Takut Eksistensial

Takut Eksistensial
Yonky Karman

Agama menjadi saka guru peradaban saat mewariskan berbagai keutamaan hidup. Bijak bestari Abad Pertengahan merumuskan tujuh keutamaan hidup kemudian menjadi substansi ethics of virtue.

Visi etika keutamaan adalah mengalahkan kebiasaan buruk (vitius) dengan kebiasaan baik (virtus). Contoh, keberanian (fortitudo) adalah keutamaan yang memampukan orang tegar saat menghadapi bahaya, sakit, atau penderitaan. Berani jujur kepada diri sendiri dan orang lain.

Keberanian diambil dari salah satu empat keutamaan warisan Yunani Kuno. Lawan berani adalah takut. Takut sering dipahami sebagai pengecut atau pengertian lain yang kurang baik sehingga tidak dipertimbangkan sebagai sebuah keutamaan hidup. Padahal, rasa takut adalah mekanisme inheren untuk menghindarkan diri dari bahaya, dari sesuatu yang bakal menyakiti atau merugikan. Orang urung melanggar hukum karena takut konsekuensinya.

Secara negatif, takut adalah karunia ilahi untuk mengawal perjalanan hidup manusia selama di bumi agar selamat. Secara positif, rasa takut dapat dipupuk sehingga menjadi keutamaan yang membuat hidup lebih otentik. Sayang, yang biasa terjadi adalah takut yang bukan keutamaan.

Orang berani melanggar hukum, tetapi takut konsekuensinya. Saat menikmati hasil korupsi, koruptor sehat walafiat. Saat diadili, mendadak keluar masuk rumah sakit. Orang bertindak anarki dan berlindung di balik massa (anonimitas), menghindar dari tanggung jawab.

Takut mati dan hidup

Sebagai realitas universal, kematian terlalu kuat untuk ditaklukkan dan terbentuk kesadaran tentang batas hidup. Hidup pasti berakhir. Kaum hedonis memaknai keterbatasan hidup dengan orientasi kekinian. Merayakan masa kini dengan mengejar kenikmatan.

Insan moralis mengukir hidup dengan bakti dan karya. Rasa berat berpisah dari hidup bukan karena selesainya nikmat, tetapi karena selesai kesempatan berkarya. Maka, Chairil Anwar tak peduli dengan kepedihan dan berhasrat, ”Aku mau hidup seribu tahun lagi”.

Kendati memberi jalan untuk makna hidup, kematian selalu absurd. Bukan sembilan bulan waktu untuk membentuk manusia, tetapi 50 tahun, terdiri dari pengorbanan, pengambilan keputusan, dan kejadian lain. Namun, saat manusia sudah jadi orang, satu-satunya yang baik hanya mati. Betapa absurdnya, menurut Andre Malraux (Man’s Estate, 318).

Sisi lain takut mati adalah takut hidup. Ketika hidup menjadi beban tak tertanggungkan dan orang tenggelam dalam putus asa, bukan mati, tetapi hiduplah yang ditakuti. Orang mau lari dari (kenyataan) hidup. Hasrat mati mengalahkan hasrat hidup. Bunuh diri sebuah solusi mengakhiri absurditas itu. Albert Camus melihat ketiadaan makna hidup sebagai problem filosofis paling serius (Le mythe de Sisyphe, 1942).

Namun, sejatinya kematian bukan untuk ditakuti dan hidup juga bukan untuk ditakuti. Agama memberi panduan jelas untuk menghayati hidup sebagai sebuah karunia ilahi. Hidup untuk berbagi dengan dan bermakna bagi sesama. Karena itu, agama tidak pernah membenarkan bunuh diri, apalagi jika dengan tindakan itu orang lain menjadi korban.

Takut Tuhan

Takut mati dan takut hidup bisa menjadi tidak proporsional. Berani mati, tetapi takut hidup atau berani hidup, tetapi menyangkal mati. Ekuilibrium takut eksistensial itu adalah takut Tuhan, sebuah tema penting dalam agama-agama monoteisme. Dengan takut Tuhan, orang dituntun bertindak dan berpikir benar. Kematian merupakan penyelesaian sekaligus penyempurnaan dari kehidupan yang telah dijalani dengan benar.

Takut Tuhan bukan karena takut dihukum, tetapi karena mengasihi-Nya. Tuhan layak ditakuti. Ia kudus. Ia adil. Ia berkuasa memberi ganjaran setimpal kepada tiap orang. Tuhan akan menakutkan bagi orang yang mencemooh-Nya, tetapi tidak pernah menakut-nakuti. Takut dan mengasihi Tuhan adalah dua sisi kesadaran religius yang tak terpisah (Maimonides, Guide for the Perplexed, III.52). Tidak menjauh, tetapi mendekat Tuhan.

Takut Tuhan berarti menjauhkan diri dari kejahatan dan melakukan apa yang baik. Takut Tuhan sama dengan menghormati-Nya. Jika orang tahu apa yang baik dan bisa melakukan tetapi tidak melakukannya, ia tiada takut Tuhan. Jika orang tahu yang benar, tetapi tidak mencintai kebenaran, tiada takut Tuhan di situ.

Tahun lalu, sebuah penelitian oleh Yayasan Bertelsmann di Jerman melaporkan, Indonesia (bersama Guatemala dan Brasil) termasuk negara paling religius di dunia. Beberapa kriterianya adalah percaya Tuhan, percaya dunia roh dan kuasa gaib, berdoa secara teratur, dan fanatik beragama.

Ironisnya, kebebasan sipil (beragama, berserikat, dan berpendapat) tanpa perlindungan. Pemerintah lemah dalam penegakan hukum sipil. Tiada korelasi antara religiositas dan kesalehan sosial. Tingkat korupsi tinggi. Etos kerja rendah. Cenderung konsumtif (menikmati) daripada produktif. Itulah keberagamaan yang mengalami komplikasi.

Atas nama agama, harkat sesama makhluk yang dikasihi Tuhan dilecehkan. Tempat ibadah dirusak. Orang yang mau beribadah dihambat. Itulah ciri rasa keagamaan yang lebih tebal dari rasa ketuhanan. Agama dijunjung tinggi, tetapi substansinya diabaikan. Orang memeluk agama tanpa memeluk kemanusiaan.

Karut-marut di Tanah Air tampaknya karena hantu pocong lebih ditakuti. Jika takut Tuhan menjadi keutamaan hidup, perbedaan tidak diselesaikan dengan cara anarki. Penegak hukum menjauhkan diri dari suap. Pegawai negeri menjadi abdi masyarakat tanpa uang pelicin. Profesional kembali kepada kesejatian profesinya. Dan, kita menjadi bangsa bermartabat.

Yonky Karman

Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: