Agenda yang Tak Pernah Tuntas

Agenda yang Tak Pernah Tuntas

Indonesia adalah negeri paradoks dan ironi. Dalam liberalisasi ekonomi dan perdagangan, ia adalah salah satu yang paling agresif di kawasan Asia, tetapi pada saat yang sama ia juga salah satu yang kelihatan paling tak siap. Pemerintah yang kebablasan dalam liberalisasi atau memang para pelaku tidak pernah dipersiapkan? Jika tidak siap, kapan siap?

arif rata-rata perdagangan Indonesia sekarang ini lebih rendah daripada rata-rata negara-negara berkembang lain di Asia. Rezim investasi dan lalu lintas devisa juga terbuka lebar. Namun, sampai sekarang kalangan politisi dan pelaku usaha masih maju mundur dengan globalisasi dan liberalisasi.

Ketidaksiapan juga terlihat dari ketidakmampuan memanfaatkan peluang ekspansi dan liberalisasi pasar global. Kekhawatiran para pelaku nasional akan kalah dalam persaingan, tidak siap, atau Indonesia hanya akan menjadi pasar adalah argumen yang kerap kali muncul.

Menurut Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi Soesatro (Kebijakan Persaingan, Daya Saing, Liberalisasi, Globalisasi, Regionalisasi, dan Semua Itu), lebih populer bagi para politisi sekarang ini untuk meneriakkan retorika antiglobalisasi ketimbang bekerja keras untuk membuktikan diri bahwa mereka mampu menjadi kampiun globalisasi.

Globalisasi menjadi kambing hitam bagi pejabat pemerintah dan politisi untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Benarkah demikian?

Ini pertanyaan yang harus dijawab sendiri oleh pemerintah. Tetapi, satu hal yang pasti, beberapa faktor penghambat daya saing yang membuat Indonesia tak pernah siap, seperti ekonomi biaya tinggi, buruknya infrastruktur, maraknya pungli, biaya siluman, ongkos keamanan, dan korupsi, seluruhnya ada dalam domain pemerintah.

Sayangnya, ini pekerjaan rumah yang tak pernah berhasil diselesaikan oleh pemerintah sampai sekarang.

Banyak kepentingan

Hadi sendiri melihat, dari awal proses liberalisasi ekonomi di Indonesia memang tak mulus. Sejak awal, proses deregulasi menghadapi banyak tantangan, terutama dari kelompok kepentingan yang takut kehilangan perlakuan istimewa dan proteksi dari pemerintah jika pasar dibuka.

”Proses menjadi semakin sulit manakala berbagai langkah yang harus diambil secara langsung merugikan kepentingan anggota keluarga dan para kroni Presiden Soeharto,” ujarnya. Ia melihat, proses penyesuaian ekonomi sebenarnya tak pernah dilaksanakan secara tuntas.

Atas nama argumen melindungi ”industri bayi” (infant industries) atau industri strategis, ada sektor-sektor yang dikecualikan dari persaingan. ”Meskipun ekonomi telah dideregulasi, dalam banyak bidang tidak terdapat iklim persaingan yang sehat karena tetap ada kelompok-kelompok usaha yang diistimewakan. Bahkan, kebijakan ekonomi cenderung didikte oleh kelompok-kelompok itu,” ujarnya.

Ia mencontohkan, kasus program mobil nasional sebelum krisis 1997. Karena kuatnya kelompok kepentingan, bahkan dalam era liberalisasi, yang terjadi justru timbul monopoli-monopoli baru, seperti terjadi pada kasus tata niaga jeruk dan cengkih.

Proses liberalisasi yang terjadi juga tak didukung oleh proses penyesuaian politik dan sosial, padahal jelas liberalisasi ekonomi akan membawa berbagai dampak politik dan sosial. Secara sosial, masyarakat tak dipersiapakan. Yang terjadi, modal sosial justru mengalami kehancuran.

Akibatnya, dari sisi prasyarat ekonomi, sosial, dan politik, Indonesia sama sekali tak siap untuk berkiprah dalam proses globalisasi. Indonesia juga sempat mengalami apa yang disebut ”kejenuhan” (deregulation fatique) yang membuat proses deregulasi dan liberalisasi juga mandek pada awal 1990-an setelah serangkaian deregulasi dan liberalisasi agresif yang ditempuh sejak 1970-an dan awal 1980-an.

Hadi sendiri termasuk yang berpendapat para produsen Indonesia harus dipaksa dulu agar bisa efisien. Dalam hal ini, liberalisasi atau persaingan pasar dianggap sebagai medan latihan dan pendisiplinan bagi para pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing ekonomi.

Tetapi, apa artinya persaingan jika tak dibarengi dengan kebijakan pengembangan industri yang terintegratif dan berdaya saing serta upaya penghapusan ekonomi biaya tinggi? Tanpa itu, yang terjadi bisa seperti sekarang, industri dalam negeri berguguran karena tidak tak mampu bersaing di pasar dalam negeri sendiri dengan produk impor.

Menurut Hadi, gulung tikarnya sejumlah industri dalam beberapa tahun ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar liberalisasi perdagangan. Faktor lain yang banyak dikeluhkan pengusaha selama ini adalah ekonomi biaya tinggi dan semakin mahalnya input produksi (termasuk BBM, listrik, tenaga kerja, dan bahan baku), selain iklim investasi yang tak kondusif dan tak adanya kepastian usaha.

Sejak krisis dan ditambah kini lonjakan harga minyak dan komoditas pangan global, hampir semua sektor menderita. Indonesia, seperti dikatakan mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono, menghadapi kenyataan pahit menyangkut kekurangsiapan melaksanakan kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya dalam komitmen liberalisasi perdagangan.

Termasuk yang paling sensitif, tentu saja liberalisasi perdagangan di sektor pertanian yang dinilai terlalu kebablasan. Akibatnya, yang menikmati justru pemain negara lain yang berkepentingan masuk ke Indonesia, sedangkan produk Indonesia sendiri terkendala masuk ke pasar lain yang restriktif.

Sudah waktunya sekarang ini semua pihak lebih fokus mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi bagian masing-masing dalam menyongsong era globalisasi yang lebih luas. Sebab, akhirnya, Indonesia sendiri yang menentukan akan menjadi pemenang atau pecundang dalam globalisasi dan liberalisasi ekonomi global. (tat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: