Kejahatan Ryan dan Koruptor

Kejahatan Ryan dan Koruptor
Ignatius Haryanto

Mana kejahatan yang lebih buas: pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansyah (Ryan) atau korupsi oleh para koruptor?

Kedua hal ini menjadi topik pembicaraan khalayak dan liputan media dalam beberapa minggu terakhir karena dua hal. Kejahatan yang dilakukan Ryan tergolong fenomenal karena ia diduga telah membunuh lebih dari 10 orang di beberapa kota. Sementara itu, korupsi yang dilakukan oleh anggota Dewan dengan menerima pemberian dari pihak Bank Indonesia beberapa tahun silam mencakup nilai hingga miliaran rupiah, dan diduga menyangkut hampir seluruh jajaran pemimpin dan anggota komisi di DPR.

Keduanya patut disejajarkan untuk kita kembalikan pada sebuah pemikiran: mana yang lebih jahat bagi masyarakat, seorang pemuda berdarah dingin atau sekelompok politikus dan mereka yang disebut sebagai wakil rakyat, tetapi telah mempermainkan kepercayaan rakyat kepadanya dengan korupsi untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya?

Kesadaran bersama-sama

Kedua kasus ini pula patut disejajarkan, karena di sini kita bicara tentang ambang batas toleransi kesadaran yang bisa diberikan oleh seorang manusia normal terhadap fenomena yang dihadapi ini. Kasus Ryan mengejutkan kita bahwa rupanya ambang batas toleransi kesadaran pribadi dari seorang Ryan telah terlampaui sehingga pembunuhan demi pembunuhan terjadi bak sekadar menghitung statistik belaka.

Sementara itu, kejahatan korupsi yang dilakukan para anggota Dewan dilakukan dengan suatu kesadaran bersama-sama dan itu juga artinya telah melewati ambang batas toleransi kesadaran bersama. Para pihak yang terlibat dalam korupsi gotong royong ini mungkin mirip dengan apa yang pernah digambarkan Elias Canetti (1984) sebagai fenomena ”berlindung di balik kerumunan”.

”Hanya dalam suatu kerumunanlah, manusia akan merasa dirinya bebas dari persentuhan dengan orang lain. Kerumunanlah satu-satunya situasi di mana ketakutan berubah menjadi kebalikannya (keberanian). Kerumunan yang ia kehendaki adalah kerumunan yang solid, yang membuat tubuh saling bersentuhan, sedemikian rupa sehingga ia tak lagi sadar siapa yang menyentuh dirinya dan siapa yang ia sentuh. Segera setelah ia menyerahkan dirinya pada kerumunan, maka ia kehilangan rasa takut itu.”

Begitulah paparan yang digambarkan Elias Canetti, penulis pemenang Nobel Sastra asal Bulgaria yang lama tinggal di Jerman dalam bukunya yang terkenal, Crowds and Power (Masse und Macht).

Kejahatan Ryan masih terus diselidiki oleh aparat keamanan, sementara kejahatan bergotong royong yang dilakukan oleh para anggota Dewan masih menunggu berbagai proses politik yang mengikutinya. Bisa saja ada yang ditahan, bisa saja ada yang kemudian terbebas dari jeratan hukum. Buat Ryan ini adalah kasus kriminal dan ini telah diliput oleh berbagai media, dan ditaruhnya dalam konteks liputan kriminal. Sementara itu, kejahatan kerah putih anggota Dewan ditaruh dalam segmen ”berita-berita politik atau nasional”. Ironis, kejahatan orang kecil mudah dimasukkan dalam segmen kriminal (bahkan juga dihina-hina oleh presenter info- tainment), sementara kejahatan para tuan berjas ini masih jauh dari jerat kriminal.

Terhadap kasus Ryan dan kasus korupsi para anggota Dewan kita berharap hukum akan tampil adil, dan menghukum setimpal mereka yang terbukti melakukan kejahatan, serta membuat jera mereka-mereka yang tengah mengikuti atau sedang berpikir akan mengikuti jejak, baik Ryan maupun anggota Dewan lainnya.

Keterpurukan bangsa?

Kita mungkin akan bertanya-tanya, konteks personal dan sosial macam apa yang menghasilkan dua fenomena yang melintasi batas toleransi kesadaran diri tersebut? Apakah ini cerminan dari suatu keterpurukan bangsa? Apakah ini cermin bagaimana sosok individu yang terpukau dengan glamournya dunia sekitarnya dan merasa ingin tampil sebagai pemenang dalam dunia glamour tersebut? Apakah ini cermin bahwa suara hati ataupun Ego—dalam terminologi Sigmund Freud soal Id, Ego dan Superego—sudah mati dan tak lagi jadi pertimbangan dalam bertindak? Ataukah memang sudah basi bicara soal suara hati karena tindak manusia tak lebih dari pelampisan terhadap dunia materi ini?

Efek jera hukuman yang diberikan kepada mereka yang terbukti bersalah di sini diperlukan untuk meminimalkan terulangnya kasus ini. Namun, tak ada jaminan sungguh bahwa fenomena pembunuhan dengan sedemikian tenang dilakukan oleh ”Ryan-Ryan” lainnya, dan pula tak ada jaminan bahwa setelah belasan atau puluhan anggota Dewan menjadi terdakwa kasus korupsi, kejahatan ini akan perlahan-lahan pudar dari Indonesia.

Kita tercengang dengan dilewatinya ambang batas toleransi kesadaran manusia. Baik dalam kasus Ryan maupun dalam kasus pemberian suap dari pihak Bank Indonesia dan pihak anggota Dewan terhormat. It takes two to tango, dan ini sodokan yang juga perlu ditujukan kepada para pejabat Bank sentral Indonesia, penguasa lalu lintas keuangan nasional. Kenyataan ini pula menambah ketercengangan kita, bagaimana mungkin sebuah institusi yang dipercaya menjaga kredibilitas keuangan nasional justru melakukan hal yang nista tersebut. Sekali lagi, it takes two to tango. Dua-duanya sami mawon, tak lagi menimbang batas toleransi kesadaran manusia.

Apa kerugian yang dihadapi masyarakat dengan dua kasus ini? Kasus Ryan mengajak masyarakat tak buru-buru percaya kepada pemuda atau orang lain dengan penampilan manis, tutur kata lemah lembut, dan bersikap sopan. Kepercayaan masyarakat tercederai dan banyak pihak merasa telah dibohongi.

Sedangkan dalam kasus korupsi para anggota Dewan, apa kerugian masyarakat? Lebih besar lagi. Masyarakat makin tak percaya kepada para politisi atau para wakil rakyatnya. Wakil rakyat telah berkhianat kepada rakyat. Lebih jauh lagi, seandainya nilai uang yang telah menjadi suap itu disulap dalam bentuk pembangunan gedung sekolah, misalnya, ini artinya ribuan siswa telah dirugikan dengan suap seperti ini. Jika uang yang sama diberikan untuk menambah fasilitas kesehatan, ratusan orang akan terselamatkan. Sementara gedung sekolah reyot membuat siswa tak nyaman belajar, uang bernilai sama hanya dipakai untuk menyuap anggota Dewan untuk tidak menghalangi upaya politik dari Bank sentral Indonesia. Betapa ironisnya dunia kita.

Ignatius Haryanto
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: