Ajakan Mengembalikan Kebaikan Bersama

Hak Asasi
Ajakan Mengembalikan Kebaikan Bersama
Maria Hartiningsih dan B Josie Susilo Hardianto

Empat tahun setelah tewasnya Munir, peristiwa di atas pesawat itu masih keras bergema. Munir telah menjadi simbol perjuangan untuk mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan. Keadilan untuk Munir adalah keadilan untuk semua.

”Saya terus memegang pesan almarhum bahwa perjuangan mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan ibarat mengejar awan. Mungkin kita tidak sempat merasakan hasilnya, tetapi generasi mendatang akan paham bahwa pelanggaran hak asasi manusia oleh negara harus dipertanggungjawabkan,” ujar Ny Sumarsih, orangtua almarhum BR Norma Irawan atau Wawan, korban tragedi Semanggi II, November 1998.

Penerima Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2004 itu adalah satu dari sekitar 800 mahasiswa, masyarakat korban, aktivis, dan ilmuwan yang menghadiri kuliah umum alternatif untuk mengenang Munir di aula Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Jumat petang (5/9). Suciwati, istri Munir, dan dua anak mereka tampak hadir dalam acara itu.

Memorial lecture bertajuk ”Membangun Peradaban dengan Politik Hak Asasi Manusia” itu merupakan yang kedua diselenggarakan di Jakarta, atau ketiga setelah Utrecht, Belanda.

Sumarsih masih bertemu Munir seminggu sebelum keberangkatannya ke Belanda untuk melanjutkan studi. Munir secara intensif mendampingi Sumarsih dan keluarga korban lainnya beraudiensi dalam upaya mengungkapkan kebenaran, termasuk ke lembaga dan ke rumah petinggi militer. Munir pula yang menjelaskan posisi Wawan dan Sumarsih dalam perjuangan itu.

Bara perjuangan

Dari Munir pula Sumarsih memahami sebaris kalimat penyair Cile, Pablo Neruda, ”Action is the mother of hope”. Kematian Munir yang tidak wajar menjadi seperti bara dalam diri Sumarsih untuk terus berjuang.

Sejak 80 pekan lalu, ia bersama teman-temannya dari masyarakat korban peristiwa politik, tak kenal lelah mengikuti ”ritual Kamisan”. Mereka duduk diam di depan Istana Negara sambil merentangkan spanduk-spanduk bertema keadilan untuk korban.

Acara yang berlangsung sekitar satu jam setiap hari Kamis itu merupakan cara damai untuk mengingatkan negara akan utang yang tak pernah dibayar dan menuntut tanggung jawab negara terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia yang dilakukan aparatnya terhadap korban dan anggota keluarganya.

Peristiwa tewasnya Munir itu tetap hidup tak hanya di benak para pejuang hak asasi manusia, tetapi juga di benak banyak warga kebanyakan. Setelah terdakwa baru berhasil diseret ke pengadilan, peristiwa itu bahkan semakin jelas, sehingga sulit meletakkannya di ruang ”masa lalu”.

Di mimbar kuliah umum alternatif itu, Dr Karlina Supeli, ilmuwan filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, mengungkapkan pengalamannya.

”Kami mendengarnya dari beberapa warga sederhana di desa-desa yang berbeda sepanjang perjalanan kami di Aceh,” tutur Karlina dengan suara lembut, tetapi terasa sangat bertenaga.

”Seorang perempuan di suatu desa di Kecamatan Tiro malah memilih mendiskusikan kasus pembunuhan Munir dan bukannya mengisahkan penembakan suaminya. Sedikit berbisik ia bertanya, ’Bagaimana kelanjutan penyelidikannya’.”

Seperti dikemukakan Prof Dr Toety Herati N Roosseno, Munir hadir dengan hidup dalam diri orang-orang yang percaya bahwa kebenaran bisa diungkapkan dan keadilan bisa ditegakkan.

Kebaikan bersama

Kuliah umum alternatif itu menarik karena diberikan dua perempuan ilmuwan filsafat dan pekerja kemanusiaan, Prof Dr Toety Heraty N Roosseno dan Dr Karlina Supelli. Budayawan Mohamad Sobary melengkapinya dengan renungan kritis mengenai peristiwa tewasnya Munir dan acara-acara yang dilakukan untuk mengenangnya.

Karlina mengingatkan, alangkah kurusnya perjuangan hak asasi yang selesai di tuntutan hukum. Thomas Aquinas, ketika mempelajari kembali karya-karya Aristoteles melalui para pemikir Muslim, sampai pada kesimpulan, tujuan hukum pada akhirnya adalah kebaikan bersama (bonum commune).

Kekuatan konsep hak asasi manusia terletak pada penerimaan akan martabat manusia yang bernilai pada dirinya sendiri dan tidak dapat dilenyapkan. Hak asasi manusia merupakan syarat minimum agar dalam suatu masyarakat seseorang dapat memenuhi eksistensinya sebagai manusia.

”Pelanggaran hak asasi manusia terjadi karena institusi publik yang berfungsi melayani dan menjaga kepentingan publik tidak bekerja,” kata Karlina, ”Dengan kata lain, pemenuhan hak asasi manusia lumpuh karena konsep ’kebaikan bersama’ yang diwakili institusi publik, lolos dari pengamatan kita.”

Karlina memaparkan faktanya: dalam sejarah panjang Indonesia tak pernah berhasil dilakukan tindak pengusutan, apalagi pendakwaan terhadap para penjahat kelas kakap. Tidak pernah ada rasa takut karena sistem hukum kita ibarat sarang laba-laba. Ia menjaring serangga, tetapi berantakan terempas burung yang melintas.

Baik Toeti maupun Karlina menggarisbawahi gejala lupa dan wabah pembiaran. Toeti mengingatkan, sistem pengaturan hak asasi manusia merupakan rumusan suatu kesepakatan antara negara-negara. Akan tetapi, sistem pengaturan menjadi identik dengan sistem kekuasaan yang kemudian membungkam, menindas, bahkan membunuh. Namun, Sobari menegaskan, tanpa kesepakatan internasional pun, hak asasi manusia adalah hak asli yang tak boleh dilanggar.

Karlina menambahkan, ”Pelanggaran hak asasi pertama-tama adalah pelanggaran atas kemanusiaan seseorang, tetapi juga, dan ini tak kalah utama, adalah penghancuran keutamaan publik, hal-hal luhur yang kita yakini sebagai pilar utama kehidupan bersama.”

Ia menutup dengan ajakan: menerima tawaran menjadi ”Sahabat Munir”. ”Kita menerima bukan atas solidaritas sempit, melainkan demi solidaritas sebagai kepekaan sosial mengembalikan kebaikan bersama.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: