Memulihkan Citra DPR

Memulihkan Citra DPR
TA Legowo

Skandal seks dan uang yang telah terungkap dan diduga dilakukan sejumlah anggota DPR belakangan ini pada dasarnya merupakan hasil dari rangkaian proses politik panjang.

Hal itu dimulai sejak seseorang bergabung dengan partai politik hingga yang bersangkutan bergelimang kekuasaan di DPR sampai akhirnya tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada tiap tahap rangkaian proses politik itu, kuasa, uang, dan seks mungkin sekali menjadi bagian yang embedded dan, karena itu, tidak terhindarkan.

Sebanyak tujuh anggota DPR dan satu mantan anggota DPR yang sedang menjalani proses pemeriksaan oleh KPK dan proses hukum oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), serta dua skandal seks oleh anggota DPR, hanya merupakan bagian kecil dari gunung es yang terlalu kokoh untuk diruntuhkan dalam sekali-dua tepuk. Namun, kasus-kasus itu cukup mengantar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tingkat kepercayaan publik di bawah nol.

Pertanyaannya kini, bagaimana memulihkan kepercayaan publik terhadap DPR? Pertanyaan serupa, bagaimana mengeluarkan DPR dari citra buruk sebagai arena skandal kuasa, uang, dan seks?

Ini merupakan masalah besar yang hampir mustahil diselesaikan hanya melalui proses peradilan Tipikor; atau bahkan melalui pelaksanaan hak angket kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) yang berhasil sekalipun.

Tiga entitas besar

Pada dasarnya, dalam diri anggota DPR terkait tiga entitas besar yang citra dan kredibilitas masing-masing akan terbawa oleh pasang surut perilaku anggota DPR. Ketiga entitas itu adalah, pertama, DPR sebagai arena yang terhormat untuk berkarya. Kedua, partai politik sebagai sumber perekrutan dari mana anggota DPR itu berasal. Ketiga, rakyat pemilih (konstituen) di daerah pemilihan anggota DPR bersangkutan.

Kepada ketiga entitas itu, seorang anggota DPR harus bertanggung jawab atas perilaku, tindakan, dan peran yang ditampilkan. Namun, dari ketiga entitas ini pula, anggota Dewan mendapat mandat dan predikat sebagai wakil rakyat. Melalui saringan oleh ketiga entitas ini, sebenarnya perilaku, tindakan, dan peran anggota DPR dapat dikontrol dan dipelihara agar tidak terjebak manipulasi dan pemanfaatan kekuasaan yang memalukan.

Di antara ketiga entitas itu, partai politik memainkan peran utama dalam melakukan upaya memelihara kualitas performance utusan-utusannya yang dikaryakan sebagai anggota DPR. Sebagai utusan partai, anggota DPR tidak pernah bisa lepas dari kerterikatan dengan partai politik. Tanda-tanda ikatan yang erat ini amat jelas. Sanksi berupa surat peringatan, bahkan pemberhentian anggota DPR, lazim dikeluarkan oleh partai politik yang menilai utusan-utusannya di DPR telah menyimpang dari garis kebijakan partai.

Kasus sanksi berupa surat peringatan kepada anggota DPR, Yudi Chrisnandi, karena menyatakan sikap berbeda dari fraksi atau partai politik induknya atas penggunaan hak angket DPR untuk penyelidikan kenaikan harga BBM adalah contoh nyata dan mutakhir dari kenyataan keterikatan yang erat antara anggota DPR dan partai politik induknya.

Karena itu, jika partai politik mau, dan seharusnya menjadi kewajibannya, untuk menegakkan disiplin atas performa utusan-utusannya sebagai anggota DPR, banyak penyimpangan perilaku anggota DPR yang melibatkan kuasa, uang, dan seks dapat dicegah sejak awal. Ini tidak dilakukan mungkin karena partai juga mendapat—langsung atau tidak langsung—”kenikmatan” dari berbagai skandal itu.

Partai-partai politik yang anggotanya diduga terlibat skandal uang dan seks sebagian telah mengambil tindakan tegas dengan memecatnya sebagai anggota Dewan atau anggota partai. Tetapi, sebagian lainnya belum menentukan tindakan. Ini tentu mencurigakan, ”jangan-jangan partai harus membela anggotanya untuk membayar kenikmatan yang didapatnya”.

Campur tangan partai

Politik adalah citra, yang terbangun dari persepsi masyarakat. Persepsi masyarakat yang negatif atas berbagai skandal kuasa, uang, dan seks menghasilkan citra DPR yang buruk. Mengembalikan citra DPR tidak menanti proses hukum hingga menghasilkan suatu keputusan hukum yang bersifat tetap dan mengikat. Citra menuntut tindakan cepat dan konkret.

Anggota DPR secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama hampir mustahil dapat melakukan tindakan yang cepat dan konkret untuk memulihkan citra DPR yang sudah buruk ini. Tampaknya, apa pun yang dilakukan anggota DPR saat ini, betapapun baiknya, tetap saja dicurigai.

Saat ini masyarakat pemilih (konstituen) terlalu jauh dan tidak punya kuasa untuk ”menghukum” anggota-anggota DPR secara sesaat. Demikian juga, DPR sebagai institusi meski mempunyai Badan Kehormatan (BK) hanya bisa prihatin atas berbagai skandal yang dilakukan anggota- anggotanya.

Tampaknya partai politik menjadi (tumpuan harapan) satu-satunya jalan untuk memulihkan citra DPR. Selain keterikatan anggota DPR dengan partai politik induknya amat erat, hubungan partai politik dengan anggota DPR bersifat subordinasi. Bahkan, oleh UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang ada, partai politik diberi wewenang untuk dapat menegakkan disiplin performa utusan-utusannya di lembaga perwakilan rakyat.

Dengan hubungan dan wewenang seperti itu, saatnya partai-partai politik membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka juga menginginkan DPR yang bersih dari skandal kuasa, uang, dan seks.

Namun, pembuktian ini hanya akan terjadi jika partai politik mempunyai landasan komitmen yang kuat atas bakti politik mereka kepada masyarakat melalui upaya penyelenggaraan good governance di DPR.

Tanpa campur tangan partai politik yang cepat dan konkret seperti itu hanya jalan buntu yang akan ditemui untuk memulihkan citra DPR saat ini. Partai politik bisa melakukan campur tangan ini. Masalahnya, maukah partai politik melakukannya?

TA Legowo

Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: