Berpihak

Berpihak

Gde Prama pernah berbisik lirih kepada kita soal kemelekatan. Semakin banyak unsur-unsur duniawi yang melekat pada hidup kita, semakin tidak tenang hidup kita. Kebahagiaan menjauh jika kita tidak sadar pada kemelekatan itu. Pesan itu disimpulkan dengan sederhana; berbahagialah lewat batin dan jiwa, bukan benda-harta-kuasa.
Hemat saya, kemelekatan dewasa ini diciptakan oleh iklan. Iklan menyerbu tiga wilayah nafsu kita. Nafsu memiliki, nafsu menjadi istimewa (privilege) dan nafsu romantisme-sensualitas. Kadang kita terjerumus pada salah satu diantaranya, tapi tak jarang juga ketiganya.
Iklan tidak hanya menggoda tapi juga meletakkan standar hidup di tempat yang tinggi. Ketika dia mengatakan standar perempuan cantik adalah berkulit putih dan berambut lurus, dia tidak hanya mengolok-olok perempuan Indonesia yang lahir di daerah tropis dan berkulit sawo matang, tapi ia juga menyeret setiap perempuan pada upaya membabi-buta mencapai standar itu.
Karena iklan kita rabun soal kebutuhan dan keinginan.

Iklan adalah mesin promosi ciptaan pasar (market; yang berarti aktivitas tukar-menukar. Aktivitas ini memang sudah dipakai para leluhur kita ribuan tahun lalu. Tapi, yang saya maksud di sini adalah sistem pasar).
Ada juga mesin pasar yang bekerja tanpa kita sadari. Dia disebut liberalisasi ekonomi. Dalam liberalisasi ekonomi, pasarnya adalah pasar dunia. Indonesia ibarat seorang pembeli yang pucat setelah dibentak oleh sang penjual, “harga ini tidak bisa ditawar, keluar dari pasar ini atau beli!”. Bayangkan itu yang terjadi ketika pemerintah beralasan harga BBM harus naik karena harga minyak dunia naik.
Dalam liberalisasi ekonomi, pasar adalah Tuhan, laba adalah dewa dan negara adalah pion yang harus segera dipinggirkan. Tujuan negara untuk mensejahterakan rakyatnya lewat pendidikan, kesehatan, sandang-pangan-papan dan pelayanan sosial dapat ditunda dulu sampai laba diraih.
Kenapa Indonesia ikut liberalisasi ekonomi? Karena itu adalah aturan yang dibuat oleh negara-negara yang memberi hutang Indonesia. Kenapa Indonesia berhutang? Karena kita negara korup yang tidak bisa mengelola kekayaan bumi. Saking gilanya, hutang pun dikorupsi. APBN kita yang harus melunasinya.
Gereja sudah mencium gelagat ini pagi-pagi sekali. Maka saat Gereja memilah tiga poros (negara, pasar dan warga), Gereja juga berpesan agar kita memperkuat poros warga.
Negara ini sudah mencederai kita dengan berpihak pada pasar. Maka mari taat pada Gereja; berdayakan poros warga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: