Ketik “Reg” Spasi Cinta

Budaya
Ketik “Reg” Spasi Cinta
Ilham Khoiri dan Budi Suwarna

Layanan pesan singkat alias SMS makin gencar menyerbu kita. Berbagai layanan pesan ditawarkan, mulai dari nasihat percintaan, perjodohan, ramalan, hingga mantra. Adakah ini geliat bisnis semata atau lebih jauh mencerminkan perayaan budaya yang serba dangkal?

Kamu ingin tato nama kamu di badan saya? Gampang! Ketik tato kirim ke nomor…. Kamu tinggal pilih foto saya, dan nama kamu akan ditato di badan saya. Ayo buruan sekarang juga!”

Begitu rayuan Dewi Persik dalam iklan di televisi yang mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya yang ditato. Dengan mengirimkan SMS ke nomor tertentu, siapa pun dijanjikan akan mendapat foto penyanyi dangdut itu. Bahkan, dalam foto itu, nama pengirim bakal ditatokan pada bagian tubuh Dewi yang sintal. Wow!

Teknologi mutakhir memang memungkinkan berbagai hal dikemas dan dikirimkan langsung ke telepon seluler pribadi, termasuk tato bertuliskan nama Anda di tubuh Dewi Persik. Di luar itu masih banyak layanan SMS lainnya.

Remaja yang lagi mabuk asmara, misalnya, bisa mencari nasihat cinta dari layanan SMS. Mereka yang bingung dengan masa depannya bisa menghubungi nomor tertentu untuk mendapatkan ramalan berdasarkan weton atau astrologi.

Ada juga kuis berhadiah yang dipandu gadis seksi di televisi saat dini hari. Kurang seru? Ada layanan yang menyuguhkan cerita seram atau nada dering (ringtone) bersuara hantu.

Daftar ini bisa diperpanjang. Untuk memikat konsumen, sebagian layanan melibatkan pesohor atau selebriti. Sebut saja artis cantik Sandra Dewi, dukun Ki Joko Bodo, peramal Mama Lauren, ilusionis Deddy Corbuzier, artis seksi Julia Perez, dan pemain sinetron Cinta Laura.

Pasar

Fenomena apakah semua itu? Layanan SMS yang tumbuh sejak tahun 2000-an dan kian marak beberapa tahun terakhir ini menggambarkan bisnis jasa komunikasi yang terus menggeliat. Setiap kiriman SMS adalah transaksi yang akhirnya menumpuk keuntungan menggiurkan.

Ari Sudrajat, CEO PT Braincode Solution, perusahaan penyedia layanan SMS, mengungkapkan, tarif layanan umumnya Rp 1.000-Rp 2.000 per sekali kirim SMS. Tarif itu biasanya dibagi antara operator telekomunikasi seluler dan penyedia layanan SMS. Pembagian umumnya 50:50, tetapi bisa 40 penyedia layanan 60 operator seluler. Jika menggandeng narasumber, penyedia layanan harus membagi keuntungannya.

Meski begitu, keuntungannya tetap besar, terutama jika dilihat dari jumlah total SMS masuk yang mencapai ribuan, bahkan jutaan. ”Kalau lagi ramai, bisa 300.000 SMS masuk dalam beberapa bulan,” kata Ari, yang menyediakan layanan SMS hadis, jodoh, tip kencan, horoskop, dan info lowongan kerja.

Bayangkan saja. Jika dari satu SMS dia rata-rata dapat 50 persen dari tarif SMS, katakanlah Rp 500 saja, penghasilan Ari bisa mencapai Rp 150 juta dalam beberapa bulan. Wah!

Siapa pelanggan layanan ini? Kebanyakan berasal dari kalangan anak baru gede, tetapi ada juga orang dewasa. Berawal dari iseng alias coba-coba, sebagian dari mereka keterusan sehingga rela merogoh kocek demi mencicipi sensasi yang bikin penasaran. ”Awalnya saya cuma coba-coba ikut daftar ramalan lewat SMS. Ternyata, kata-kata ramalannya memberi semangat hidup. Jadi, saya langganan sampai satu minggu,” kata Neneng Nurhabibi (42), guru di Naganraya, Aceh.

Itu juga dialami Saiful Anas (30), warga Pulo Gadung. Dia mengaku menghabiskan uang sekitar Rp 720.000 untuk langganan layanan info balap mobil Formula Satu selama dua bulan. ”Tapi, akhirnya saya berhenti karena terlalu boros,” katanya.

Pengamat komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali, menilai maraknya layanan SMS menunjukkan, sekarang apa pun yang bisa laku dijual segera dikomodifikasikan, mulai dari takhayul, seks, citra artis, kuis berhadiah, sampai dakwah.

”Persoalannya, komodifikasi kerap digarap dengan mengabaikan logika dan rasionalitas, hanya memberikan hiburan sesaat, menebarkan harapan kosong, atau malah mendorong orang berjudi. Di tengah pendidikan masyarakat yang relatif rendah, layanan itu bisa membuat bangsa ini makin konsumtif dan jadi obyek permainan industri kapitalisme saja,” katanya.

Bagi pengamat budaya dari Universitas Parahyangan Bandung, Bambang Sugiharto, masalah itu bisa tambah serius mengingat sebagian besar materi layanan SMS itu berupa humor aneh, gosip, takhayul, ramalan, atau citra selebriti yang dangkal. Semua itu menawarkan pesona kebaruan yang mendebarkan dan menghibur, tetapi sebenarnya kosong, sesaat, dan serba permukaan.

Meminjam istilah filsuf eksistensial, Martin Heidegger, gejala itu menggambarkan gelagat kedangkalan dunia kontemporer. Masyarakat merayakan omong kosong karena tidak mampu menghadapi persoalan hidup sebenarnya yang mencemaskan. Inilah kenaifan budaya yang membenamkan diri pada segala yang remeh-temeh, dangkal, dan hanya mengambil efek emosional dari teknologi informasi.

”Gejala ini bisa menggerogoti produktivitas, etos kerja, serta mengurangi kemampuan orang melihat persoalan yang substansial karena telanjur diharu biru oleh permukaan,” katanya. Bambang berharap teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberi inspirasi demi hidup yang lebih berkualitas.

Dalam konteks ini, Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Komaruddin Hidayat mencoba masuk lewat layanan SMS, Wisdom of Life. Layanan yang dimulai awal Juni itu kini punya 1.000-an pelanggan. ”Saya ingin berbagi renungan hidup dari bacaan, pengalaman, dan gagasan yang saya pikirkan. Semoga itu bisa memperkaya dan memberi alternatif di tengah banyak SMS yang main-main. Hasilnya untuk fund rising lembaga pendidikan di Aceh,” katanya.

Pengamat politik, Eep Saifullah Fatah, melakukan hal yang sama. Sejak Juni dia memberikan layanan SMS pendidikan politik. Menurutnya, SMS seharusnya tidak hanya dijadikan sarana ber-ha-ha-hi-hi, tetapi bisa jadi alat penyadaran politik.

One Response to “Ketik “Reg” Spasi Cinta”

  1. agungk Says:

    persis dengan industri mie instant…
    malas untuk berpikir. maunya ikut menikmati kue instant dengan ngampang.
    bedanya, mie instant masih menawarkan manfaat karena memang mengenyangkan. sedangkan sms komersial ini hanya semata-mata alat untuk menguras uang dari orang-orang kelas bawah yang mudah tergoda oleh iming-iming mimpi karena dalam kenyataan sehari-hari mereka sudah terjepit oleh kerasnya hidup.
    para penyelenggara sms ini tidak ubanya parasit atau lintah yang menggerogoti korban-korbannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: