan terjadi perbaikan dalam badan-badan dunia karena dominasi sepihak oleh Barat.

Demikian pula G-8 (Inggris, AS, Kanada, Jepang, Jerman, Italia, Rusia, dan Perancis), menurut Mahbubani, sama sekali tidak bermanfaat.

”Deklarasi-deklarasi yang dikeluarkan G-8 bagus, namun tidak ada yang berhasil direalisasikan,” kata Mahbubani.

Walaupun pesimistis, Mahbubani mengatakan masih memiliki optimisme karena prinsip-prinsip dasar dari terbentuknya badan-badan dunia, yakni menganut asas universal dan menjaga kestabilan dunia, tetap relevan hingga sekarang.

Lalu bagaimana mengatasi segala persoalan badan-badan dunia yang sudah lari dari jalur itu?

Para panelis menyarankan agar asas inklusif dan asas demokrasi dikembalikan agar menjadi pijakan badan-badan dunia, sembari memberi porsi lebih besar pada peran Asia di badan-badan tersebut.

Jika tidak, keadaan akan berlanjut buruk. Peran badan-badan dunia makin tidak mengenai sasaran, sementara berbagai negara di dunia memilih cara dan jalan sendiri dalam mewujudkan impiannya, seperti yang dilakukan Asia.

”Asia selama ini berjalan sendiri atas kemauannya. Asia menjadi free rider di tengah kelengahan badan-badan dunia,” kata Mahbubani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: