Uang dan Moralitas Pertukaran

Uang dan Moralitas Pertukaran
Amich Alhumami

Di kalangan masyarakat primitif, jauh sebelum konsep uang dikenal, sistem pertukaran menggunakan benda/barang yang dipakai dalam kehidupan keseharian. Proses itu lazim disebut barter. Benda/barang yang dipertukarkan itu ditaksir dengan nilai yang setara atas persetujuan dan kesepakatan di antara pihak-pihak yang terlibat transaksi.

Bagi masyarakat primitif, pola pertukaran dalam bentuk barter ini mengandung moralitas tertentu yang merujuk pada nilai-nilai esensial yang diyakini masyarakat bersangkutan. Sebab, pertukaran itu bukan hanya menyangkut transaksi peralihan kepemilikan suatu benda/barang kepada orang lain, tetapi juga merefleksikan apa yang disebut para ahli antropologi sebagai cosmic balance and social order (Johnny Parry and Maurice Bloch, 1989).

Empat esensi moral

Pertukaran yang menjadi medium untuk menjaga keseimbangan kosmik dan ketertiban sosial itu mengandung empat esensi moralitas.

Pertama, melambangkan penghargaan dan penghormatan di antara sesama anggota masyarakat dalam suatu bangunan struktur sosial yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat dari lapisan sosial yang berbeda dalam hierarki struktur sosial bisa saling berinteraksi tanpa pembatas.

Kedua, merawat relasi horizontal antarwarga dan memperkuat harmoni sosial sehingga setiap warga memperoleh kenyamanan dan ketenteraman dalam kehidupan kemasyarakatan. Harmonium merupakan sendi dasar dalam relasi sosial yang harus dijaga melalui kebersamaan.

Ketiga, membangun dan meneguhkan solidaritas sosial untuk memperkuat ketahanan masyarakat atas dasar keterikatan emosional dan pertalian kekerabatan.

Keempat, memperkokoh dan memantapkan daya rekat sosial guna mencegah dan mengeliminasi potensi konflik serta menghindari friksi di dalam masyarakat, bahkan yang berskala kecil sekalipun.

Keempat esensi moralitas pertukaran itu menjadi bingkai sehingga masyarakat primitif dapat memelihara keteraturan sosial dan membangun keselarasan dalam kehidupan keseharian. Tak heran bila keseimbangan kosmik dan ketertiban sosial dapat terjaga secara berkelanjutan.

Kehadiran uang

Ketika memasuki zaman modern, masyarakat mulai mengenal uang sebagai alat pertukaran, menggantikan sistem barter yang berlaku dalam masyarakat primitif pada masa silam. Uang dalam wujud fisik sesungguhnya tak punya nilai intrinsik, tetapi merupakan simbol yang mengandung nilai ekstrinsik berupa penyetaraan dengan sesuatu benda/barang tertentu.

Dalam pandangan ahli-ahli antropologi, uang sejatinya merupakan simbol yang mewakili beragam kebudayaan suatu masyarakat. Simbolisme uang itu terkait sebuah konstruksi pandangan tentang produksi, konsumsi, sirkulasi, dan pertukaran. Parry and Bloch (1989) merumuskan konsep uang, Money symbolizes cultural variation in which the symbolism relates to culturally constructed notions of production, consumption, circulation, and exchange.

Jadi, pandangan dan pemaknaan atas uang itu merefleksikan sebuah konstruksi pikiran, gagasan, dan imajinasi suatu masyarakat tentang materi/benda yang diproduksi, diedarkan, dikonsumsi, dan dipertukarkan di antara warga masyarakat yang bersangkutan.

Ketika dorongan untuk memiliki materi/benda meningkat dan hasrat untuk mencukupi kebutuhan konsumsi melampaui household self-sufficiency and production for use, uang lalu dijadikan sebagai alat transaksi yang berorientasi mencari keuntungan. Prinsip pertukaran dengan menggunakan uang sebagai alat transaksi lalu mengalami pergeseran, dari nirlaba (masyarakat primitif) menjadi rent seeking (masyarakat modern).

Filosof Aristoteles menyebut, pertukaran bermotif mencari untung itu unnatural dan bisa merusak ”ikatan sosial antara rumah-tangga di masyarakat”. Money as a tool intended only to facilitate exchange is naturally barren, and, of all the ways of getting wealth, lending at interest is the most contrary to nature (Aristotle, The Politics, 1962). Bahkan, Karl Marx (1964) menyebut, uang yang berfungsi sebagai alat tukar dalam konteks masyarakat modern dipandang sebagai agen individualisme yang potensial merusak ikatan-ikatan komunalisme yang kuat seperti ditemukan di masyarakat primitif.

Uang dalam konsep modern telah mengubah cara pandang masyarakat tentang relasi sosial antarwarga dari paguyuban ke patembayan. Simmel (1978) melukiskan, uang berperan penting dalam proses perkembangan kognitif masyarakat, yang ditandai pengutamaan kalkulasi rasional berupa keuntungan individual. Uang telah menjadi agen yang mendorong proses perubahan corak masyarakat dari Gemeinschaft ke Gesellschaft.

Hilangnya basis moralitas

Sebagai alat transaksi, uang telah membuat sistem pertukaran dalam masyarakat modern kehilangan basis moralitas serta bersifat mekanis dan rasionalistik. Dapat dimaklumi bila transaksi pertukaran menggunakan uang tak mampu memelihara cosmic balance and social order seperti dijumpai di masyarakat primitif.

Yang menyedihkan, uang dijadikan alat tukar dengan cara memperdagangkan kewenangan, memperjualbelikan keputusan, komersialisasi jabatan dan kekuasaan, seperti dalam kasus skandal besar yang menimpa pejabat di Kejaksaan Agung yang menggemparkan itu. Para jaksa yang terlibat skandal pertukaran kekuasaan/kewenangan dengan uang suap dalam jumlah amat fantastik (660.000 dollar AS) bukan saja telah mencederai prinsip-prinsip moralitas kekuasaan, tetapi juga merusak sistem akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih.

Moralitas publik tergerus kecenderungan menuruti hasrat menumpuk materi/ benda dan dorongan memenuhi kebutuhan konsumsi yang melampaui standar ketercukupan untuk menjalani kehidupan. Mereka bukan saja telah melanggar kepatutan, tetapi juga merusak tatanan nilai, etika, dan norma yang menjadi sendi dasar ketertiban dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Sungguh, ternyata masyarakat primitif justru lebih kuat dalam memegang prinsip-prinsip moralitas dalam pertukaran melalui aneka bentuk kearifan tradisional sehingga mampu menjaga keseimbangan kosmik dan keteraturan sosial.

Amich Alhumami
Peneliti Sosial, Department of Social Anthropology, University of Sussex, United Kingdom

Advertisements

2 Responses to “Uang dan Moralitas Pertukaran”

  1. kususanto@bappenas.go.id Says:

    ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAROKATU KANG AMICH ALHUMAMI.

    HATURNUHUN PISAN SUDAH MENGELABORATE. KEBUDAYAAN DALAM SISTEM SIMBOLIK & SISTEM PEMAKNAAN. KAPAN BALIK KANG?

    “Jadi, pandangan dan pemaknaan atas uang itu merefleksikan sebuah konstruksi pikiran, gagasan, dan imajinasi suatu masyarakat tentang materi/benda yang diproduksi, diedarkan, dikonsumsi, dan dipertukarkan di antara warga masyarakat yang bersangkutan.”

  2. kususanto@bappenas.go.id Says:

    Komoditas Akan Bergolak
    516 Triliun Dollar AS Kekuatan Perusak
    (Jika tak menjaga ketahanan pangan, Bagaimana?)

    Paul B Farrel, analis pasar AS, di situs Market Watch edisi 25 Februari
    memberi peringatan. Ada sekitar 516 triliun dollar AS dana-dana investasi,
    yang menjadi kekuatan perusak ekonomi. Persisnya ia menyebutnya sebagai
    toxic derivatives, transaksi di sektor keuangan yang menjadi fasilitas investasi untuk mengembangbiakkan dana-dana orang berpunya.

    Dana-dana ini begitu besar, dibandingkan dengan total produk domestik bruto (PDB) dunia yang hanya 48 triliun dollar AS. Dana-dana ini tidak lagi
    semata-mata dikelola dalam jenis investasi berjangka panjang. Juga tak lagi
    dana-dana itu dikelola dengan mengindahkan kaidah-kaidah risiko investasi.
    Dana-dana ini memasuki pasar, yang memberi fasilitas investasi mirip
    perjudian. Misalnya, banyak bursa saham di dunia yang memasang taruhan soal naik turunnya indeks saham alias bukan lagi terbatas pada naik turunnya saham sebuah perusahaan.

    Mereka terkadang bermain di composite index, indeks harga saham gabungan. Jangka waktu permainan bisa dalam hitungan detik, tak lagi menit.

    Dana-dana yang dikelola para manajer dana investasi ini memasuki pasar yang dianggap bisa “dimainkan” untuk meraup untung besar dalam waktu cepat, lalu keluar dari pasar setelah untung. Investor-investor yang naif akan menjadi sasaran empuk.

    Selama ini dana-dana tersebut bermain di kisaran saham, obligasi, dan valuta asing, seperti dollar AS dan mata uang kuat dunia lainnya.

    Mengapa dana-dana ini oleh Farrel disebut sebagai toxic derivatives?
    Berbagai kantor berita terkadang memberi julukan pada investor itu sebagai
    bloodied investors. Alasannya, mereka bisa menaikkan atau menurunkan saham, yang menyebabkan kerugian besar bagi pihak lain, yang bahkan disebut sebagai kerugian berdarah-darah karena magnitude-nya begitu luar biasa.

    Bahkan, investor itu yang disebut bloodied itu juga bisa mandi darah.
    Artinya, ia bisa rugi besar dan bangkrut, seperti dekade 1990-an, yang
    dialami Long Term Capital Management (AS). Jika masih bisa bergerak,
    bloodied investor ini makin mengamuk dan menggasak seperti banteng
    menyeruduk (raging bull), istilah yang dipakai Phil Flynn, analis dari
    perusahaan Alaron Trading (Chicago, AS), di situs Forbes.

    Buktinya sudah banyak. Bank sekaliber UBS (Swiss) pun sudah berdarah-darah dengan kerugian sekitar 12 miliar dollar AS. Setidaknya sudah ada kerugian 100 miliar dollar AS yang dialami lembaga keuangan internasional.

    *Konsumen dikorbankan*

    Permainan belum berakhir dan gejolak belum akan berhenti. Kini taruhannya
    bukan lagi semata-mata para investor termakan investor. Atau istilahnya,
    fenomena yang akan terjadi ke depan bukan lagi para investor saling memakan.

    Hideki Amikura, manajer valuta asing dari Nomura Trust and Banking, Tokyo,
    mengatakan, kini investor sedang jengkel dengan dollar AS, obligasi, dan
    harga-harga saham, yang menjadi mainan mereka.

    Para investor kini memasuki komoditas, yang permainannya sudah disediakan pula di bursa, seperti bursa logam London (London), bursa komoditas Chicago, dan di belahan dunia lainnya.

    Bukti sudah ada. Harga minyak dan gas terus meroket. Harga gandum sudah mencapai rekor, demikian pula kedelai atau tanaman biji-bijian. Demikian pula emas telah mencapai rekor baru.

    “Komoditas juga kini jadi safe haven,” kata Farrel. Investor ingin
    mengamankan investasinya dari kemerosotan dollar AS, kemerosotan harga saham dan obligasi dengan memburu komoditas.

    Taruhannya adalah konsumen. “Harga gas yang naik telah merogoh kantong
    konsumen,” demikian dikatakan harian New York Times edisi Kamis (28/2).

    Konsumen di Indonesia pun sudah menjadi korban berupa kenaikan harga-harga pangan, termasuk harga tempe, yang terbuat dari kedelai.

    Bagaimana menghentikan ini semua? Guru investor obligasi dunia asal AS, Bill Gross, mengatakan, ini semua akibat leluasanya para manajer dana investasi melakukan aktivitasnya. Regulasi pasar tak ada sehingga tak membatasi aksi-aksi mereka, yang terbukti sudah melahirkan gejolak besar.

    Inilah juga yang disuarakan Organisation for Economic Cooperation and
    Development (OECD) di pengujung tahun 2007. Peringatan serupa juga sudah disampaikan The Bank for International Settlements (BIS) dan juga sudah diingatkan delegasi Jerman pada pertemuan G-7 di Tokyo awal tahun ini.

    Namun, Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke dan Menkeu AS Henry Paulson menganggap sepi semua itu. “Mereka pembohong,” kata Farrel.

    Bagaimana Indonesia? Jika tak menjaga ketahanan pangan, konsumen akan
    membayar harga mahal sebagaimana rakyat sudah terbebani dengan kenaikan harga BBM dan listrik yang byar pet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: